[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

ISTIQLAL (30/6/98) PANCASILA SEBAGAI SUMBER INSPIRASI, VISI...



PANCASILA: SUMBER INSPIRASI, VISI DAN AGENDA AKSI REFORMASI (1/3)

Oleh: HAMENGKU BUWONO X

-----------------
Catatan Redaksi:

	Tulisan Sultan Hamengku Buwono X ini kami ambil dari makalah pada diskusi
panel yang digelar Pusat Studi Pancasila UGM pada 15 Juni 1998 di Yogyakarta
dengan tema "Pancasila Dalam Perspektif Gerakan Reformasi"

Redaksi Siar
------------
          
PENGANTAR

	Jika kita mau membuka tulisan Bung Karno (tanpa perlu mengkultuskannya) di
harian "Fikiran Rakyat" (1933)[1], di sana dengan jelas dibedakan, dan
sekaligus dipadukan secara sinergis antara "Reform-Actie" dengan
"Doels-Ache". Uraian tentang keduanya dapat dijadikan acuan awal pengertian
tentang reformasi dan Gerakan Reformasi. 

	Argumentasi dasar yang dapat dikemukakan adalah; bahwa deskripsi Bung Karno
lebih dan 60 tahun yang lalu tersebut dipandang orisinal, karena belum
terkontaminasi oleh monopoli tafsir penguasa, baik dari "Orde Lama" maupun
"Orde Baru" beserta kronies dan kloningnya.

	Bertolak dari dasar pemikiran itu, tulisan ini mencoba melakukan pendekatan
tematik: "Pancasila Dalam Perspektif Gerakan Reformasi", dengan mencari dan
menggali serta mengkaji dan menguji pemahaman kita kembali terhadap
nilai-nilai substansial Pancasila sebagai dasar dan arah Reformasi pada fora
Diskusi Panel yang diprakarsai oleh Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah
Mada ini.

VISI

	Menurut Bung Karno pada masa pergerakan Indonesia di tahun 1930-an itu, ada
dua "ujung". Ujung yang satu, kaum "reformis", yang tidak mengutamakan
tujuan jatuhnya stelsel kolonialisme-imperialisme melalui jembatan emas
Indonesia Merdeka. Yang mereka kerjakan hanya apa yang bisa dicapai hari ini
saja, seperti misalnya penurunan pajak atau penambahan sekolah.

	Meski tidak persis sama, mungkin ini ada kehorensinya dengan apa yang
sering disebut oleh Jenderal Wiranto dengan refoFmasi gradual, yang terkesan
sebagai reformasi sedikit demi sedikit yang serba tanggung. Aliran yang
pertama ini sudah berpuas diri dengan memperoleh konsesi hanya pada "hal-hal
sepele" yang kecil-kecil hari ini saja, yaitu aliran yang menganut garis
perjuangan "aksi perbaikan untuk sekarang". Mungkin ini dapat disinonimkan
dengan suatu bentuk reparasi, atau perbaikan tambal-sulam saja, bukan
reformasi pada sistemnya.

	Dengan maraknya tuntutan dihapuskannya praktik KKN di semua lini
kelembagaan, beberapa di antara para nepotis telah memberikan reaksi dengan
pengunduran diri dari jabatan, yang sebelumnya gampang diduga, adalah hasil
rekayasa nepotisme. Suratkabar harian Republika, misalnya, membuat daftar
panjang kaum nepotis, yang kemudian secara serial dikutip oleh harian-harian
lokal Yogya.

	Mungkin agar dinilai tanggap oleh tuntutan masyarakat, Pemerintah dengan
cepat memberikan konsesi politik - yang lagi-lagi bukan reformasi - dengan
berangsur membebaskan para tahanan politik dan narapidana politik, membuka
peluang berdirinya partai-partai baru, memulihkan kembali ijin terbit media
massa yang telah dibreidel, dan lain sebagainya. Langkah-langkah itu ingin
dikesankan oleh Pemerintah, yang kemudian ditangkap dan dipahami oleh
sebagian kalangan, bahwa kini Pemerintah Habibie sudah berada di right track
ke arah reformasi total-menyeluruh, yang radikal, yang bebas dari akar-akar KKN.

