[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR--Re: BERITA-BERITA TENTANG KERUSUHAN IRJA



> Apparently-to: siar@mole.gn.apc.org
> From: Waruno Mahdi <mahdi@FHI-Berlin.MPG.DE>

Teman-teman redaksi SiaR yang baik,

Saya inging ucapkan selamat kepada teman-teman yang dengan konsekuen membawa
berita yang merawankan hati/memprihatinkan dari Irian Jaya kepada pembaca di
setiap pelosok tanahair maupun kepada kita-kita yang sedang di luar negeri.
Terimakasih banyak-banyak untuk upaya Anda-anda ini.

Saya ingin melepaskan rasa sedih saya, melihat masih banyak kawan setanah
air yang dengan mudah mencela gerakan perlawanan penduduk Irja sebagai
gerakan separatis dan keburu membenarkan tindakan kekerasan aparat negara
terhadapnya.

Perlu saya tandaskan terlebih dahulu, bahwa saya samasekali tidak mendukung
pemisahan wilayah Irian Barat dari RI (lain halnya dengan Timor Timur yang
memang telah kita duduki secara tidak sah baik dari segi hukum
internasional, maupun dibanding dengan ketetapan batas-batas wilayah
Republik Proklamasi 1945). Bagi yang berminat, saya pernah menanggapi
tayangan seorang anggota OPM
mengenai masalah ini, dan memuatnya di WWW pada alamat:

         http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/PAP/IrJa-n-OPM.html

Tetapi ada tiga kenyataan yang perlu kita sadari:

Pertama, wilayah Irian Barat itu baru kembali ke pangkuan pertiwi pada tahun
1963, setelah 13 tahun lamanya pisah dari wilayah dan bangsa Indonesia
lainnya. Karena itu, tindakan-tindakan kekerasaan terhadap penduduk yang
dilakukan oleh oknum-oknum yang bertindak sebagai aparat negara RI
ditanggapi oleh penduduk Irian Jaya tidak sama seperti rakyat daerah lain
menanggapinya. Itu ditanggap bukan sebagai tindakan oknum tertentu yang sama
bangsa Indonesia, melainkan sebagai tindakan wakil-wakil bangsa Indonesia
terhadapnya. Tidaklah mengherankan kalau bisa timbul syak-wasangka.

Kedua, bahkan sebelum permulaan masa Orde Baru, yaitu entah tahun 1963 atau
1964, ada suratkabar (khususnya "Berita Indonesia") yang mencatat adanya
perlakuan kasar warga ABRI terhadap penduduk pribumi Irian Jaya yang
menimbulkan keresahan di kalangan penduduk itu (waktu itu belum ada sensor
kuat seperti pada jaman Orde Baru). Kita tahu sendiri, di masa Orba bahkan
tambah banyak dan tambah gawat.

Laporan dari kalangan gereja yang telah diperkuat oleh KomHAMNas malah
menunjukkan adanya pembunuhan dan penganiayaan penduduk pribumi serta
penggusuran atau penghancuran rumah tinggal dan rumah ibadah dalam jumlah
yang sangat mengejutkan. Jadi, fakta-fakta untuk memperkuat syak-wasangka
tersebut sungguh amat serius.

Ketiga, penduduk pribumi Irian Jaya itu rata-rata berkulit hitam dan
berambut keriting, berbeda dengan banyak warga ABRI ataupun petugas sipil
pendatang yang didinaskan di propinsi tersebut, yang kulitnya berwarna
sawomatang dan rambut kejat. Hal ini menimbulkan unsur rasial dalam
pertentangan yang ada antara orang pribumi dan orang pendatang.

Khusus dalam masalah antara penduduk dan oknum ABRI yang mengasari atau
menganiayainya itu, unsur ras ini berat sekali konsekuensinya. Apalagi
setelah dipertajam dengan penghinaan-penghinaan seperti yang baru-baru ini
dilontarkan oleh seorang perwira ABRI, bahwa mereka adalah "orang primitif".

Kejadian ini sekali lagi memperingati kita bahwa reformasi ini belum cukup
dengan merombak struktur politik dan ekonomi. Tidak kurang penting juga
reformasi dalam ABRI. Adalah jelas, bahwa kelakuan oknum ABRI yang membunuh
dan menganiaya penduduk dan menghancurkan rumah dan tempat ibadahnya itu
bertentangan benar dengan Pancasila, UUD, dan Saptamarga. Ini adalah satu
kondisi yang sangat berbahaya bagi keamanan RI dan memerlukan pengelolaan
secepat mungkin.

Tugas primer ABRI adalah membela keutuhan wilayah RI. Dalam kenyataan,
kegiatannya di propinsi Irian Jaya telah menimbulkan bahaya akut lepasnya
propinsi tersebut dari wilayah RI karena penduduk sudah tidak rela dikasari
dan dianiyayai terus. Beginilah akibatnya pengebirian ABRI oleh Orde Baru
sehingga penuh dengan oknum yang memungkiri Pancasila, UUD, dan Saptamarga.

Bagi kekuatan reformasi saya pikir penting sekali memberi reaksi yang tegas
dalam hal ini, yaitu ramai-ramai memberi dukungan/solidaritas kepada
penduduk Irian Jaya dan membela rakyat propinsi tersebut dari
tindakan-tindakan kekerasan lebih lanjut. Kita harus pertama-tama mengerti
bahwa bukan salah mereka kalau
memasang bendera separatis. Itu cuma alat satu-satunya yang masih mereka
miliki untuk menyalurkan kekecewaan dan kemarahannya yang sangat lumrah itu.
Mari kita sediakan peluang rumah Indonesia reformasi yang memberi saluran
yang lebih tuntas untuk perjuangan mereka yang adil itu. Mereka perlu
melihat, bahwa orang Indonesia yang sesungguhnya bukan oknum-oknum aparat
anti-Pancasila Orba.

Karena itu, kita jangan keburu mencari celanya dulu, melainkan lebih dulu
menunjukkan rasa solider kita dengan mereka dan melakukan otokritik karena
telah melalaikan kawan setanahair dalam penderitaan mereka. Mari kita buka
pintu rumah Indonesia dalam semangat reformasi dan menerima mereka dalam
rumah ini dengan segala keramah-tamahan, seperti yang semestinya dilakukan
sejak dulu setelah 1963. Justru saat itu mereka malah ditraktir dengan
sepatu lars!

Khusus kepada kawan-kawan mahasiswa saya serukan, tunjukkan rasa solider
dengan korban di UnCen seperti halnya yang di Usakti kemarin. Kalau ada
kesempatan, kirimlah delegasi-delegasi ke Irian Jaya untuk turut melindungi
korban-korban, dan bahkan juga bendera separatis yang mereka kibarkan.
Karena pengibaran  bendera itu tujuan sesungguhnya bukan melawan kita, bukan
melawan reformasi, bukan juga melawan RI, melainkan melawan aparat
anti-Pancasila yang telah menganiaya mereka selama 35 tahun ini dengan
meng-"atas nama"-kan RI secara palsu. Artinya melawan apa yang juga dilawan
oleh seluruh gerakan reformasi!

Gerakan reformasi di pusat, kenalilah kawanmu di Irian Jaya!

Salam reformasi,
Waruno

-----------------------------------------------------------------------
Waruno Mahdi                  tel:   +49 30 8413-5404
Faradayweg 4-6                fax:   +49 30 8413-3155
14195 Berlin                  email: mahdi@fhi-berlin.mpg.de
Germany                       WWW:   http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/
-----------------------------------------------------------------------