[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
MateBEAN> PAWAI UNTUK PERSATUAN DAN REFERENDUM
PAWAI UNTUK PERSATUAN DAN REFERENDUM
Dili (MateBEAN, 24/6/96), Sekitar 50 ribu massa turun ke
jalan-jalan ibu kota Dili menuntut referendum bagi penyelesaian masalah
Timor Timur. Menurut sumber MateBEAN dari Dili, massa berarakan
mengelilingi kota Dili.
Arakan massa yang terdiri dari pelajar sekolah dasar dan menengah,
mahasiswa dan pemuda serta masyarakat sipil itu dimulai sekitar pukul 09.00
WITA dari Kampus Universitas Timor Timur melewati jalan-jalan utama di
kota Dili. Dari Kampus Untim pawai melewati SMA Negeri I, Kantor DPRD,
Colmera, Kantor Gubernur, Fatuhada, stadion Municipal Dili, Lapangan
Pramuka, Becora, STM Negeri, Asrama 744 Kompi C, Bairo Pite, Monumen
Comoro dan berakhir di Kantor DPRD Tk I Dili di Jalan Kaikoli.
Di depan Kantor DPRD masa mendengarkan aksi mimbar bebas yang dilakukan
oleh beberapa mahasiswa dan tokoh masyarakat setempat. Tampil dalam acara
mimbar bebas yang diatur oleh salah satu mahasiswi Untim Teresa Maria de
Carvalho itu, tokoh dari GRPRTT Leandro Isac, Ketua dewan solidaritas
mahasiswa Untim Antero Bendito, dan beberapa mahsiswa Untim antara lain
Jose Aparicio, Helio dan alumni Untim Lamberto Viana.
Tema pidato yang dibawakan para orator tersebut adalah persatuan
menuju referendum. "Untuk menghadapi Referendum yang kita tuntut, semua
lapisan masyarakat di timor Timur harus berrsatu," demikian Leandro Isac
dari GRPRTT kepada khalayak yang mengikuti pawai tersebut.
Sementara Antero menekankan pentingnya semua kaum muda untuk
menghayati semangat "Unidade Nacional da Resistencia" (Persatuan
Nasional Perjuangan) yang dipelopori oleh Xanana Gusmao pada 80-an
sebagai pusat spektrum sikap politik semua nasionalis Timor Timur.
Dalam aksi tersebut terlihat juga berbagai spanduk dan poster
yang berisi kata-kata yang mengandung semangat dan tuntutan referendum.
"Liberta Xanana! Penarikan tentara Indonesia dari Timor Leste sebgai
prasyarat bagi diadakannya Referndum," demikian bunyi spanduk dan poster
yang dibawa massa.
Sementara itu, di Jakarta beredar berita bahwa Gubernur Abilio
Osorio Soares sedang menjalankan move politik baru yang menurut beberapa
mahsiswa Timor Timur adalah rekayasa baru militer Indonesia untuk melegi-
timasi eksistesinya di Timor Timur. Sumber tersebut mengatakan bahwa tentara
Indonesia sedang memaksa Abilio untuk mengumpulkan tanda tangan para pemimpin
tradisional (liurai) Timor Timur dalam sebuah petisi yang akan disampaikan
kepada Pemerintah RI. Isi petisi tersebut adalah mendesak Pemerintah
Indonesia untuk memberikan status otonomi khusus bagi timor timur. Hal mana
telah disampaikan Menlu RI Ali Alatas kepada PBB beberapa hari yang lalu.
Banyak mahasiswa Timor Timur memandang keterlibatan Abilio
dalam "move" ini sangat berlawanan dengan pernyataannya dalam sebuah
wawancara denga stasiun TVRI. Dalam wawancaranya yang dilakukan setelah
bertemu dengan Xanana Gusmao, Abilio menyatakan bahwa Xanana sepaham dengan
idenya. Ide yang dimaksud Abilio dalam wawancara itu adalah bahwa untuk
memperoleh solusi yang langgeng bagi persoalan Timor timur, harus ada
dialog yang terbuka antara orang Timor timur, baik dari Fretilin, UDT dan
APODETI.
Namun, dengan tampil sebagai pelopor move politik baru ini,
banyak orang menilai jangan-jangan ia hanya ingin mendapatkan simpati
masyarakat Timor Timur bagi move politiknya itu. Banyak dugaan, peranan
militer sangat kuat melatarbelakangi pertemuan Abilio dengan Xanana
Gusmao.
Xanana sendiri kepada kantor berita Reuters menyatakan menolak
setiap bentuk otonomi tanpa melibatkan rakyat Timor Timur.
"Referendum adalah salah cara terbaik bagi penyelesaian masalah
Timor Timur," tegas Xanana pada Reuters saat hari ulang tahunnya yang
ke 52.
Sementara itu, Uskup Belo dan Basilio sedang berada di Jakarta
untuk bertemu dengan Presiden RI Habibie. Belum diketahui agenda khusus
yang akan dibicarakan kedua tokoh tersebut dengan Habibie.***