[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: Kolonel (Purn) A. Latief: "SOEHARTO ITU PENDENDAM"



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 40/I/3 - 9 Oktober 98
------------------------------

Kolonel (Purn) A. Latief: "SOEHARTO ITU PENDENDAM"

(WAWANCARA): Dua pekan terakhir, nama Kolonel A. Latief ramai diberitakan
media-massa. Maklum, mantan Komandan Brigif I Jakarta itu, merupakan salah
satu tokoh kunci untuk menguak misteri Peristiwa G 30 S 1965. Dari Latief
lah keluar keterangan bahwa Soeharto, saat itu menjabat Panglima Kostrad,
terlibat -paling tidak mengetahui- penculikan tujuh jenderal. Berikut
wawancara tertulis Xpos dengan Latief, yang masih mendekam di LP Cipinang,
Jakarta:

T: Sejauh mana Anda kenal Soeharto?
J: Saya kenal Soeharto thn 1948 sewaktu gerilya di Yogyakarta, saat
diresmikan menjadi anak buahnya. Saya datang ke markasnya di Segarayoso
dekat Gua Selarong tepi pantai, menuju ke tempat tersebut berjalan kaki satu
hari, saya datang pukul 22 malam. Kompi saya dinamakan Kompi 100 langsunq
Brigade X, Komandan Militer Kota (KMK) Letkol Latief Hadiningrat pindah
jabatan. Pembicaraan lain hanya soal perjoangan, lalu menjelang pagi saya
kembali ke front pinggiran kota Dongkelan.

T: Seperti apa karakter yang Anda kenal sebagai militer dan sebagai politisi?
J: Saya kenal sejak pangkat kapten yang baru diraionalisasi yang tadinya
mayor Komandan Sektor di Wonosobo-Temanggung dan Soeharto Komandan Sektor
Purworejo-Gombong. Dalam buku perang gerilya saya tertulis disitu.

Menurut pengamatan saya, waktu itu ia adalah seorang militer yang berwatak
stroef, kaku dan agak pendiam, jarang bawahanya berani datang. Jadi ia
seorang militer.

Sebagai politisi tidak begitu kenal, sebab orangnya tertutup, kesenanganya
membuat yayasan. Misalnya, Yayasan Perumahan di Salatiga. Di Yogyakarta
Yayasan Ex Prajurit/PT EXPRA sebuah perusahaan Angkutan Bus Yogya-Semarang.

Sewaktu menjadi Komandan Bataliyon 408 Salatiga pangkat Mayor. Pernah diajak
Mayor Soenaryo Pomdam Divisi Diponegoro. Untuk mengusut soal penyusupan dan
manipulasi barang-barang bekas pakai mobil di Semarang. Tapi saya hanya ikut
saja, tidak mempunyai peranan apa-apa hanya ingin tahu. Waktu itu
Panglimanya Kolonel Soeharto. Kepala Staf Letkol Pranoto Reksosamodro. Kata
Mayor Soenaryo Kepala Pomdam Divisi Dipenogoro. Untuk mengusut soal
manipulasi penjualan mobil-mobil oleh Kolonel Soeharto yang bekerja sama
dengan orang cina bernama Liem Sioe Liong dan dua orang lainnya saya lupa
namanya. Ini katanya mendapat intruksi dari atasanya untuk diusut, saya
kurang memperhatikan karena bukan bidang saya. Saya hanya ingin mendapatkan
berita saja, saya sendiri terus mendapat perintah Sekolah di SSKAD, Letkol
Pranoto Reksosamodro sekolah di Kursus "C" di Bandung. Jadi saya tidak
mengetahui kelanjutan peristiwa itu lagi.

Setelah lulus saya dipindahkan ke Liperasi VRRI di Padang sebagai Asistan
Intel 1 17 Agustus merangkap Combat. Dan setelah tugas satu tahun pindah ke
Jakarta sebagai Ka staf Resimen Induk Kesehatan dan terus latihan RPKAD
terjun payung di Batujajar bersama-sama Letda Try Soetrisno Lulusan Atekad
dan Letda Hatmanto AMN (baru lulus).

Tahun 1960, Soeharto di sekolahkan Seskoad Bandung lichting ke I terus
menjabat Komandan Caduad/Kostrad Sakarang, sedang Kolonel Pranoto
Reksosamodro diangkat Panglima Kodam Dipenogoro thn 1960. Saya pernah
membaca surat pada waktu Kol. Soeharto diangkat menjadi Komandan
Caduad/Kostrad oleh Jenderal A.H Nasution, ia menolak kalau masalah di Jawa
Tengah tidak diselesaikan dan minta, kepada orang yang melaporkan atas
dirinya diberi tanda jasa (sindiran).
Saya sendiri tahun 1961 mendapat perintah Sekolah di Sesko AD lichting ke
II, sesudah Soeharto dan saya satu lichting antara lain Kolonel Panggabean.
Saya mendengar berita Kolonel Soeharto akhirnya diangkat menjadi Pangkostrad
Cadangan Angkatan Darat, terus ia menjabat sebagai Panglima Trikora.

