[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR---KETERLIBATAN SOEHARTO DALAM G30S MULAI DIBONGKAR
KETERLIBATAN SOEHARTO DALAM G30S MULAI DIBONGKAR
JAKARTA (SiaR, 1/7/98), Dugaan kuat keterlibatan Soeharto dalam
Peristiwa Berdarah Gerakan 30 September 1965 dan pemanipulasian Supersemar
mulai dipertanyakan oleh masyarakat. Masyarakat juga mulai mengungkit
keterlibatan Soeharto dalam peristiwa pembantaian terhadap ratusan ribu
massa simpatisan PKI diberbagai daerah di Indonesia setelah Peristiwa G30S
tersebut.
Tabloid Swadeshi edisi terbaru menurunkan laporan utama yang berbeda
dengan tabloid yang lain. Tabloid yang bernafaskan nasionalisme ini
mengambil laporan utama mengenai G30S/PKI dan Kebohongan Soeharto. Yang
menarik dari terbitan itu adalah pengakuan orang terdekat Soeharto dan
pernah menjadi Mendikbud, Mashuri. Ia merasa dibohongi Soeharto ketika
peristiwa terjadi.
"Tiga pertanyaan saya selalu dijawab, 'tidak'. Padahal ia sudah tahu
sebelumnya mengenai Gerakan 30 September," kata Mashuri.
Dalam pengakuannya, Mashuri juga mengungkapkan tentang adanya
pertemuan sebelumnya antara Kolonel Latief dengan Soeharto pada tengah malam
di RSPAD. Dalam pertemuan tersebut Latief menuturkan tentang adanya rencana
kudeta oleh para anggota Dewan Jenderal. Namun Soeharto sebagai Panglima
Kostrad tak bereaksi apa-apa. "Kalau Soeharto menyatakan tidak tahu menahu
soal peristiwa G30S, itu bohong!" kata Latief dalam pledoinya.
Namun pertemuan itu banyak dimanipulasi Soeharto untuk mengaburkan
adanya peristiwa tersebut. Menurut Mashuri, Soeharto dalam beberapa
keterangan persnya berbeda-beda pernyataannya. "Suatu ketika, Soeharto
bilang bahwa Latief datang untuk menengok Tommy yang sedang sakit. Lalu
Soeharto bilang juga bahwa Latief datang ingin membunuhnya. Dan yang paling
parah, Soeharto menyangkal bertemu dengan Latief," katanya.
Sementara itu Ki Oetomo Darmadi menulis dalam tabloid Swadeshi
menyatakan keheranannya mengapa dewan kehormatan militer tidak dilibatkan
dalam pengusutan kasus G30S walaupun jelas peristiwa itu melibatkan
sekelompok tentara dan korbannya juga perwira-perwira tentara.
Sedangkan mengenai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)
nasionalis tua, Manai Sophiaan dan analis politik Arbi Sanit menyatakan
bahwa selama ini ada upaya keras dari Soeharto untuk mengaburkan kebenaran
Supersemar. Supersemar disebut Manai sebagai tindakan manipulasi dari surat
perintah pengamanan Jakarta menjadi surat perintah pengambilan kekuasaan.
Surat perintah tersebut juga yang dipakai Soeharto melumpuhkan
Soekarno. Oleh sebab itu mereka sangat berharap adanya pengusutan lebih
lanjut tentang kebenaran sejarah pergantian presiden dari Soekarno ke
Soeharto itu.***