[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->GJA: DARI PARE-PARE SAMPAI KE JERMAN (2)



> Apparently-to: SiaR@mole.gn.apc.org
> From: aditjond@psychology.newcastle.edu.au (George J. Aditjondro)

DARI PARE-PARE SAMPAI KE JERMAN:
Kisah korupsi, kolusi dan nepotisme keluarga besar Habibie (II)
G.J. Aditjondro

Berbasis di Batam, abang tertua B.J. Habibie, Satoto Habibie, yang juga
terdaftar sebagai salah seorang direktur PT Timsco, memperoleh kontrak jasa
pembersihan kapal tanker. Tahun 1994, anak perusahaan Pertamina, PT Pateka
Karya Gapura, membuka bisnis jasa ini, bekerjasama dengan tiga mitra: PT
Habindo Satria Perkasa, PT Natrifa Putra Indonesia, dan Blue Bird
International dari Hong Kong. Mudah ditebak bahwa PT Habindo Satria Perkasa
adalah milik Satoto Habibie. Sedangkan pemilik PT Natrifa Putra Indonesia
adalah Dwi Harnadi Singgih, putra Jaksa Agung waktu itu.

Dari Batam, Momoi, dan Bulan kelompok Timsco kemudian menjarah ke
pulau-pulau lain di sekitarnya. Dengan keluarnya Keputusan Presiden No. 28
tahun 1992, wilayah kekuasaan Otorita Batam diperluas ke Pulau Rempang dan
Galang.

Dibekali Keppres itu, Habibie sebagai Ketua Otorita Batam menugaskan
Lembaga Teknologi Fakultas Teknik UI di bawah pimpinan Dr. Ismeth Abidin,
membuat rancangan jembatan Batam-Rempang-Galang (Barelang) bernilai Rp 600
milyar. Untuk melaksanakan pembangunan mega-proyek itu didirikanlah PT
Timsco Barelang.

Seiring dengan itu, mengikuti jejak kelompok Salim yang ingin membangun
basis bisnis baru di Pulau Bintan. Di pulau Bintan, Timmy berpatungan
dengan Titiek Prabowo dalam PT Bintan Perkasa Development (Wibisono, 1995;
Smith, 1996, 1998; CISI, 1997: 128-129, 794-795; PDBI, 1997: A-958;
Clapeyron , Jan. 1989: 7-13, 46-50; Indocommercial , 1 Sept. 1993: 81, 26
Jan. 1995: 79; Teknologi , Mei 1993: 13-14; Tempo, 4 Juni 1994; Properti
Indonesia , Okt. 1994, hal. 21-23;Panji Masyarakat , 7 Juni 1998;
wawancara-wawancara).

Thariq Kemal Habibie:
-------------------------------
Kekuasaan keluarga Habibie atas peluang-peluang bisnis di Pulau Batam dan
IPTN selanjutnya 'menurun' ke generasi kedua. Tahun 1994, Thariq Kemal
Habibie, putera bungsu Rudy Habibie, diangkat menjadi presiden direktur
konglomerat keluarga Habibie yang baru, Repindo Panca, yang berpusat di S.
Widjojo Centre, Jalan Jenderal Sudirman No. 71, Jakarta (no telepon 242
4155 s/d 2542 4165, dan fax  522 3131 dan 252 4162), dengan kantor cabang
di Jerman dengan alamat: PO Box 2307, 38013 Braunschweig, Germany.

Seorang bekas perwira tinggi ALRI, Laksamana Muda (Purn.) Abu Hartono,
diangkat menjadi Presiden Komisaris Repindo Panca. Kawan seangkatan Fanny
Habibie di Akademi Angkatan Laut (AAL) ini ikut menggolkan pembelian 39
kapal besitua buatan Jerman Timur, ketika ia menjadi Ketua Fraksi ABRI di
DPR-RI.

