[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR---PANGDAM JAYA DAN KAPOLRI DIGANTI



PANGDAM JAYA DAN KAPOLRI DIGANTI

        JAKARTA (SiaR, 26/6/98), Pangdam Jaya, Mayjen Syafrie Syamsuddin dan
Kapolri Jendral Dibyo Widodo diganti, Kamis (25/6) lalu. Sebelumnya SiaR
beberapa waktu lalu telah memberitakan pergantian di kalangan elit ABRI akan
mengenai Panglima ABRI Jendral Wiranto. Namun, di Semarang, Selasa (23/6)
lalu, Wiranto memantah berita itu. 

        Sumber-sumber SiaR mengatakan memang ada kalangan yang menginginkan
Wiranto diganti karena jendral ini dianggap terlalu dekat dengan mantan
Presiden Soeharto dan menghalang-halangi proses reformasi dengan
ancaman-ancamannya. Kabar yang beredar mengatakan sejumlah kalangan meminta
Presiden BJ Habibie menggunakan kewenangannya untuk menggeser Wiranto. 

        "Ia terlalu kuat untuk digeser," kata sumber itu.

        Digesernya Syafrie dari jabatan strategis di ibukota itu berkaitan
dengan tuduhan yang beredar di kalangan masyarakat bahwa jendral ganteng itu
terlibat dalam penculikan para aktifis politik, peristiwa penembakan para
mahasiswa Universitas Tri Sakti dan mengorganisir perusuhan 14 Mei di Jakarta. 
"Untuk memperbaiki citra ABRI, Sjafrie memang harus digeser setelah Prabowo
digeser lebih dulu" kata seorang pengamat.

        Namun dicopotnya Sjafrie menurut sejumlah wartawan asing masih
berkaitan dengan tuduhan anak-anak Soeharto bahwa Sjafrie dan Prabowo tak
berbuat apa-apa untuk mempertahankan kekuasaan Soeharto. "Sjafrie dan
Prabowo dituduh pengkhianat oleh anak-anak Soeharto karena membiarkan
mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan tak mengusir mereka," kata seorang
wartawan asing yang pernah mewawancarai Prabowo soal seputar pengunduran
diri Soeharto.

        Tentang penggantian Kapolri sejumlah sumber yang dihubungi SiaR
mengatakan, Dibyo dianggap keluar dari jalur komando ABRI berkaitan dengan
sikapnya soal kasus penembakan para mahasiswa Trisakti. Dibyo misalnya
membiar- kan opini yang berkembang bahwa Polri harus keluar dari ABRI dan
membiarkan sebuah tim yang dipimpin Kaditserse Polda Metro Jaya, Kolonel
Gorries Mere melakukan penyelidikan independen soal kasus Tri Sakti. 

        "Dibyo juga dianggap mbalelo karena membiarkan Polda Metro Jaya
menyewa Adnan Buyung Nasution dan kawan-kawannya yang dikawatirkan bisa
mengobrak-abrik skenario sidang di Mahkamah Militer," ujar sumber SiaR.

        Di luar penggantian itu, Mabes ABRI kini mulai membatasi kekuasaan
para kepala staf angkatan dan Kapolri di luar Angkatan Darat. Pangkat KSAL,
KSAU dan Kapolri kini dibatasi hanya sampai bintang tiga. Sebelum ini, KSAL,
KSAU dan Kapolri berpangkat bintang empat. Kini hanya KSAD yang berpangkat
jendral. Pembatasan pangkat ini dikuatirkan akan menimbulkan ketidaksenangan
di kalangan Angkatan Laut dan Angkatan Udara.***