[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: REPRESI PERDANA DARI HABIBIE



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 26/I/27 Juni - 3 Juli 98
------------------------------

REPRESI PERDANA DARI HABIBIE

(POLITIK): Dua kali aksi buruh digagalkan. Suasananya mirip dengan masa
ketika Soeharto masih berkuasa.

Bulan madu kalangan pro-demokrasi dengan pemerintahan transisional
Habibie, tampaknya sudah berakhir. Buktinya, dalam tempo 3 hari, dua
aksi buruh yang sedianya akan diikuti ribuan orang, diberangus aparat.
Barangkali pemberangusan ini merupakan represi pertama yang dilakukan
terang-terangan oleh pemerintahan Habibie terhadap kalangan reformis.

Pemberangusan pertama dilakukan militer terhadap rapat akbar yang
sedianya akan dilakukan di kampus Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (FKUI), Salemba Minggu (21/6) lalu. Penyelenggara rapat akbar
ini adalah Posko Perjuangan Rakyat Indonesia UI (PPRUI) bersama Komite
Buruh untuk Aksi Reformasi (Kobar).

Beberapa massa buruh yang sudah berdatangan di sekitar Salemba pagi itu
kaget: pagar besi gerbang masuk UI Salemba, ditutup dan dijaga oleh
tentara. Setiap orang yang hendak masuk, diperiksa secara ketat. Yang
tidak memiliki Kartu Mahasiswa UI, atau tanda identitas lain sebagai
sivitas akademika UI, tidak diperbolehkan masuk. Begitu ketat dan
kakunya, hingga bahkan Prof. Soebroto, bekas Menteri Pertambangan dan
Sekjen OPEC, tak luput dari pemeriksaan.

Massa buruh tentu saja tak bisa masuk. Mereka akhirnya cuma duduk-duduk
atau berdiri di trotoar dan beberapa halte bis kota sekitar kampus UI.

Di berbagai lokasi pabrik dan simpul massa buruh di Jakarta, Bogor,
Tangerang, dan Bekasi, para buruh yang hendak berangkat menuju UI
dengan bis-bis khusus, dibubarkan oleh tentara. Bis-bisnya dijaga
sampai sore, hingga tak bisa bergerak.

Rapat akbar yang sedianya akan dihadiri sekitar 10.000 buruh dari
seluruh Jabotabek itu dibatalkan. Sebagian dari ratusan buruh yang
sudah kepalang tiba di Salemba lalu melakukan unjuk rasa di halaman
Gedung YLBHI di Jl. Diponegoro - sekitar 5 menit jalan kaki dari kampus
UI.

Pemberangusan itu keruan membuat berang kalangan pro reformasi. Dogi,
seorang aktivis mahasiswa UI yang juga koordinator PPR UI mengutuk
tindakan militer yang menggagalkan aksi mereka.
Dikatakannya, pemberangusan itu membuktikan bahwa pemerintahan Habibie
bukanlah pemerintahan yang bersedia memperjuangkan reformasi.
Pemerintahan Habibie, ditambahkan Dogi, sama saja dengan Soeharto:
menggunakan  militer untuk merepresi gerakan rakyat.

Pada hari rapat akbar buruh itu digagalkan aparat, Ketua Serikat Buruh
Sejahtera Indonesia (SBSI), Muchtar Pakpahan, menyatakan bahwa pada
hari Rabu (24/6), SBSI akan menggelar aksi demonstrasi besar di
berbagai kota. Khusus di Jakarta, dikatakan Muchtar, demonstrasi itu
akan berlangsung di DPR, diikuti oleh puluhan ribu massa buruh.
Dikatakan Muchtar, aksi itu akan digelar untuk menuntut mundurnya
Habibie, dan dibentuknya Dewan Rekonsiliasi Nasional, yang bertugas
menyelenggarakan Sidang Istimewa untuk menunjuk pemerintahan transisi
dan melaksanakan Pemilu secepatnya.

Pada hari yang dijanjikan, tiga hari kemudian, ABRI sejak pagi hari
menutup seluruh akses jalan ke dan dari arah kantor SBSI di Jl. Tebet
Barat Dalam Raya Jakarta Selatan. Seperti kejadian tiga hari
sebelumnya, di hampir seluruh simpul massa buruh di Jabotabek, ABRI
membubarkan massa buruh yang hendak berangkat mengikuti demonstrasi
itu. Bus-busnya pun dijaga untuk tak bisa berangkat.
Ratusan tentara bersenjata lengkap yang menjaga ketat kawasan Tebet
lokasi kantor SBSI, juga menghalau pulang buruh-buruh yang berhasil
lolos dengan bus carteran sampai ke kawasan Tebet.

Sementara, sekitar seribu buruh yang kepalang sudah tiba di sekitar
kantor SBSI, hanya bisa  duduk-duduk di jalanan dan memajang poster dan
spanduk di pagar-pagar di sepanjang jalan.
Ketua I SBSI, Tohap Simanungkalit, bersama Sekjen SBSI, Sunarti,
akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana demonstrasi. Kepada pers,
Tohap dan Sunarti menyatakan bahwa  represi militer seperti yang tampak
hari itu, membuat aksi tak mungkin diselenggarakan. Karena kalau
dipaksakan, bisa terjadi bentrokan dengan militer yang bisa berakibat
jauh.

Ketua Umum SBSI Muchtar Pakpahan sendiri pada hari itu justru ada di
Solo, untuk tampil sebagai pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan
Posko Dewan Reformasi mahasiswa Surakarta. Kepada hadirin ia membantah
bahwa kehadirannya di Solo adalah untuk menghindar dari tanggungjawab
atas rencana aksi massal di Jakarta. Ditegaskan Muchtar, bahwa dirinya
tetap mengambil semua tanggungjawab atas semua hal yang berkaitan
dengan rencana aksi hari itu, karena remncana demonstrasi itu memang
merupakan instruksinya selaku Ketua Umum SBSI.

Dalam kesempatan itu Muchtar juga menyatakan niatnya untuk mendirikan
Partai Buruh Nasional. Yang unik, sebagai Ketua PBN itu Muchtar tidak
mencalonkan dirinya, malah mencalonkan Megawati Soekarnoputeri. "Saya
yakin Mega bisa menjadi presiden RI keempat," kata Muchtar.

Susahnya, keadaan sekarang sepertinya akan kembali sama represifnya
dengan di jaman Soeharto. Buktinya, aksi buruh SBSI di DPR dan
PPRUI-Kobar di UI diberangus. Maka agar keinginan Muchtar mencalonkan
Mega jadi presiden itu terwujud, puteri Bung Karno itu mestinya tampil
ke depan, menjawab tantangan zaman. Bukan hanya mengenang masa lalu.
(*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com