[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: "PUSPOM HANYA ALAT LEGITIMASI"
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 26/I/27 Juni - 3 Juli 98
------------------------------
Raharjo Waluyo Jati, Korban Penculikan:
"PUSPOM HANYA ALAT LEGITIMASI"
(DIALOG): Tak pernah sekalipun terlintas di pikiran Raharjo Waluyo Jati
bakal menjadi korban penculikan. Tapi, itulah yang dialami aktivis
Komite Nasional Penegak Demokrasi (KNPD), awal Februari lalu. Saat itu,
bersama dua rekannya - Faisal Riza dan Herman Hendrawan - Raharjo baru
saja keluar dari Kantor YLBHI, di Jalan Diponegoro, Jakarta.
Tiba-tiba mereka disergap segerombolan orang tak dikenal, lalu
dimasukkan ke dalam mobil. Setelah itu, mereka dibawa dan ditahan di
markas penculik. Selama sebulan lebih ditahan, Raharjo mengalami
berbagai siksaan. Diantaranya, disetrum dan disuruh tidur di atas balok
es. Tak lama setelah dibebaskan, Raharjo nekad memberi kesaksian di
depan umum, menyusul pengakuan dua korban penculikan lainnya: Pius
Lustrilanang dan Desmond J. Mahesa.
Tak hanya itu. Ia kemudian juga terlibat dalam aktivitas Komite untuk
Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KONTRAS). Mengapa ia mengambil
langkah itu? Kepada Xpos, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu
membeberkan kisahnya.
T: Apa yang Anda lakukan untuk KONTRAS?
J: Sementara ini, saya membantu KONTRAS, terutama untuk kampanye
menekan pihak-pihak yang kami simpulkan bertanggung jawab terhadap
operasi penculikan. Prioritas utama kampanye itu agar korban-korban
yang masih disekap segera dilepaskan.
T: Apa saja kegiatan KONTRAS dan apa saja yang akan dilakukan setelah ini?
J: Selain mengumpulkan bukti-bukti dan testimony para korban, kami juga
sudah mengadukan ke Komnas HAM, ke Kejaksaan Agung, Pomdam Jaya dan
Palang Merah Internasional (ICRC). Ini agar masyarakat juga sadar,
bahwa ada hal yang tidak wajar yang tengah berlangsung saat ini.
Masyarakat harus aktif bersama-sama mencegah terjadinya hal-hal yang
tidak beradab itu.
T: KONTRAS sudah ke DenPOM (polisi militer), apa ada hasilnya?
J: Memang, Denpom tidak memberikan perspektif yang lebih jelas tentang
pengusutan penculikan. Saya pikir, karena mereka pun berada di posisi
yang sulit juga. Dalam pengertian, mereka menghadapi suatu pihak atau
kelompok atau institusi yang sangat kuat sekali kekuasaannya. Bisa jadi
Puspom hanya digunakan sebagai alat bagi mereka untuk sekedar
melegitimasi beberapa praktek yang selama ini didefinisikan sebagai
menyalahi prosedur. Lalu yang diungkap hanya soal kesalahan prosedur,
ada oknum, atau salah adiministrasi - seperti kasus penculikan Andi
Arief. Kami menganalisa,peluang Puspom hanya akan sampai disitu, tidak
lebih.
T: Jadi tidak bisa diharapkan banyak dari Puspom?
J: Ya, karena sudah sekian banyak data, fakta kita sodorkan pada
mereka, tetapi tidak satupun kesimpulan yang mereka ambil. Walaupun
sebuah kesimpulan sementara. Tetapi kita akan tetap mendesak mereka
dengan berbagai cara, termasuk dengan tekanan internasional.
T: Percuma dong, mendesak Pomdam kalau tidak ada hasil yang bisa diharapkan?
J: Ya, paling-paling yang mereka sodorkan nanti hanya tumbal-tumbal
saja, yang mereka anggap masih bisa menyelamatkan institusi mereka
secara keseluruhan. Misalnya, seorang kopral yang dikorbankan. Tetapi
kopral itupun nantinya harus bisa menjawab dimana sembilan orang
lainnya (yang masih hilang)itu berada?
Semuanya kan diculik oleh instansi yang sama.
T: Bagaimana sebenarnya ciri para penculik itu?
J: Yang pasti mereka profesional, punya kualifikasi keahlian tertentu
untuk melakukan operasi penculikan. Merujuk yang dilontarkan Komnas
HAM, ada kesamaan mereka yang melakukan penculikan dan kerusuhan. Jadi
nampaknya itu merupakan kualifikasi ahli mengenai teror dan anti teror.
Nah, itu hanya dimiliki oleh mereka dengan latar belakang militer. Dan
tidak banyak kesatuan-kesatuan di ABRI yang mendapatkan pendidikan
seperti itu.
T: Apa yang menurut Anda terasa mereka orang militer?
J: Dari cara mereka melontarkan pertanyaan tentang aktifitas politik
saya. Lalu cara-cara atau metode yang mereka lakukan di dalam mengorek
pertanyaan. Lalu fasilitas yang mereka pakai dalam memperlakukan saya
selama itu.
T: Fasilitasnya apa saja?
J: Misalnya alat-alat untuk setrum, pistol, sel dan segala macam. Juga
mekanisme kerja mereka yang sangat disiplin, dan hirarkinya sangat
kentara sekali pada saat saya diinterogasi. Jadi pernah pada suatu saat
saya ditanya oleh salah seorang yang sepertinya pemimpin mereka,
kelihatan sekali dia punya otoritas yang sangat besar. Dia bisa
memerintahkan anak buahnya mengambil kursi menyiapkan ruangan dan
segala macam. Sampai juga memberikan arahan-arahan berikutnya, dan
terakhir ketika saya mau dilepas, saya diancam, tepatnya di-breifing
dan diancam, agar saya nggak boleh bicara pada pers dan sebagainya.
Waktu itu, orang tersebut mengaku selama ini memegang komando operasi
di lapangan. Dia yang paling tahu aktifitas saya, sampai ciri-ciri
fisik saya, lingkaran-lingkaran interaksi saya dengan siapa saja,
tempat-tempat yang akan saya datangi. Dia sudah tahu semua, katanya.
Malah dia bilang, 'percuma kau sembunyi, karena sampai kapanpun atau
dimanapun, akan terus dikejar.' Bahkan,dia sempat bilang percuma
membuat rumah dari besi sekalipun, karena 'kamipun ahli bom' katanya.
T: Bagaimana strategi KONTRAS selanjutnya?
J: Mungkin akan kita naikkan kampanye di aspek tekanan internasional.
Karena sekarang ini banyak kasus yang sedang disoroti, terutama
menyangkut pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh
institusi-institusi militer. Jadi akan lebih mendekatkan kita pada
tuntutan yang sudah diperjuangkan oleh teman-teman di oposisi. Ini
momentum yang tepat untuk mengembalikan kembali perjuangan reformasi,
yang sekarang sudah terilusi dengan jatuhnya Soeharto. Tapi justru
rezim politiknya malah lebih bisa berkonsolidasi, sekarang ini gerakan
reformasi melupakan esensi-esensi persoalan politik permasalahan
pelanggaran hak asasi manusia, bisa dilihat dari masih bercokolnya
lembaga-lembaga ekstra yudisial. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com