Selanjutnya Abu Hartono adalah kawan lama Fanny Habibie di PT Djakarta
Lloyd, di mana ia kini menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris. Fanny
sendiri pernah menjadi Presiden Komisaris perusahaan pelayaran milik rakyat
ini. Karier Abu Hartono di ALRI, mirip karier Fanny Habibie di pelayaran
sipil: Abu Hartono pernah jadi staf Proyek Pengadaan Kapal ALRI, sedangkan
Fanny Habibie pernah terlibat dalam pembelian kapal Tampomas II.

Sejak akhir November 1995, presiden komisaris Repindo Panca ini
beralih-tugas sebagai Dubes RI di Manila. Di sana dia tetap berfungsi
sebagai anjing penjaga kepentingan Suharto dan Habibie. Stafnya aktif
memantau seminar internasional tentang korupsi yang diselenggarakan oleh
Philippine Centre for Investigative Journalism di Hotel Mandarin Oriental,
15 s/d 17 April yang lalu, yang dihadiri sejumlah anggota AJI (Aliansi
Jurnalis Independen).

Di luar Repindo Panca, Thariq juga mendapat kepercayaan IPTN dan sejumlah
konglomerat swasta untuk memimpin PT Prodin, yang punya spesialisasi
menyelenggarakan pameran-pameran dagang produk Indonesia. PT Prodin ini
merupakan konsorsium antara berbagai konglomerat di Indonesia, seperti
Salim, Sinar Mas, dan Bakrie Bersaudara.

Melalui PT Prodin ini, yang "dipercayai" B.J. Habibie untuk menangani
Hannover Fair 1995 di Jerman serta Indonesia Air Show (IAS) di landasan
bandara Soekarno-Hatta, bulan Juni 1996, Thariq Habibie dapat berkenalan
langsung dengan tokoh-tokoh sipil dan militer dari manca negara, yang tentu
saja dapat melicinkan jalan bagi bisnis pribadinya (Profil Repindo Panca,
1994; CISI, 1997: 325-327; Kartini , No. 613, hal. 74-95; Warta Ekonomi ,
23 Jan. 1995: 28; Economic & Business Review Indonesia , 16 Sept. 1995, 2
Des. 1995: 46;  Target , 25 Juni-1 Juli 1996: 22-23; Tajuk , Agustus 1996:
51; sumber-sumber lain).

Di luar kelompok Repindo Panca dan PT Prodin, Thariq dan abangnya, Ilham,
terjun ke bidang asuransi. Mereka berdua menguasai 30 persen saham PT
Asuransi Wuwungan. Perusahaan asuransi itu didirikan tahun 1952 oleh
keluarga Wuwungan, tapi kedua bersaudara Habibie serta beberapa anggota
keluarga Pusponegoro baru masuk tahun 1986.

Profesor S. Djuned Pusponegoro dan keluarganya adalah sahabat lama keluarga
Habibie sejak di Bandung. Seorang putra sang profesor, Ir. Harsono Djuned
Pusponegoro, bekerja selama tiga tahun di bawah Habibie di pabrik pesawat
terbang Hamburger Flugzeugbau, yang kemudian setelah melebur dengan pabrik
pesawat Messerschmit dan Boelkow berganti nama menjadi
Messerschmit-Boelkow-Blohm  alias MBB. Setelah Habibie mudik ke Jakarta,
Harsono ikut terorbit menjadi Staf Ahli Menteri Negara Riset & Teknologi,
Deputi Ketua Bidang Pengembangan Teknologi BPPT, dan Direktur Teknologi
IPTN.

Persahabatan kedua keluarga itu kemudian dilanjutkan ke perusahaan asuransi
itu, di mana Ilham dan Thariq menjadi komisaris, bersama ibu Hartono,
Nyonya Djuned Pusponegoro. Sedangkan Presiden Komisarisnya, yang namanya
dipakai sebagai nama perusahaan itu, adalah Rudy Alexander Wuwungan. Lewat
perusahaan itu, cakrawala industri asuransi dan semakin terbuka bagi dua
bersaudara Habibie.