	Apa kah benar demikian, marilah kita mengkaji dan menguji dengan menggali
kembali pada inti tulisan Bung Karno itu, berikut ini.

	"Udjung jang kesatu memusatkan mata kepada ini hari sahadja, udjung jang
kedua pada hari kemudian sahadja. Mana jang benar? Dua-duanja salah,
dua-duanja tak akan bisa membangunkan pergerakan massa aksi radikal jang besar."

	Ujung yang ke dua, yang disebutnya ujung "radikal mbahnya radikal", tidak
mau aksi "kecil-kecilan", tetapi maunya Indonesia Merdeka 100% sebagai
komitmen dan tujuan tertinggi: "alles of niets" --semua atau tidak sama
sekali! Mencari padanannya dengan tuntutan sekarang ini, kalau bisa,
reformasi radikal total sekarang juga! Tuntutan itu secara lugas terpampang
dalam spanduk-spanduk demo mahasiswa: "Adili Soeharto" "Sita Harta Soeharto"
dan banyak lagi yang lebih seram dari itu.

AKTOR PENGGERAK PERUBAHAN

	Dalam usaha merumuskan tatanan perubahan itu, hendaknya kita berpijak
bagaimana sejarah berubah. Dari aspek teoritik tentang pelakunya, ada dua
aktor sejarah: "Pemimpin Besar" yang berdasar pada pemujaan pahlawan (hero
worship), dan teori tentang massa.[2]

	Dalam menghantarkan bangsa dari "Orde Keprabon" ke "Orde Refomasi" tahun
1998 ini, pelakunya adalah massa yang dimotori oleh mahasiwa dan cendekiawan
kampus. Ini memberikan pembedaan yang signifikan dengan gerakan mahasiswa
1966, di mana sejak embrionya militerlah yang menjadi aktor intelektualis,
dengan di permukaan ditampakkan sebagai gerakan murni mahasiswa. Tetapi
gerakan 1998 juga berujung sama dengan tahun 1966-an, di babak akhir militer
pun berubah arah, dari represif menjadi persuasif, bahkan akomodatif, dan
akhirnya tidak bisa lain harus memihak pada aspirasi rakyat.

	Ada pun tentang bagaimana cara sejarah itu berubah ada dua teori, yakni
melalui revolusi dan evolusi. Teori revolusi berpendapat, bahwa tingkat
perubahan adalah radikal sampai keakar-akarnya (radix = akar), secara cepat
dan dalam waktu vang singkat. Sementara yang dimaksud dengan cara evolusi
adalah perubahan gradual dalam jangka panjang dan secara lambat. Istilah
reformasi yang seakan dimitoskan sekarang ini, berada di antara tataran
revolusi dan evolusi. Atau karena reformasi ini membawa dua ciri pokok:
total --untuk menegaskan kecepatan waktu dan betapa luasnya cakupan-- serta
sifatnya yang damai mungkin ada kecocokannya  dengan rumusan "evolusi yang
dipercepat".

	Tentang mitos "Wong Agung" itu, biasanya dipercaya akan menyelamatkan
bangsa dari masa krisis dan membantu masyarakat dari segala dampak krisis.
Dengan konsep the Great Man, menempatkan orang banyak secara "underdog" dan
hanya menjadi orang pinggiran. Bung Karno, Pak Harto, Sri Sultan HB IX, Jenderal
Soedirman, Bung Tomo, Ken Arok, Gadjah Mada, sebagai misal, sesungguhnya
adalah juga orang-orang kebanyakan, orang biasa.

	Yang membuat seseorang menjadi tokoh sejarah di suatu zaman, tidak lain
adalah "kita-kita", yang sekaligus --di suatu zaman yang lain-- mempuruknya
dan menghujatnya, adalah "kita-kita" juga.