Sebelum berangkat Sekolah ke Sesko AD, sewaktu saya bertempat di Hotel Duta
Indonesia sekeluarga, (belum dapat rumah) saya didatangi oleh Letkol
Mardanus atas perintah Brigjen Soeharto, saya diminta untuk menjadi Komandan
Brigade Tempur, Penerjun untuk tugas Trikora Irian Jaya. Saya jawab,
"Terserah Jenderal Soeharto, sekarang saya mendapat perintah sekolah.
Sekolah ke Sesko AD atau saya berangkat sebagai Dan Brigif tempur." Pada
akhirnya setelah melapor kepada Komandan Mandala Trikora Brigjen Soeharto,
saya diperintahkan sekolah lebih dahulu.

Berita yang mengejutkan tentang diberhentikanya Kolonel Pranoto Reksosamodro
dari Pangdam Dipenogoro Jawa Tengah dan harus menganggur selama enam bulan.
Apa sebab? Mungkin karena ada hubungannya dengan terbongkarnya korupsi
Soeharto di Jateng sedangkan Kol. Soenaryo diangkat menjadi Jaksa Agung Muda
oleh Presiden Soekarno. Aneh malah Kol. Pranoto yang diberhentikan.
Akhirnya, Kol. Pranoto diangkat menjadi Staf Koti/Komando Tertinggi oleh
Presiden Soekarno dan terakhir sebagai Asisten III (personalia) di MABAD.
Dan menyatu antara Soeharto dan Pranoto tidak saling menyapa seperti dendam.
Itulah yang saya tahu pada waktu itu.

Wataknya suka dendam dan bertindak otoriter dan kopig (kepala batu) itu
kata, Presiden Soekarno!

T: Banyak skenario peristiwa G 30 S, versi anda bagaimana?
J: Saya orang yang cacad wicara, apa yang saya berikan kepada teman-teman
wartawan secara maksimal telah saya berikan. Malahan selalu saya tekankan
sampai-sampai saya kehabisan batery suara. Nah, kemungkinan penerimaan atau
pendengaranya kurang jelas sehingga mungkin kadang-kadang salah tafsir atau
malah salah tulis untuk diterjemahkan. Akhirnya, mungkin dikarang sendiri.

Saya sering menjumpai yang diterjemahkan salah malahan menyimpang bahkan
bisa fatal bagi diri saya, contohnya, yang tidak tahu disitu ditulis saya
mengetahui dan sebagainya. Sudahlah ini sebagai konsekwensi saya tanggung,
apa boleh buat.

Sebenarnya saya sangat menyesal terhadap diri saya sendiri, mengapa pada
jaman gejolak perjuangan, yang menguntungkan, seperti pada era reformasi
seperti ini saya diberi penyakit seperti ini, stroke. Kita, harus selalu
mohon ampun pada Tuhan dan kami tidak mengeluh hanya semoga lekas sembuh,
pulih dan pulih kembali. Saya iri dengan teman-teman .

T: Anda dekat dengan Soeharto, sejak kapan?
J: Sejak saya bergerilya di Yogyakarta 1948. Ceritanya panjang: Waktu itu
TNI semua terkena rasionalisasi dan rekonstruksi jaman Kabinet Hatta. Jaman
perjuangan sedang hebatnya, bertempur dengan Belanda. Kok ada Ra & Re.
Banyak anak buah yang terkena Ra & Re (berhenti berjoang).
Setelah tahun 1950 di Yogya dipindah ke Bataliyon 413 di Gombong. Kemudian
ditugaskan ke Tasikmalaya, Gunung Galunggung, Pangandaran Ciamis. Belum saya
selesai tugas selama 8 bulan. 
Tiba-tiba dapat perintah operasi ke Ambon di Seram menghadapi RMS pindah ke
Bataliyon 437 Purworejo masih pimpinan Letkol. Soeharto thn. 1951. Pindah
lagi ke staf Divisi Dipenogoro tahun 1961 dan akan disekolahkan ke Pusat
Infanteri, tapi gagal dan kembali staf Kodam, waktu itu Letkol. Soeharto
juga pindah sebagai Komandan Resiman 13 Salatiga dan saya diminta olehnya
untuk memperbaiki Yon 408 berasal dari Madura. Mungkin Soeharto mengerti
kalau saya sewaktu kecil di Madura dan pindah ke Salatiga, tapi Letkol
Soeharto pindah ke Solo dan saya tetap di Salatiga s/d pertengahan tahun
1957. Pada saat itu hubungan biasa antara atasan dengan bawahan.