PT Asuransi Wuwungan adalah juga pemegang saham PT Maskapai Reasuransi
Indonesia (Marein). Perusahaan ini sesungguhnya sudah berdiri tahun 1953,
dan berkali-kali mengalami perubahan susunan pemegang saham. Sekarang ini,
pemegang sahamnya adalah PT Dharmala Sakti Sejahtera (49.94%), AJB
Bumiputera 1912 (17.34%), PT AJ Panin Life (4.07%), PT AJ Bumi Asih Jaya
(3.63%), PT Asuransi Wuwungan (1,2%), PT Maskapai Asuransi Sari Sumber
Agung (0,86%) dan publik (22,78%).

Berbanding terbalik dengan kecilnya saham PT Asuransi Wuwungan, R. A.
Wuwungan diangkat menjadi Presiden Direktur PT Marein. Jabatan yang cukup
strategis, mengingat jaringan mitra internasionalnya meliputi AS, Kanada,
Swedia, Spanyol, Inggris, Malaysia, dan Swiss. Dan ini lebih aneh lagi: PT
Marein sendiri memiliki 17,14% saham dalam PT Asuransi Wuwungan!

PT Marein juga bekerjasama dengan PT Citra International Underwriters.
Perusahaan asuransi milik Bimantara ini pada gilirannya bekerjasama dengan
PT Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo), sebuah BUMN yang memimpin satu
konsorsium yang mendapat kontrak mengasuransi empat satelit komunikasi yang
dikelola oleh PT Telkom dan anak-anak perusahaan PT Pasifik Satelit
Nusantara, yang juga anak perusahaan Bimantara. Masing-masing kontrak
bernilai 350 juta dollar AS. Selain PT Jasindo sendiri, anggota konsorsium
itu adalah PT Citra International Underwriters and 17 maskapai asuransi
luar dan dalam negeri.

Selain itu, PT Citra International Underwriters dan perusahaan asuransi
kelompok Salim, PT Asuransi Central Asia, mendapat kontrak mengasuransi
satelit komunikasi lain milik kelompok Bimantara, yakni Cakrawarta I.
Kontrak itu bernilai 115 juta dollar AS lebih.

Pendek kata, prospek bisnis asuransi keluarga Suharto -- yang mengimbas ke
keluarga Habibie -- cukup cerah. Karuan saja Utoyo, direktur PT Citra
International Underwriters, tiga tahun lalu mengatakan bahwa "premi
asuransi yang berhasil kami kumpulkan terus meningkat". Jumlahnya pada
tahun 1994 mencapai Rp 23 milyar, naik 6,9% dari tahun sebelumnya.

Selain itu, mengikuti jejak paman mereka, Timmy Habibie, tahun 1991 kedua
putra BJ Habibie membentuk PT Humpuss Elektronika, berpatungan dengan Tommy
Suharto dan Baktinendra Prawiro, putra sulung Radius Prawiro. Perusahaan
itu juga telah berpatungan dengan maskapai elektronika Jepang, NEC
Corporation, dan holding company -nya, Sumitomo Corporation, yang keduanya
punya usaha patungan dengan Bimantara, dalam suatu pabrik semi-konduktor di
Bekasi, Jawa Barat, dengan penanaman modal sebesar 45 juta dollar AS.
Berarti bisnis patungan ketiga keluarga ini -- Habibie, Suharto, dan Radius
Prawiro -- juga tidak main-main (Makka, 1986: 44-47, 115-116, 238-253,
254-258, 658; Prawoto, 1995: 50, 149; CISI, 1997: 462-463; IEFR, 1997:
462-463; PDBI, 1997: A-530 - A-533; Wibisono, 1997; Lauw, 1998; Swa ,
Agustus 1995: 19; Jakarta Post , 11 Juni & 24 Okt. 1997).

