[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
MateBEAN> ABILIO TAK DIDUKUNG RAKYAT TIMTIM
ABILIO TAK DIDUKUNG RAKYAT TIMTIM
Dili (MateBEAN), Demonstrasi pro-integrasi yang dipaksakan rejim Jakarta
melalui Abilio Osorio pada 27 Juni 1998 membuktikan bahwa penyelenggaraan
pemerintahan oleh penguasa Indonesia tidak mendapat dukungan rakyat Timor
Timur. Hal ini yang membuat penguasa mengerahkan para pegawai negeri
"pendatang" (orang-orang pendatang) dari Atambua, Kupang, Flores dan Jawa.
Siaran TVRI menghindari pengambilan gambar para demonstran dari belakang.
Tetapi hanya 50 orang Timor Timur yang diambil gambarnya dari depan.
Meskipun Abilio Osorio mengancam para pegawai negeri yang tidak mengikuti
demostrasi dengan menghapus gaji mereka selama 3 bulan, namun kebanyakan
pegawai negeri pribumi tidak mengikuti aksi itu.
Abilio Osorio kemudian mencoba merancang demonstrsi baru, yang diikuti
oleh masyarakat Lospalos, Aileu dan Same. Mereka ini ditipu dan
dimanipulasi. Masyarakat diberi informasi bahwa mereka diundang untuk
mengikuti acara penyambutan para duta besar negara-negara asing yang tiba
hari ini di Dili. Masyarakat tidak mengira bahwa mereka digerakkan untuk
mengikuti suatu demon- strasi pro-integrasi. Dan karena mereka digerakkan
oleh GADA PAKSI -kelompok vigilante Indonesia - untuk menghindari
tekanan-tekanan di kemudian hari sebaiknya mereka mengikuti saja kehendak
militer Indonesia.
Barangkali ini memang cara-cara klasik rejim penguasa warisan Orde
Soeharto. Cara seperti ini segera memancing reaksi kaum muda sehingga mereka
memutuskan untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa kehendak mereka telah
dimanipulasi. Alasan ini mendorong para pemuda pelajar Manatuto untuk
mendekati masyarakat Lospalos yang sedang menuju ke Dili saat memasuki
Manatuto. Hal ini terjadi pagi-pagi sekali.
Lalu yang terjadi, adalah banyak prajurit Indonesia muncul tiba-tiba
dan melepaskan tembakan beruntun ke arah mereka. Seorang pemuda berusia 23
tahun tewas di tempat sedangkan empat lainnya mengalami luka parah.
Ketika tahu bahwa tiga duta besar dari negara-negara troika Eropa di
Jakarta akan mengunjungi Dili, pihak perlawanan segera mengeluarkan perintah
untuk menghentikan segala bentuk aksi demonstrasi agar membiarkan para tamu
itu untuk lebih leluasa melakukan kontak-kontak yang diperlukan. Tapi,
sayang sekali, rejim Indonesia yang sudah dibaptis dengan "reformasi" hanya
mementing- kan cara politik pembunuhan dan pemusnahan rakyat Timor Timur.
Telah tiba saatnya, solidaritas internasional melakukan segala sesuatu yang
diperlukan untuk menekan Jakarta, termasuk sanksi-sanksi ekonomi dan
penundaan bantuan IMF ke Jakarta dengan maksud untuk meyakinkan Jakarta agar
mendefinisikan suatu kebijakan yang jelas sesuai dengan resolusi-resolusi PBB.
Rakyat Timor Timur menanti kebijakan itu dan selanjutnya: agar sebuah
delegasi internasional dari PBB berada di Timor Timur untuk menjamin
penghor- matan terhadap hak-hak asasi manusia dan agar militer Indonesia
ditarik dari Timor Timur sesegera mungkin.***