[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
MateBEAN> ABILIO KERAHKAN WARGA ATAMBUA UNTUK UNJUK RASA
ABILIO KERAHKAN WARGA ATAMBUA UNTUK UNJUK RASA
DILI (MateBEAN, 26/6/98), Ribuan warga Atambua yang masuk dalam
wilayah RI, yaitu Nusa Tenggara Timur, dikerahkan oleh Gubernur Abilio
Soares untuk melalukan aksi demonstrasi pro-integrasi di kota Dili. Hal
ini guna menanggapi aksi pawai yang dilakukan puluhan ribu mahasiswa
dan masyarakat yang pro-referendum beberapa hari yang lalu.
Menurut sumber MateBEAN dari ibukota Timor Timur Dili, ribuan
massa pro integrasi yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor
Gubernuran itu kebanyakan terdiri atas warga NTT, yang ciri fisiknya
hampir sama dengan orang Timor Timur.
Karena kebanyakan terdiri atas warga NTT, maka dalam siaran
berita terakhir TVRI Jumat (26/6) malam, kameraman TVRI tidak berani
mengambil sorotan dari jarak yang dekat hingga tayangan aksi tersebut
tidak terlihat jelas. Yang terlihat hanya lah massa dalam dua truk dan
beberapa sepeda motor dibalik kepulan asap yang berasal dari ban-ban yang
dibakar massa.
Sementara itu, sumber lain dari Dili menyatakan bahwa
sebenarnya hari Minggu (28/6) berlangsung juga aksi unjuk rasa massa
dan mahasiswa yang pro-referendum. Dan bahkan massanya lebih banyak
dari yang didatangkan dari NTT yang konon jumlahnya hanya 11 truk.
Sedangkan dari yang pro referendum jumlahnya hampir sebesar yang turun
ke jalan-jalan (23/06) lalu, yaitu sekitar 80 truk ditambah ratusan sepeda
motor.
Selain warga NTT, Abilio juga memaksa para pegawai negeri untuk
ikut dalam aksi tersebut, namun sebagian menolak. Bahkan Abilio
mengancam para pegawai negeri yang tidak ikut aksi akan menanggung
risiko dipecat.
Dengan adanya aksi tandingan seperti ini, terlihat jelas bagaimana
gencarnya rekayasa politik militer Indonesia di Timor Timur untuk
mempertahankan status quo Timor Timur.
Rekayasa politik militer tidak hanya berlangsung di Dili. Di Jakarta
beberapa waktu lalu pihak intel Kodam Jaya memaksa preman Tanah Abang
Hercules untuk mengerahkan anak buahnya yang kebanyakan berasal dari NTT
dan Ambon guna melakukan aksi. Aksi tersebut merupakan aksi tandingan
terhadap aksi yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa Timor Timur di
Departemen Luar Negeri pada Jumat (12/6) beberapa waktu lalu yang
menuntut diadakannya referendum bagi Timor Timur.
Selain itu, pihak militer Indonesia juga tengah memperalat bekas
pemimpin Fretilin, Abilio Araujo untuk berkampanye melawan tuntutan
masyrakat Timor Timur dan komunitas internasional yang menginginkan
referendum bagi Timor Timur sebgai solusi terbaik untuk mengakhiri konflik
yang telah terjadi di bekas koloni Portugis itu selama 23 tahun.
Tampaknya militer Indonesia hendak memanfaatkan aksi ini untuk
menunjukkan kepada para duta besar yang tergabung dalam troika yang
diutus Uni Eropa yang tengah berkunjung ke Timor Timur sejak Jumat
(26/6) lalu, bahwa rakyat Timor Timur senang dengan intergrasi.
Troika yang terdiri atas duta besar Inggris, Belanda dan
Austria itu semula akan berkunjung ke Timor Timur awal bulan ini. Namun
atas permintaan Alatas akhirnya ditunda hingga sekarang baru terlaksana.***