Dari situ dapat disimpulkan, bahwa keluarga Habibie mulai terjun ke bisnis
asuransi, setelah kue asuransi satelit komunikasi -- yang dikuasai keluarga
besar Suharto dan Habibie (lihat bagian tentang Yayuk Habibie) -- semakin
membesar. Kalau ini bukan kolusi, lantas apa?

Yang jelas, PT Asuransi Wuwungan juga ada hubungan bisnis dengan Angkatan
Udara. Buktinya, menyambut ulangtahun Komando Operasi TNI/AU, tanggal 15
Juni 1994, perusahaan itu ikut memasang iklan ucapan dirgahayu di majalah
Angkasa , usaha patungan kelompok Kompas-Gramedia dengan Dinas Penerangan
AURI, edisi bulan Juni 1994.

Yayuk Habibie melanglang buana:
-----------------------------------------------
Seperti yang tadi sudah saya singgung secara sepintas, ada mata-rantai
antara bisnis keluarga Suharto dan keluarga Habibie. Mata rantai itu adalah
dua bersaudara Aziz dan Muchsin Mochdar. Aziz merupakan orang kunci dalam
semua bisnis telekomunikasi kelompok Bimantara, termasuk satelit-satelit
komunikasinya. Seperti yang telah saya singgung di bagian tentang Tutut dan
Timmy main telpon-telponan, Aziz Mochdar pertama kali menjadi direktur
utama PT Elektrindo Nusantara, di mana ia memegang 10% saham. Selain itu,
ia menguasai 30% saham PT Asriland, setara dengan Halimah, sementara
suaminya, Bambang Trihatmojo menguasai 40%.

PT Asriland merupakan "super holding company" kelompok Bimantara, sebab
perusahaan ini merupakan pemegang saham inti PT Bimantara Citra. Asriland
menguasai  saham PT Bimagraha Telekomindo, yang berpatungan dengan PT
Telkom (20%), PT Indosat (10%), dalam perusahaan bisnis satelit kelompok
Bimantara, PT Satelindo. Aziz Mochdar sendiri masih memiliki 5% saham PT
Bimagraha Telekomindo (Editor , 1 Mei 1993: 69-70;Warta Ekonomi , 13 Sept.
1993: 60-61; Swa , Agustus 1995: 18-19).

Selain itu, ia juga menguasai 30% saham PT Aqualindo Mitra Industri, 30%
saham PT Duta Nusabina Lestari, 25% saham PT Montrose Pestindo Nusantara,
10% saham PT Kapsulindo Nusantara, 20% saham PT Citra Servicatama, 20%
saham PT Surya Citra Televisi (SCTV), serta 10% saham PT Panji Rama
Otomotif.

Aziz Mochdar juga menjadi komisaris PT Elok Abadi, yang berpatungan dengan
Perum Perumnas membangun Apartemen Puri Kemayoran, dan di Royal Sentul
Highlands, berpatungan dengan kelompok Lippo. Akhirnya, ia juga pemegang
saham PT Indovision bersama adik ipar Harmoko, Nyonya Noor Slamet
Asmoprawiro.

Kemudian, Aziz Mochdar dan adik iparnya, Yayuk Habibie, bersama-sama
memiliki saham perusahaan perjalanan kelompok Bimantara, yakni PT Nusa
Tours & Travel (CISI, 1997: 782-783, 1095-1097; Swa , Agustus 1995: 18,
39-42; Properti Indonesia ,  Des. 1995: 50A-50B).

Adik Aziz, Muchsin Mochdar, yang menikah dengan Sri Rahayu Fatimah alias
Yayuk Habibie, sudah jadi konglomerat sendiri dengan menguasai 14
perusahaan. Mereka mempunyai sebuah rumah yang relatif sederhana dan sebuah
bengkel mobil mewah di Perth, sebuah perkebunan jeruk seluas 200 Ha di
Australia Barat, serta rumah-rumah di Muenchen, Jerman, di mana mereka
tinggal jika salah seorang di antara anggota keluarga besar Mochdar-Habibie
itu akan melahirkan anak. Beberapa bulan yang lalu, mereka berlibur di
Swiss setelah melakukan umroh  , dengan menyewa beberapa chalet  (rumah
peristirahatan) sambil tetap melakukan puasa.

