[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: DIMANA SUAMI EVA ARNAZ?



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 22/I/30 Mei - 5 Juni 98
------------------------------

DIMANA SUAMI EVA ARNAZ?

(POLITIK): Dedy Hamdun Hilang saat kampanye 97. Para saksi menyatakan ia
telah keluar dari tahanan bawah tanah September 1997. Lalu dimana?

Artis cantik Eva Arnaz tiba-tiba saja pada Rabu (27/5)lalu datang ke KONTRAS
di YLBHI Jakarta. Di kantor ini Eva dengan memakai ikat kepala "Reformasi
Total" yang disertai kerabatnya datang bukan untuk syuting film maupun
perihal yang menyangkut keartisannya. Tapi, untuk mencari tahu keberadaan
Dedi Hamdun, suaminya yang sudah setahun lebih tidak kembali.

Dedy, aktifis PPP itu hilang sejak massa kampanye 29 Mei 1997. Waktu itu
Dedy sangat terlibat banyak dalam pengerahan massa "mega bintang" dalam
setiap kampanye. Ia dianggap sebagai orang yang berbahaya.

Eva waktu itu telah mencari kesana-kemari, termasuk dilaporkan ke Polda
Metro Jaya dan Komnas HAM. Tapi hasilnya tetap nihil.

Walaupun akhirnya Eva agak sedikit lega, ketika ada seorang perwira tinggi
ABRI meyakinkannya bahwa Dedy sedang diculik dan "dibina" di sebuah kesatuan
ABRI. Karena informasi itulah, Eva minta agar pihak manapun yang sekarang
ini sedang "mengamankan" suaminya untuk segera mengembalikan kepada keluarga.

Memang, dari kesaksian mereka yang pernah diculik, seperti Pius, Desmon
maupun Andi Arif, Dedi sudah bebas. Sony dan Rian pernah bercerita bahwa
Dedy pernah disekap di tempat mereka disekap. Namun, menurut Sony, setelah
empat bulan, sejak bulan September 1997 Dedy dikeluarkan dari tahanan bawah
tanah dan tidak pernah datang kembali.

"Tolong kalau kalian keluar duluan beritahukan keluarga saya dan ceritakan
semuanya. Begitu pula nanti kalau saya keluar duluan, saya juga akan
ceritakan keberadaan kita di sini," kata Pius menirukan perjanjiannya dengan
Sony.

Sony dan Rian (Yani Avri) adalah aktifis PDI pro-Megawati yang diculik
lantaran dituduh akan meledakkan bom di di Kelapa Gading, April 1997. 

Rian sempat ditahan di Kodim Jakarta Utara, tapi dilepas. Ia ditangkap
kembali di luar Kodim oleh pasukan penculik. Sedangkan Sonny, bekas preman
yang kemudian menjadi pendukung gigih Megawati ini, diciduk 
bersama Rian dengan tuduhan berencana merakit bom. 

Namun, menurut penuturan Pius Lustrilanang yang pernah disekap satu blok
tahanan bawah tanah bersama Sony dan Rian, mengaku bahwa kedua aktivis PDI
itu dikeluarkan dari tahanan sejak 12 Maret 1998. Namun anehnya sampai
sekarang tak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan keduanya.

Yang juga masih menjadi teka-teki tim pencari orang hilang adalah keberadaan
Bimo Petrus Anugerah, mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta dan Suyat, 22 tahun,
mahasiswa FISIP Universitas Sriwedari, Solo. Sampai saat ini tak ada satupun
saksi maupun bukti tentang keberadaannya. Bimo hilang sejak 31 Maret 1998.
Sedangkan Suyat ditangkap lima orang yang mengaku anggota Polres Solo, 12
Februari 1998. Diduga, keduanya diculik lantaran aktifitasnya di Partai
Rakyat Demokratik.

Berbagai pihak menduga, bahwa operasi penculikan, penembakan mahasiswa
Trisakti serta provokasi huru-hara dilakukan oleh sebuah operasi intelijen
sebuah kelompok militer yang berpayung dalam sebuah kesatuan di ABRI. Enam
belas perwira militer yang terlibat penembakan mahasiswa di Universitas
Trisakti sudah diumumkan dan akan segera diadili. 

Pimpinan ABRI terkesan ragu-ragu dan tampak lamban dalam penanganan kasus
kekerasan politik ini. Pengumuman tersebut belumlah cukup untuk meredakan
tuntutan masyarakat. Sebab, dalam struktur organisasi ABRI sudah jelas.
Pimpinannya lah yang seharusnya bertanggungjawab. Tapi dimana mereka?

Begitu pula indikasi atau latar belakang penculikan, siapa dan oleh siapa
mereka diculik sudah diketahui.Tapi mengapa tim pencari Fakta ABRI belum
juga mengumumkan hasil-hasilnya? 

Atau, jangan-jangan pencopotan Letjen TNI Prabowo Subiyanto dari jabatannya
di Pangkostrad adalah salah satu cara mempermudah pemeriksaan terhadap
menantu bekas presiden, Soeharto itu. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com