[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR--> Re: SiaR--> SURAT PEMBACA: ABRI DAN DPR
> From: GEORGE ADITJONDRO <aditjond@psychology.newcastle.edu.au>
> Subject: Re: SiaR--> SURAT PEMBACA: ABRI DAN DPR
Saya setuju dengan pendapat bung Bayu Suparta, dengan satu tambahan penting:
Polisi harus dipisahkan dari ABRI, sebab di setiap negara demokratis yang
beradab, polisi adalah aparat kamtibmas yang berada di bawah Departemen
Dalam Negeri atau bahkan pemerintah-pemerintah lokal / munisipal.
Hanya di Indonesia -- dan di negara-negara otoriter lain -- polisi
merupakan bumper bagi tentara, seperti terbukti dari sidang kasus Trisakti
kali ini. Dan seperti biasa, dalam setiap sistem yang represif, kelompok
yang dianaktirikan atau ditekan, biasanya tidak berani menentang ke atas,
tetapi menjadi lebih represif ke bawah. Pedagog Brazil terkenal, almarhum
Paulo Freire, menyebut gejala masyarakat kolonial ini sebagai "kekerasan
horisontal", sebagai kosokbali bagi pengertian kekerasan vertikal.
Juga, penyebutan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bagi Angkatan Laut dan
Angkatan Udara harus dihapuskan. Kembalilah ke istilah ALRI dan AURI,
sementara TNI hanyalah Angkatan Darat, dengan segala pengertian yang sudah
dibeberkan oleh bung Bayu Suparta.
Oke, begitu saja. Pekerjaan saya mendokumentasi kekayaan keluarga besar
Habibie belum selesai. Permisi,
George J. Aditjondro
Departemen Sosiologi & Antropologi
Newcastle University
>> Apparently-to: SiaR@mole.gn.apc.org
>> From: Bayu Suparta <Bayu.Suparta@sci.monash.edu.au>
>>
>> Kepada Saudara-saudara Pemerhati Demokrasi dan netters,
>>
>> Dengan hormat,
>>
>> Perkenankan saya mengungkapkan bahwa saya hanyalah seorang anak bangsa,
>> rakyat kecil yang tak ingin kehidupannya, termasuk kehidupan demokrasinya,
>> berjalan atau dijalankan setengah-setengah pun asal-asalan.
>> (...deleted...)