Muchsin adalah seorang duda beranak empat yang berkenalan dengan Yayuk pada
saat mengerjakan Jakarta Fair di Monas pada tahun 1980-an. Perusahaan
pertama yang mereka dirikan adalah perusahaan kontraktor umum, PT Citra
Harapan Abadi, yang sahamnya dibagi rata antara Yayuk dan Muchsin.
Berpatungan dengan Rocky Sukendar (putera Suwoto Sukendar) dan Tommy
Suharto, mereka membawa masuk maskapai raksasa Korea, Hyundai Engineering,
untuk mengerjakan landas pacu bandara-bandara di Indonesia. Selanjutnya
mereka berbisnis dalam ground handling   bandara. Keuntungan yang mereka
pungut selalu dinaikkan lima kali lipat untuk kemudian dinegosiasi jadi
empat kali lipat.

Muchsin berkantor di gedung Mochdar Sendana Co., Jalan Irian, Menteng,
sedangkan Yayuk Habibie di Wisma Ferrindo di Jalan Warung Buncit Raya,
setelah pindah dari kantor lamanya di Wisma Metropolitan I. Dari kantornya
yang baru, ia tetap berfungsi sebagai perwakilan tidak resmi Ferrostahl, di
mana menurut kabar angin di Jakarta, ia menerima 10% komisi dari semua
kontrak Ferrostaal di Indonesia.

Hubungan baik antara keluarga Habibie dan maskapai Jerman raksasa itu sudah
terbina cukup lama. Ketua dewan komisaris Ferrostahl, Klaus von Menges,
kawan lama BJ Habibie sejak tahun 1950-an, ketika keduanya masih kuliah.
Habibie di Aachen, sedangkan von Menges di Koeln. Sesudah Habibie jadi
orang top di Jakarta, von Menges ikut terorbit menjadi orang kunci bagi
maskapai-maskapai Jerman yang berbisnis di Indonesia, dibantu adik
perempuan bungsu BJ Habibie yang mendapat ruang khusus di kantor perwakilan
Ferrostahl di Jakarta.

Dari kantor itu, Yayuk Habibie yang juga anggota pengurus EKONID
(Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman) ikut melobi para birokrat Indonesia
untuk kepentingan Ferrostahl. Maskapai Jerman ini adalah salah satu pemasok
utama mesin-mesin PT Krakatau Steel, dan juga pemegang saham dalam dua
perusahaan milik Bambang Trihatmojo, yakni perusahaan tanker PT Samudra
Petrindo Asia dan perusahaan rekayasa penyulingan minyak, PT Samudra Ferro
Engineering (Friedland, 1988: 81; CISI, 1997: 1100-1102; Panji Masyarakat ,
7 Juni 1998).

Tidak cuma itu. Beberapa orang sumber saya menegaskan bahwa Yayuk Habibie
membantu kakaknya menggolkan penjualan 39 kapal perang bekas armada Jerman
Timur kepada pemerintah Indonesia, demi komisi serta penyelamatan kinerja
PT PAL. Kontrak yang membengkak dari 760 juta menjadi 1,1 milyar dollar AS
itu, nyaris menimbulkan keretakan antara Habibie dengan DPR-RI, Bappenas,
Departemen Keuangan, dan Angkatan Luat. Maka terpaksalah tiga ekor pelanduk
bernama Tempo , Editor  dan Detik   -- yang sering memuat kontroversi itu
-- dikorbankan demi penyelamatan muka para gajah yang sedang bertarung.