	Siapa kah yang dulu menobatkan Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup,
atau mengukuhkan Pak Harto sebagai Presiden yang ke tujuh kalinya secara
aklamasi bulat-bulat dengan penghormatan standing ovation? Tidak lain,
"kita-kita" sendiri pula. "Kita" juga, yang menobatkan orang biasa kelahiran
dukuh Kemusuk itu menapaki tangga kekuasaan selama 32 tahun ini. Dan rasanya
baru sa)a kemarin, ramai-ramai "kita" juga, yang membuat ia "lengser
keprabon", padahal sebelumnya kita junjung tinggi dengan sebutan Bapak
Pembangunan segala.

	Kebanyakan dari kita memang lahir dan dibesarkan dengan memori purba
tentang aliran messianisme yang membawa missi Imam Mahdi atau "Ratu Adil"
sebagai juru selamat bangsa.[3] "Kita"-lah yang menobatkan dan mensakralkan
seseorang menjadi "Wong Agung", bukan sebagai orang kebanyakan. Dengan
begitu, menyerahkan segala tanggung jawab dan membiarkannya mewakili kita
menghadapi kesulitan-kesulitan. Sikap seperti ini yang menyebabkan kekuasaan
terpusat di satu tangan. Sehingga kalau kita berbicara tentang sistem, ya
Pak Harto itulah sistemnya! Namun ketika ia gagal --setelah sekian prestasi
diukir-- kita beramai-ramai menjagalnya.

	Kita pula lah yang sering menengok ke belakang di mana pusat kerajaan
Majapahit, Sriwijaya atau Mataram berada. Kita percaya, bahwa
keraton-keraton itu telah dipindahkan dari "Pemimpin Besar" yang satu ke
"Ratu Adil" yang lain. Mitos "Wong Agung" yang satu, dikubur dengan dongeng
yang lain pula. Demikianlah seterusnya.

	Generasi yang lahir di zaman informasi tentu berbeda. Pasti kurang mengenal
lagi Babad Tanah Jawi, Wulangreh, Wedhatama, Sabda Pandhita Ratu. Juga jujur
saja, sebenarnya banyak dari kita yang kurang paham apa yang dimaksud dengan
lengser keprabon, madeg pandhita dan idiom-idiom dengan sederet manipulasi
makna, atau setidaknya, interpretasi subjektif terhadap simbol-simbol budaya
Jawa yang selama ini telah meresap menjadi semacam budaya politik bangsa.

	Sekarang tidak ada lagi Alexander The Great, Wong Agung Menak Jayengrana
atau Sang Gatotkaca yang sakti-mandraguna. Yang ada, Mozes Gatutkaca
--makhluk lemah yang oleh tajamnya peluru telah menjadi syuhada reformasi.
Yang kita hadapi sekarang adalah manusia biasa. Seperti Bill Clinton yang
digempur skandal, Yeltsin yang sakit-sakitan, Mahathir yang sering digelari
Soekarno Kecil, Ibu Qorazon Aquino yang legawa, Nelson Mandela yang amat
manusiawi, atau Kim Dae Jung yang pemaaf.

	Sekarang dan yang akan datang adalah era orang biasa, yang oleh media massa
dunia sama-sama bisa kita bandingkan, apa yang masuk akal di satu negara,
juga tidak mustahil di negara yang lain.[4] (BERSAMBUNG)

--------------
Catatan akhir Bagian I: 

[1] Dikutip dari "Dibawah Bendera Revolusi", Jilid I, Cetakan II, 1963.
[2] Inspirasi Kuntowijoyo, "Identitas Politik Umat Isalm", Kerjasama 
    Penerbit Mizan-Majalah Ummat, Bandung, Cetakan II, Juli 1997
[3] Sartono Kartodirdjo, "Ratu Adil", Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 
    Cetakan I, 1984.
[4] Diolah dari Alhilal Hamdi, "Resonansi: Hak mBak Tutut", Indonesian 
    Society, 7 Januari 1988.