[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
ISTQLAL (30/6/08) PAKET OTONOMI PEMERINTAH INDONESIA BERMUATAN ADU-DOMBA
PAKET OTONOMI PEMERINTAH INDONESIA BERMUATAN ADU-DOMBA
Oleh: Caspar da Saldanha
Seluruh kota di Timor-Leste dilanda ketegangan dan kecemasan. Terutama kota
Dili yang menjadi pusat segala kepentingan dan perebutan kepentingan
dipenuhi ratusan orang. Beberapa hari belakangan ini ketika para pemuda dan
mahasiswa turun ke jalan menyerukan penyelesaian sengketa Timor-Leste lewat
referendum, Jakarta terburu-buru membungkus paket "otonomi" untuk dikirim ke
Timor-Leste lewat Gubernur Abilio Osorio Soares.
Ketika masa kaum muda mahasiswa di Timor-Leste maupun di Jakarta dengan
suara bulat meneriakKan Referendum, Jakarta harus cepat-cepat merekayasa politik
pemaksaannya lewat sang Gubernur Abilio Osorio.
Rapat politik pemaksaan diadakan bersama para bupati, sampai para kepala
desa bahkan dengan berbagai kelompok perusuh seperti, Gardapaksi, Tim Alpha,
Halilintar, Rajawali, hanya untuk melakukan suatu aksi kontra yang tidak
representatif.
Para pegawai negeri harus berhadapan dengan ancaman dipecat atau kehilangan
gaji selama tiga bulan, bila tidak tunduk kepada perintah aksi tandingan
yang direkayasa oleh pemerintah otoriter Jakarta melalui "Pak Pos" Abilio
Osorio rakyat kecil yang tidak berurusan dengan kepentingan politik para
penguasa terpaksa menjadi obyek kepentingan politik Jakarta. "Kerja paksa"
dalam bentuk baru lahir kembali di zaman ini. Suatu "kerja paksa " melawan
kehendak dan aspirasi rakyat. Bukan sekadar dipaksa tetapi disertai ancaman
ditembak, diculik dan sebagainya.
Usaha-usaha ini lah yang tercermin dalam kegiatan hari-hari ini di seluruh
kota di Timor-Leste.
Para bupati mengeluarkan surat perintah kepada para camat dan para kepala
desa untuk menggerakan rakyat melakukan aksi demonstrasi menentang
referendum. Para pemilik kendaraan dipakasa menyediakan kendaraannya untuk
mengangkut kaum demonstran tandingan. Para perusuh yang dipersiapkan
ditempatkan di tengah-tengah masa untuk melakukan provokasi dan kekacauan.
Masa yang dipaksa untuk mengikuti aksi tandingan diperintahkan untuk menuju
ke kota Dili mulai Kamis 26 Juni 1998. Dari Lospalos, masa diangkut dengan
enam truk dan Viqueque dengan jumlah yang sama pula. Dari sejumlah orang
yang berasal dari Viqueque terdapat 7 (tujuh) buah granat dan sepucuk
senjata otomatis FNC. Massa yang berasal dari kedua kota ini bentrok dengan
kaum muda di Manatuto dan mengakibatkan seorang pemuda bernama Manuel
Marques, 21 tahun meninggal dunia, dan 4 (empat) orang menderita luka-luka.
Mereka adalah Luis de Carvalho, Francisco Antonio Soares (keduanya menderita
luka berat), Candido de Carvalho Soares dan Bernardo Jesus do Rego menderita
luka ringan. Para korban ditembak oleh tentara yang memihak membela kelompok
anti referendum.
Bentrokan terjadi pada dini hari sekitar pukul 04.00 Witeng Sabtu
27 Juni 1998. Di Manatuto masyarakat dan para pegawai negeri menolak untuk
ikut aksi tandingan. Para pegawai negeri menyatakan sikapnya dengan
menyerahkan identitas pegawainya kepada bupati bila tetap dipaksa untuk
melakukan demonstrasi.
Masa yang berasal dari Same, Ainaro, tidak sempat sampai ke Dili karena
dihalangi kaum muda. Aileu diberangkatkan sebanyak 7 truk namun tidak
sempat sampai ke Dili pula karena mengalami hal yang sama. Di Liquica
tentara, memaksa rakyat berkumpul di Kodim untuk diangkut ke Dili.
Di Maliana rakyat menolak untuk mengikuti demonstrasi. Oecussi-Ambeno,
rakyat yang dipaksakan itu diangkut dalam tiga truk dan dikawal oleh Brimob
sampai ke Dili.
Sementara itu di kota Dili, para Kepala desa tetap menolak pemaksaan itu
dengan alasan perintah semacam itu hanya akan menimbulkan kekacauan sosial
dan pertumpahan darah. Kepala desa Bekora, Daniel Castro dengan keras
menolak pemaksaan itu. Masyarakat desa Komoro tetap menolak untuk ikut aksi
pro-integrasi meskipun dipaksa oleh kepala desanya.
Ketegangan di kota Dili mengakibatkan bentrokan-bentrokan antar kelompok
mayoritas pro referendum dengan kaum yang ditunggangi oleh tentara,
sehingga menimbulkan korban meninggal maupun luka-luka. Masyarakat umum di
kota Dili semakin banyak turun ke jalan ketika mendengar dan melihat
peberapa pemuda ditembak mati oleh tentara maupun tewas dan luka karena
bentrokan antar kelompok.
Di Universitas Timor-Timur terjadi bentrokan antara para mahasiswa dengan
kaum perusuh dan kaki tangan ABRI hingga mengakibatkan satu orang meninggal
dunia dan dua orang luka-luka. Seorang wartawan NHK Jepang bernama Kato,
kamera dan barang-barangnya dirampas tentara.
Kota Dili masih tetap dipenuhi masa pro referendum sampai malam (Sabtu,
27/6/98), sementara itu di sekitar kantor gubernur dijaga ketat oleh
Brimob. Sejak pagi sampai sore hari masa pro referendum melakukan perarakan
sambil membawa mayat korban penembakan dan kerusuhan mengelilingi kota
Dili.
Pihak militer Indonesia tidak mampu mengendalikan dengan damai kecuali
ikut menciptakan kerusuhan atau mendalangi kerusuhan.***