Jadi boleh dikata, mayat Tempo , Editor ,  dan Detik   merupakan tumbal
untuk "peremajaan" armada ALRI, dengan menggunakan kapal perang bekas yang
disesuaikan dengan perairan Laut Baltik dan Laut Utara yang berhawa dingin
di bawah nol. Jangan tanya pada rumput yang bergoyang, bagaimana
kapal-kapal bekas -- yang tidak disesuaikan dengan perairan tropis -- dapat
meremajakan satu armada Angkatan Laut, yang sudah sangat bergantung pada
kapal-kapal tua pula. Hanya Super Jenius Habibie yang tahu rahasianya.

Kesuksesan memakelari 39 kapal bekas Jerman Timur itu didahului Yayuk
dengan menjadi calo penjualan 32 pesawat Boeing 737-200 yang dilego
maskapai penerbangan Jerman Lufthansa, setelah dipakai selama 20 tahun.
Resminya, penawaran Lufthansa itu disampaikan lewat Habibie, tapi menurut
sumber-sumber saya di Jerman, Yayuk lah kontak Lufthansa yang utama. Alasan
Habibie, pembelian pesawat-pesawat bekas itu merupakan peluang untuk
mengembangkan Universal Maintenance Centre (UMC), sebuah unit perbengkelan
IPTN.

Yang tidak dijelaskan oleh Habibie adalah bahwa Lufthansa ingin menjual
pesawat-pesawat Boeing 737 nya yang sudah tua, untuk meremajakan armadanya
dengan membeli 20 pesawat Airbus A 319 yang baru. Hal itu saya baca di
koran The Australian , 24 Februari 1995. Seperti kita ketahui, Habibie
punya hubungan khusus dengan konsorsium perusahaan Eropa produsen Airbus,
yang menggunakan rumus Habibie dalam perhitungan kekokohan dinding
pesawatnya.

Karena ditekan habis-habisan oleh Habibie dan Menteri Perhubungan Haryanto
Dhanutirto yang juga konco Habibie, Garuda akhirnya membeli tujuh pesawat
bekas itu, sedangkan Merpati tiga. Awal 1995, Mandala Airlines dan Bouraq
Airlines, masing-masing telah membeli dua dan tiga pesawat bekas itu.
Mandala Airlines -- sebelum bangkrut karena krisis moneter -- bahkan punya
rencana membeli delapan lagi. Seperti kita ketahui, perusahaan penerbangan
ini adalah milik Yayasan Dharma Putera Kostrad (melalui PT Dharma Kencana
Sakti), Nusamba dan Sigit Harjojudanto, sedangkan presiden komisarisnya
adalah Jenderal (Purn.) Wismoyo Arismunandar, ipar Suharto.

Seperti kita ketahui, direktur Garuda Wage Mulyono akhirnya dicopot karena
menolak pembelian pesawat-pesawat bekas itu. Ia diganti oleh Supandi  yang
sudah digembleng loyalitasnya sebagai Ketua Pelaksana Eksekutif Otorita
Batam di bawah B.J. Habibie.

Kembali ke cakupan bisnis Yayuk Habibie. Selain sebagai perwakilan tidak
resmi Ferrostahl, Yayuk Habibie juga punya saham di beberapa perusahaan
Jerman yang lain serta usaha patungan Jerman di Indonesia. Misalnya, ia
memiliki saham di perusahaan sekuritas Deutsche Morgan Grenfell Securities
cabang Jakarta dan menguasai 70% saham PT Deutsche Real Estate Indonesia
(DREI), pemilik gedung Deutsche Bank cabang Jakarta, melalui perusahaannya
yang terdaftar di Jerman, Debeko Immobilien GmbH. Sisa saham PT DREI yang
30% dikuasai keponakan-keponakannya, Ilham dan Thariq Habibie, melalui PT
Iltabi Rekatama.

Bersama perusahaan para keponakannya itu serta PT Citra Harapan Abadi,
Yayuk juga menguasai kuranglebih seperempat jumlah saham PT Guntner
Indonesia, anak perusahaan Hand Guntner GmbH di Jerman. Perusahaan patungan
ini berencana membangun pabrik heat exchanger   berkapasitas 2000 pieces di
Pasuruan.