T: Sewaktu Anda mengunjungi Soeharto menjelang peristiwa G 30 S 1965, bisa
dirinci isi pembicaraannya? Benar Anda melapor tentang G 30 S?
J: Sore hari tanggal 30 September 1965 Brigjen Pardjo dan Letkol Untung
datang ke rumah saya membicarakan sesuatu juga dengan adanya ke RSPAD
mengunjungi Tommy yang ketumpahan air sop panas, di RSPAD dibicarakan juga
bila bertemu Soeharto supaya disampaikan juga mengenai maksud kita untuk
menghadapkan tujuh jenderal kepada Presiden tanggal 1 Oktober 1965. Saya
mengusulkan agar Brigjen Soeparjo dan Letkol Untung turut serta agar lebih
baik. Tapi Jendral Pardjo dan Untung tidak bisa menghadiri karena ada
pekerjaan sekarang sedang waktu pukul 23.00 kita bertemu lagi. Akhirnya saya
berangkat.

Sesampai di RSPAD kira-kira pukul 22.00 malam saya terus menyalami Pak Harto
dan Bu Tien dengan mengucapkan turut prihatin. Pada waktu itu banyak tamu
datang dan pergi, jadi keleluasaan kurang, ada kesempatan sebentar saya
gunakan untuk menyampaikan berita itu; "Pak, besok pagi Men (Resimen, pen)
akan menghadapkan tujuh Jenderal (Jend. A.H. Nasution, Jend. A. Yani, Jend.
Soepardjo, Jend. S. Parman, Jend. Haryono, Jend. Soetoyo dan Jend.
Panjaitan) mereka akan dihadapkan langsung kepada Presiden Soekarno Pangti
ABRI PBR, mengenai persolan Dewan Jendral agar semuanya bisa clear"

Penerimaan beliau hanya manggut-manggut dan kemudian bertanya: "Siapa yang
menghadapkan?" "Dari Resimen Cakrabirawa," jawab saya.

Karena suasana masih masih dalam keadaan duka, dan banyak tamu, saya tak
lama-lama segera pamitan pulang.

T: Bagaimana peran Soeharto pada peristiwa G 30 S? 
J: Pertama, seharusnya dia mempunyai atasan yaitu Men Pangad Jenderal A.
Yani, setelah menerima laporan dari saya seharusnya/setidak-tidaknya laporan
kepada Pangad Jendral A. Yani, tapi dia tidak melakukanya.

Kedua, dengan adanya peristiwa terbunuhnya para jendral seharusnya
melaporkan kepada yang lebih atas, yaitu Presiden Panglima Tertinggi PBR
Bung Karno, tapi semua ditangani sendiri.

Ketiga, pada waktu itu Presiden Pangti ABRI/PBR, Bung Karno telah
memerintahkan Jendral Soepardjo untuk berhenti menembak dan pasukannya
supaya ditarik mundur dan konsolidasi pada jam dan hari itu juga pasukan
yang ada di Monas, ditarik mundur, Yon 445 dan 530 Raiders, Jenderal
Soeharto mengetahui dan malamnya Presiden Pangti ABRI/PBR Soekarno telah
kembali ke Bogor.  

Pada pagi harinya Soeharto mengadakan penyerangan ke Lapangan Halim tanpa
sepengetahuan Presiden. Kami diserang waktu itu terus melawan, kami luka
seorang dan mereka dari RPKAD mati. Malahan Presiden Pangti ABRI Bung Karno
justru dituduh terlibat G30S.

Mencabut perintah Pangti ABRI/PBR Bung Karno terhadap Mayjen Pranoto
Reksosamodro untuk menjadi care taker Men Pangad, malah Mayjen Pranoto
ditahan. Pada klimaksnya mengerahkan tentara untuk berdemontrasi
sampai-sampai Presiden dan seluruh kabinet yang sedang rapat bubar dan
presiden Soekarno terbang ke Bogor. 

Pada puncaknya dia minta Surat Penyerahan 11 Maret dan akhirnya Presiden
Soekarno ditahan dan Soeharto lah yang mengadakan coup d'etat atau creeping
coup d'etat dan Soekarno ditahan sampai wafat.

Kelanjutan dari itu semua, terus diadakan pembersihan dan pembubaran PKI
kemudian banyak rakyat yang mati terbunuh sampai jutaan. Soeharto oleh kami
tadinya dinilai orang yang loyal terhadap Bung Karno. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist