[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR---MUCHTAR PAKPAHAN AKAN GUGAT MAJALAH UMMAT REPUBLIKA
MUCHTAR PAKPAHAN AKAN GUGAT MAJALAH UMMAT REPUBLIKA
JAKARTA (SiaR, 30/6/98), Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
(SBSI) Dr Muchtar Pakpahan akan menggugat Majalah Ummat dan Harian Republika
dua media milik Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Majalah Ummat No 49 Tahun II, 29 Juni 1998/4 Rabiul Awal 1419 H
dianggap Muchtar salah mengutip pernyataannya.. Kutipan itu berbunyi: "...
secara lebih spesifik Pakpahan menuding ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim
se-Indonesia) sebagai tonggak ancaman masa depan Indoensia. Menurut saya
ICMI mempunyai implikasi tidak langsung terhadap (peristiwa-peristiwa)
pembakaran gereja dan penjarahan atas orang-orang Cina".
Muchtar, yang baru sebulan bebas dari penjara karena aktifitasnya di
SBSI itu membantah telah mengeluarkan kata-kata itu dalam wawancara dengan
wartawan Ummat. "Secara sadar, pasti saya tidak akan mungkin mengatakan ICMI
ancaman masa depan Indonesia, dan mengatakan lagi ICMI mempunyai implikasi
tak langsung terhadap pembakaran gereja dan penjarahan orang Cina," ujar
Muchtar.
Muchtar sendiri, melalui para pengacaranya, telah meminta rekaman
kaset wawancaranya untuk mengklarifikasi, namun hingga berita ini diturunkan
pihak Ummat belum memberi tanggapan.
Namun, belum tuntas masalah dengan Ummat, Republika, Senin (29/6)
memuat pegembangan berita soal wawancara Muchtar di Ummat. Republika
menulis, Muchtar Pakpahan menuduh ICMI dan umat Islam berada di balik
kerusuhan-kerusuhan selama ini. Berita itu dilengkapi dengan wawancara
dengan Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan Matereum dan Ketua Dewan Dakwah
Islamiah (DDI) Husein Umar. Matereum dalam wawancara itu mengatakan umat
Islam tak bisa tinggal diam dengan pernyataan Muchtar itu.
Berita Republika yang dinilai sudah tak sesuai lagi dengan hasil
wawancara Muchtar dengan Ummat yang juga sudah dinilai salah itu, juga akan
digugat Muchtar Pakpahan. Muchtar menganggap, Republika malah lebih parah
menyelewengkan fakta ketimbang Majalah Ummat.
Republika sendiri tak pernah mewawancarai Muchtar soal ini. Koran
yang kini terang-terangan medukung Habibie malah menulis tuduhan Muchtar
terhadap umat Islam itu juga dimuat International Herald Tribune (IHT).
Namun Republika tak menjelaskan IHT edisi kapan tuduhan Muchtar itu dimuat.
Muchtar sendiri menyangsikan IHT menulis hal seperti itu karena ia
tak pernah diwawancarai wartawan IHT. Republika edisi itu juga menulis
kalimat yang sangat insinuatif dengan memberi penjelasan bahwa Muchtar
Pakpahan adalah mantan aktifis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
Belakangan, karena berita-berita itu, Muchtar Pakpahan dan
keluarganya mengalami teror dan ancaman pembunuhan lewat telepon. Sementara
itu disejumlah masjid di Jakarta nama Muchtar juga disebut-sebut sebagai
musuh Islam.
Sementara itu, KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), salah seorang teman
dekat Muchtar kepada wartawan seusai menerima Muchtar mengatakan apa yang
dialami Muchtar harus dihadapi dengan tenang. "Mereka itu kan sudah lama
seperti itu. Saya saja mereka musuhi," ujar Gus Dur.
Selain ancaman pembunuhan, selebaran yang berisi tuduhan bahwa ayah
Muchtar Pakpahan terlibat dalam organisasi di bawah payung PKI, beredar luas
di Jakarta.***