Selain itu, melalui PT Trimitra Upayatama milik Yayuk Habibie dan kedua
keponakannya itu, ia mengambil alih usaha patungan Bank Buana Indonesia
dengan Deutsche Bank, bernama PT Euras Buana Leasing Indonesia. Perusahaan
itu diganti namanya menjadi PT DB (Deutsche Bank) Leasing Indonesia.

Beberapa perusahaan Jerman yang dekat dengan Yayuk Habibie ini kembali lagi
ada hubungannya pula dengan sektor telekomunikasi serta penerbangan yang
tampaknya merupakan spesialisasi keluarga besar ini. Deutsche Morgan
Grenfell (DMG), ikut mengkoordinasi suatu kredit sindikat sejumlah 380 juta
dollar AS untuk membiayai proyek telekomunikasi di Jawa Tengah.

Sementara itu, DMG juga ikut mengkoordinasi tender pembelian enam pesawat
Airbus A-330 (rancangan Habibie!), di mana sejak awal ada kesalahan
prosedur tender, yang diperkirakan akan menyebabkan Garuda akan rugi
sebesar 8 juta dollar AS, atau Rp 136 milyar, menurut kurs sekarang
(Williamson, 1998; Wibisono, 1998; PDBI, 1997: A-1474 - A-1476; Editor , 18
Nov. 1993: 13, 16 Juni 1994: 29-30; Forum Keadilan, 23 Juni 1994: 12, 9
Febr. 1998: 92;Tempo , 25 Sept. 1993: 89-90, 4 Juni 1994: 88-89;
Info-Bisnis , Nov. 1994: Advertorial; Indo-Commercial , 26 Jan. 1995: 2;
Independen , 31 Jan.  1995: 20; The Australian , 24 Febr. 1995; Economic &
Business Review Indonesia , 5 Febr. 1994: 34; sumber-sumber lain).

Barangkali kedekatannya dengan perusahaan-perusahaan Jerman itu, dan
kenyataan bahwa ia sering mondar-mandir antara Jakarta, Jerman, Australia,
dan AS, kini beredar kabar angin di Eropa, bahwa Yayuk Habibie ikut
bertugas mengamankan sebagian harta keluarga Suharto di bank-bank Jerman
dan Swiss.

Kecurigaan itu juga perlu dialamatkan ke Ibnu Sutowo, yang duduk di badan
penasehat Inter Maritime Bank di Jenewa, milik makelar tanker Pertamina,
Bruce Rappaport, yang ikut terlibat dalam skandal Pertamina sebesar 10
milyar dollar AS di akhir 1970-an (McDonald, 1980: 162-163).

Kecurigaan itu didasarkan pada pengetahuan orang tentang kedekatan antara
Suharto, Ibnu Sutowo, dan Habibie. Sejumlah perusahaan milik ketiga
keluarga itu bahkan tumpang-tindih sahamnya. Misalnya, lapangan golf
Kosaido Tamarin Santana di Pulau Batam, yang merupakan usaha patungan
antara PT Trimitra Upayatama milik Yayuk Habibie dan kedua putra B.J.
Habibie, dengan PT Kosaido Tamarin Santana, anak perusahaan Nugra Santana
milik keluarga Ibnu Sutowo.  Lalu, jangan lupa, kelompok Repindo Panca
milik Thariq Kemal Habibie juga berpatungan dengan Nugra Santana.

Nugra Santana pada gilirannya berpatungan dengan kelompok Nusamba milik
tiga yayasan yang diketuai Suharto, dalam lapangan golf Bali Handara
Country Club serta konsesi hutan PT Alas Helau dan pabrik Kertas Kraft
Aceh. Nugra Santana juga berpatungan dengan Bambang dan Tommy Suharto dalam
Bali Turtle Island Development Project  di Pulau Serangan, Bali, dan dengan
Tommy dalam PT Mabua dan PT Indonesia Pharmaceutical Industries, yang
bisnisnya tersebar dari Bali, Batam s/d ke Burma.

(bersambung)