[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: HILANGNYA ISU ORANG HILANG
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 26/I/27 Juni - 3 Juli 98
------------------------------
HILANGNYA ISU ORANG HILANG
(PERISTIWA): ABRI sebetulnya sudah tahu pelaku penculikan aktivis.
Penyelesaian "diam-diam" tak akan memenuhi aspirasi publik. Emil kecam
Habibie soal penanganan orang hilang.
Pengusutan kasus penculikan aktivis pro-demokrasi tampak menyurut, atau
malah bisa jadi menguap tanpa bekas. Tim Pencari Fakta (TPF) yang
diketuai Danpuspom ABRI, Mayjen Sjamsu, tak menghasilkan satu
kesimpulan yang bisa menjawab keingintahuan publik. Sjamsu justru
terkesan menyalahkan para korban penculikan yang dianggapnya tidak
membantu TPF mengungkap siapa dalang di balik penculikan. Seperti
Desmond, yang tidak segera memberi keterangan karena sembunyi di
Kalimantan, atau Pius yang langsung terbang ke Belanda tanpa sempat
dialog dengan TPF. "Kalau mau selesai, mari bantu TPF," kata Sjamsu.
Sebetulnya, informasi awal untuk melacak jejak para penculik telah
disodorkan Andi Arief yang kini masih ditahan di Polda Metro Jaya.
Sebagaimana ditulis Andi untuk Xpos, edisi no.18, "Tanggal 16 April,
jam 23.00, saya dibawa keluar. Di situ sudah menunggu mobil ber-AC.
Saya dibawa dengan mata tertutup dan tangan diborgol. Sekitar satu jam
kemudian, mobil menepi; saya dipindahkan ke mobil solar - yang
belakangan saya tahu di Mabes, itu mobil polisi. 17 April, jam 01.00,
saya sudah ada di penjara Mabes Polri bagian reserse... Polisi tahu,
siapa penculik aktivis yang hilang".
Andi juga menginformasikan bahwa pada malam penyerahan dirinya itu,
penanggungjawab dari Mabes Polri adalah Kolonel Lubis, Xpos no.19. Maka
ia meminta TPF yang dibentuk Pangab agar memanggil Kol. Lubis untuk
diperiksa. Karena dialah, kunci untuk melacak jejak penculik. Tetapi
sayangnya, sampai sekarang belum ada kabar apakah Kol Lubis sudah
diperiksa atau belum. Mayjen Samsju mengatakan ada 21 orang anggota
ABRI yang diperiksa, termasuk Dandim Jakarta Timur, tapi ia tak
menjelaskan apa hasil pemeriksaannya itu.
Anggota Komnas HAM, Mayjen Samsuddin pun berpendapat senada dengan Andi
Arief; bahwa upaya penelusuran bisa dimulai dari Mabes Polri. Menurut
aturan standar di kepolisian, penerima tahanan harus mencatat siapa
yang menyerahkan tahanan tersebut. "Jadi, berita acara penyerahan itu
bisa dikembangkan sebagai awal penyidikan," ujar Samsuddin kepada
Majalah Forum. Sayangnya, saran Samsuddin itu pun sampai sekarang belum
dilaksanakan.
Lambannya TPF untuk mengungkap fakta penculikan mengundang berbagai
tanggapan, baik permakluman maupun kecaman. Presiden Habibie sendiri
meminta masyarakat untuk memberi waktu kepada ABRI untuk melakukan
konsolidasi, khususnya dalam menangani masalah penculikan dan
penembakan. Tetapi himbauan Habibie tersebut dikecam oleh Emil Salim,
bekas Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, yang kini aktif di
barisan oposisi. "Seharusnya sebagai presiden, Habibie musti mendesak
Wiranto untuk segera menangkap biang keladi penculikan dan penembakan
agar pemerintah mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dunia
internasional," ujar Emil Salim.
Tetapi seorang pengamat politik yakin bahwa sesungguhnya ABRI bukannya
tak tahu menahu soal dalang penculikan. Digantinya Pangdam Jaya, Mayjen
Syafrie Syamsoeddin, adalah satu upaya Pangab Wiranto untuk
membersihkan perwira ABRI yang terlibat petualangan militer. Sejak lama
isu keterlibatan Prabowo dan Syafrie dalam penculikan sangat kuat.
Bahkan Desmond J. Mahesa, Direktur LBH Nusantara Jakarta, salah seorang
korban penculikan, kepada Ketua TPF Mayjen Sjamsu menyatakan ia
mendengar langsung suara Syafrie saat interogasi oleh para penculik,
meski matanya ditutup. Namun demikian Kapuspen ABRI Brigjen Samsul
Ma'arif menepis anggapan bahwa Syafrie diganti karena isu tersebut.
"Pergantian Syafrie merupakan tour of duty dan tour of area semata,"
tegas Samsul kepada pers di Mabes ABRI.
ABRI agaknya memang menghadapi dilema untuk mengungkap fakta
penculikan. Indikasi bahwa para penculik sangat profesional dalam
melakukan tugasnya tak bisa dielakkan. "Semua bukti-bukti mengarahkan
bahwa kami berada di tangan angkatan bersenjata," ujar Pius
Lustrilanang di depan Kongres AS.
Bagi masyarakat sendiri, persoalannya tak cukup sampai mengetahui siapa
yang bertanggungjawab atas hilangnya aktivis-aktivis pro-demokrasi.
Lebih dari itu, bagaimana mengakhiri kejahatan politik yang sistemik
tersebut? Sebab orang hilang karena motif politik tidak hanya terjadi
tahun 1998 ini saja. Tercatat beberapa nama yang hilang sampai sekarang
tak ketahuan rimbanya, Yani Avri dan Sonny aktivis PDI Megawati, Deddy
Hamdun aktivis PPP pendukung "Mega-Bintang", Bimo Petrus dan Suyat
aktivis SMID. Belum lagi orang-orang yang hilang dalam berbagai
peristiwa politik di Tanjung Priok, Aceh, Lampung dan Timor Timur.
Akankah nasib orang-orang hilang sengaja diambangkan sampai masyarakat
lupa? Kesungguhan ABRI dalam mengungkap penculikan aktivis itu, bisa
jadi semacam ukuran: Apakah ABRI serius menanggapi reformasi atau hanya
basa-basi belaka. Masyarakat domestik dan dunia internasional pun
menunggu. Kapan? (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com