[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: KEMURNIAN, MASSA MENGAMBANG DAN KERUSUHAN SOSIAL



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 26/I/27 Juni - 3 Juli 98
------------------------------

KEMURNIAN, MASSA MENGAMBANG DAN KERUSUHAN SOSIAL

Oleh: Siti Anisa

(OPINI): Artikel yang mempertanyakan ideologi kemurnian mahasiswa, di
buletin ini pekan lalu, mendapat tanggapan beberapa pihak. Ada
pendapat, bahwa asumsi dan pendekatan yang saya gunakan dalam tulisan
itu, sangat naif. Yang lain menulis, "kemurnian" itu jadi pilihan
mahasiswa, bukan karena mahasiswa alergi terhadap rakyat; tetapi karena
mereka melihat adanya unsur-unsur pemecah belah, penyusup yang ingin
mengacau gerakan mahasiswa. Tindakan sekelompok pemuda yang
berdemonstrasi mendukung Habibie di parlemen, 22 Mei lalu, dipandang
sebagai bukti adanya "pemecah belah", yang membenarkan pilihan
mahasiswa untuk menjaga kemurnian itu.

Memang, bahaya penyusupan, dan pemecah belahan, sangatlah mungkin
terjadi. Bahaya bukan hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga
dari antara mahasiswa sendiri. Bukankah sering kita dengar ada
mahasiswa yang jadi intel? Atau juga demonstrasi anti demokrasi
dilakukan oleh sekelompok mahasiswa yang tak jarang dibayar. Tetapi,
bahaya semacam itu tidak membuat mahasiswa berhenti mengajak mahasiswa
lainnya untuk tetap berjuang. Lantas, kenapa kalau bahaya itu muncul
dari masyarakat, kita memilih minggir dari kancah; dan membiarkan
rakyat tak terorganisir?

Sebetulnya, dalam sejarah gerakan mahasiswa setelah 1980-an,
identifikasi mahasiswa dan rakyat bukannya tak pernah dicoba. Dalam
beberapa hal, gerakan era 80-an itu, justru dimulai dari kepedulian
pada soal-soal nyata; dan mahasiswa terjun ke kancah persoalan itu,
sebagai bagian dari masyarakat yang terkena masalah. Kisah tentang
keterlibatan mahasiswa di Kedungombo, Cimacan, Rancamaya, Badega -
untuk sekedar menyebut beberapa contoh - adalah permulaan yang hebat. 
Usaha ini, sayangnya hanya berbuah pada kemenangan opini dan keberanian
rakyat untuk melawan, tetapi belum meninggalkan jejak organisasional -
yang mengikat rakyat dan mahasiswa dalam satu badan.

Ketika politisasi berkembang sangat cepat, menjelang kejatuhan Soeharto
Mei lalu, mahasiswa tak sempat mengembangkan potensi hubungannya dengan
rakyat yang pernah didampingi itu - apalagi meluas ke masyarakat umum
-; tetapi kembali ke kampus - dan meneguhkan ide kemurnian. Akibatnya,
masyarakat umum, tinggal sebagai penonton, dalam Revolusi Mei yang
dipuji banyak kalangan sebagai sukses gerakan mahasiswa, bahkan jadi
model beberapa negara lain itu.

Ideologi Kemurnian mahasiswa, dengan motif berbeda, bisa mempunyai
kesamaan dampak dengan konsep politik yang tiga dekade didengungkan
Orde Soeharto untuk mengebiri masyarakat. Yakni: konsep massa
mengambang. Seperti sudah jadi pengetahuan umum, "politik massa
mengambang", pada intinya mencegah partisipasi politik rakyat. Agar
hanya segelintir elit yang terlibat politik; dan dengan demikian rezim
korporatis Orde Baru bisa mengontrol dinamika politik "resmi."
Hakekatnya, "massa mengambang "adalah politik curiga kepada rakyat.
Rakyat dijauhkan dari politik, karena dicurigai akan berbuat onar.
Rakyat hanya diminta suara, dalam pemilu lima tahun sekali - yang semua
tata cara dan hasilnya sudah direkayasa. Selama lima tahun kemudian,
rakyat harus tutup mulut. Kedaulatan sudah dipindahkan ke mesin politik
Orde Baru; dari Senayan sampai Binagraha.

Proses politik semacam itu, jelas hasilnya menyimpang. Ketika mayoritas
rakyat tegas-tegas meminta Soeharto tak dipilih lagi - seperti tampak
pada puluhan hasil polling menjelang Maret lalu -; mesin politik Orde
Baru justru aklamasi memilih Soeharto. Usaha menutup-nutupi kenyataan
itu, harus dibayar mahal.Tatanan politik Orde Baru runtuh. Kepercayaan
publik kepada rezim yang membanggakan prestasi dalam stabilitas dan
pembangunan itu, ambruk. Catatan sejarah Orde Baru, ditutup dengan
kerusuhan 14-15 Mei, yang menjadi lembaran hitam dalam kehidupan
berbangsa. Tak berlebihan, bila dikatakan, kerusuhan berbuntut rasialis
ini, merupakan buah pengasingan rakyat dari proses politik Orde
Soeharto.

Rakyat yang puluhan tahun dijauhkan dari politik, menjadi tak terbiasa
memperjuangkan kepentingan mereka secara teratur dan damai. Mereka
gagap, ketika menghadapi persoalan yang menimpa diri mereka. Rakyat tak
terbiasa kerja organisasi, karena tiap kali ada usaha berorganisasi,
dicurigai. Tak heran, bila aspirasi yang mampet, akhirnya muncul dalam
bentuk letupan-letupan amuk massa. Sepanjang 1996/97, kita mencatat
puluhan kerusuhan massa di berbagai daerah. Dan, kerusuhan itu memuncak
menjelang Soeharto tumbang, Kerusuhan Mei, yang menelan korban dibakar
lebih dari 1000 orang, trauma korban perkosaan, serta hengkangnya
puluhan warga Cina yang ketakutan.

Massa mengambang berbuah kerusuhan. Ide kemurnian, yang mencegah
mahasiswa terlibat pengorganisasian rakyat, secara tak langsung, punya
andil mengantar rakyat ke jalan buntu; hingga tinggal amuknya saja. Di
tempat-tempat, dimana gerakan mahasiswa tak berbaju "kemurnian", dan
dengan sadar mengorganisir rakyat setempat, kerusuhan justru bisa
dihindarkan. Satu contoh yang patut dipelajari adalah keberhasilan
gerakan mahasiswa Yogya, yang memobilisir sejuta orang, tanpa
kerusuhan. Sukses itu, didahului oleh "Aksi Gejayan", dimana mahasiswa
dan masyarakat berbaur dalam kesatuan aksi.

Agaknya, cukup jelas. Masyarakat yang teroganisir, sadar politik, jauh
kurang potensial menimbulkan kerusuhan; ketimbang massa cair dan tak
teratur. Massa mengambang itulah yang mudah disulut provokatur, untuk
berbuat rusuh seperti Kerusuhan Mei lalu.  Mahasiswa terpanggil untuk
terlibat dalam soal-soal politik, dengan mengorganisir rakyat - agar
melek politik, dan bergerak dalam organisasi. (Siti Anisa, jurnalis)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com