[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR---SEBAGIAN MASYARAKAT DI JAWA KESULITAN KONSUMSI BERAS



SEBAGIAN MASYARAKAT DI JAWA KESULITAN KONSUMSI BERAS

        JAKARTA (SiaR, 1/7/98), Masyarakat di beberapa  daerah di Jawa telah
mengalami kesulitan mengkonsumsi beras.  Bahkan  sebagian dari mereka telah
mengganti bahan makanan pokok beras menjadi jagung atau ketela pohon dan
umbi-umbian yang lain.

        Kesulitan mengkonsumsi beras ini terjadi di sebagian wilayah Jawa
Barat, Solo dan Bondowoso Jawa Timur. Sedang di beberapa wilayah di Jawa
Barat misalnya, mereka telah mengubah pola makan sehari tiga kali makan nasi
menjadi sekali makan nasi dan dua kali makan ketela atau ubi. 

        "Serawan-rawannya masalah pangan, peristiwa tragis seperti ini belum
pernah terjadi dalam sejarah masyarakat ini," kata petani Rancamaya Bogor.

        Sementara di beberapa wilayah Solo masyarakatnya juga telah
mengganti bahan pokok beras dengan ketela pohon. Sebagian lagi makan nasi
karak (kerak nasi atau sisa nasi yang dikeringkan agar tahan lama). Bahkan
di wilayah Desa Dawuhan Tenggrang kabupaten Bondowoso Jawa Timur, sebagian
warga desanya telah memakan dedak jagung sebagai makanan utamanya.  Dan itu
pun hanya mampu makan dua kali sehari.

        Kesulitan pangan warga Dawuhan ini diakui oleh Hidyaturahman Kepala
Desa Dawuhan. Menurutnya, selama ini dedak jagung atau sering disebut bu'uk
itu dijadikan makanan selingan oleh warga setempat. Namun, sejak harga beras
mencapai Rp 2 ribu/kg, masyarakat sudah mengalihkan makan nasi menjadi
mengkonsumsi bu'uk setiap harinya.

        Biasanya, masyarakat mengkonsumsi bu'uk itu tanpa lauk  dan hanya
dengan rebusan daun kangkung atau daun singkong dan sambal.  Harga bu'uk di
pasaran setempat mencapai saat  ini Rp 900 - Rp 1.000/kg. Sedangkan harga
harga beras rata-rata telah mencapai Rp 2.500-Rp 3.500/liter.***