[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR---HKBP SSA-AP KUASAI KEMBALI KANTOR PUSAT HKBP DI PAERAJA, TARUTUNG



HKBP SSA-AP KUASAI KEMBALI KANTOR PUSAT HKBP DI PAERAJA, TARUTUNG

        MEDAN (SiaR, 11/10/98), Setelah berjuang kurang lebih 6 tahun, HKBP
SSA-AP (Setia Sampai Akhir terhadap Peraturan & Aturan) pimpinan Ephorus
Pendeta SAE Nababan, akhirnya berhasil merebut kembali Kantor Pusat HKBP dan
Kompleks Perumahan HKBP di Paeraja, Tarutung, Tapanuli Utara.

        Pengambilahan kembali kantor Pusat HKBP Paeraja yang sejak 16
Januari 1993 dikuasai kelompok SAI Tiara pimpinan Pendeta PWT Simanjuntak,
Dilakukan oleh mahasiswa, pemuda serta warga jemaat yang tergabung dalam Forum
Keprihatinan Warga (FKW) Jumat (9/10) lalu sekitar pukul 06.30 WIB.

        Mahasiswa, pemuda dan unsur FKW yang berjumlah 130 orang, berhasil
mengusir Satgas SAI Tiara yang berjumlah sekitar 35 orang. Baku hantam tak
terhindarkan. Ada 5 orang dari Satgas SAI Tiara yang berhasil ditangkap
Kelompok SSA-AP. Namun seorang berhasil melarikan diri. Sedang 4 orang
langsung diserahkan ke RSU Tarutung, mereka yaitu: Darwin Napitupulu (warga
Katolik asal Kutacane), Jan Henry Tampubolon (GKPP Kutacane), Guru Afdol
Berton Silaban (Guru Jemaat HKBP Ramonia) dan Bintang Pane (Pelajar STM HKI
Tarutung).

        Pukul8.15 WIB ratusan Satgas SAI Tiara mencoba merebut kembali
Kantor Pusat HKBP, banyak di antara anggota Satgas SAI Tiara yang mengenakan
topeng a la Ninja Jepang. Aksi saling melempar batu dan bom molotov tak
terhindarkan. Tidak berselang lama, datang puluhan aparat keamanan sehingga
pertempuran yang lebih seru dapat diredam.

        Pada Sabtu (10/10) lalu menjelang subuh dini hari, sekitar pukul
04.00 WIB, anggota Satgas SAI Tiara melakukan penyerbuan kembali. Namun
penyerbuan tersebut dapat lagi dipatahkan pihak SSA-AP. Pukul 05.30 WIB,
sekitar 500 anggota Satgas SAI-Tiara melakukan penyerbuan kembali. Pada
serbuan kali ini, mereka berhasil menerobos penjagaan SSA-AP. Tapi ketika
hendak mendekati Gedung Kantor Pusat HKPB, kelompok SSA-AP berhasil
menghalau Satgas SAI Tiara.

        Aksi pengambilalihan Kantor Pusat HKBP di Paeraja, tidak saja
menimbulkan korban luka-luka pada keduabelah pihak, namun juga meminta
korban nyawa dari pihak SAI-Tiara. Seorang pendeta SAI Tiara yaitu Pendeta
Mangontang Rajagukguk pada hari pertama pengambilalihan yang dilakukan kelompok
SSA-AP, mengalami luka bacok. Pendeta Mangontang Rajagukguk menghembuskan
napasnya pukul 09.00 WIB di RSU Tarutung. Sebuah sumber di Kantor
(sementara) HKBP SSA-AP di Pematang Siantar menyebutkan bahwa tewasnya Pdt.
Mangontang Radjagukguk tidak disebabkan luka bacokan.

        "Tapi Mangontang tewas karena ketika melarikan diri, diduga dia
melompat ke jurang terjal yang terletak persis di belakang rumah yang selama
ini didiami Pendeta PWT Simanjuntak," ujar sumber tersebut.

        Pihak SSA-AP sendiri mengatakan, bahwa hingga kini, jumlah warga jemaat
yang bergabung dengan mahasiswa, pemuda dan FKW sudah berjumlah sekitar 600
orang. Mereka bernyanyi, bersekutu dan mengadakan kebaktian bersama.

        Kisruh di tubuh HKBP, sebuah gereja protestan tertua di Indonesia yang
mempunyai jemaat sekitar 2,5 juta itu, bermula ketika pada tahun 1992 muncul
Skep (Surat Keputusan) Bakorstanasda Sumbagut No 3/Stada/XII/1992 tentang
Penunjukan Pejabat Ephorus HKBP yang ditandatangani oleh Ketua Bakorstanasda
Sumbagut Mayjen TNI R Pramono. Sudah tentu munculnya Skep Bakorstanasda
Sumbagut tersebut mengundang tanda tanya besar. Soalnya selama 130 tahun
lebih, baru kali itulah terjadi di tubuh HKBP bahwa instansi di luar gereja
mengeluarkan Skep pengangkatan pejabat Ephorus.

        Selain melecehkan AD/ART HKBP, Skep itu juga akhirnya menimbulkan
rentetan tindak kekerasan seperti teror, intimidasi, penangkapan secara
sewenang-wenang dan penganiayaan yang harus dialami warga jemaat dan pendeta
yang menolak campur tangan militer tersebut.

        Pihak yang menolak Skep, belakang dikenal dengan sebutan HKBP SSA-AP di
bawah pimpinan Ephorus Pendeta SAE Nababan. Sedang pihak yang menerima Skep
Bakorstanasda kemudian dikenal sebagai HKBP SAI Tiara (Sinode Agung
Istimewa yang dilaksanakan di Hotel Tiara Medan dibawah kawalan ketat pihak
militer). Sejak itu, terjadi bentrok fisik yang berdarah-darah. Dari catatan
yang ada, tercatat 5 orang tewas dalam pertikaian tersebut, 2 orang dari
kelompok SAI Tiara, dan 3 orang dari SSA-AP. Korban luka fisik dan harta,
jangan tanya lagi.

        Sampai akhirnya pada September  terbetik kabar bahwa antara SSA-AP dan
SAI Tiara akan terjadi perdamaian. Maklum, bulan Oktober ini, masa jabatan
SAE Nababan dan PWT Simanjuntak sama-sama akan habis. Untuk itu ada rencana
membuat Sinode Agung (SI) bersama. Menurut sebuah sumber, pihak SSA-AP
menginginkan Panitia SI merupakan gabungan dari kedua kubu. Mereka
melaksanakan SI dan memilih fungsionaris yang baru. Setelah terbentuk
fungsionaris baru, kemudian bisa diadakan Sinoder Kerja atau Istimewa untuk
meminta pertanggungjawaban PWT Simanjuntak dan SAE Nababan.

        Pihak SAI Tiara mengusulkan agar pada waktu SI, baik SAE Nababan
maupun PWT Simanjuntak mempertanggungjawabkan dihadapan masing-masing
kelompoknya. Baru setelah itu dibentuk panitia SI dan memilih fungsionaris baru.

        Pihak SAE Nababan kabarnya tidak setuju dengan usulan SAI Tiara, karena
dengan demikian kesalahan kelompok SAI Tiara yang menerima Skep
Bakorstanasda Sumbagut serta ekses-ekses yang ditimbulkan, seolah menguap
begitu saja. Pihak SSA-AP tetap menuntut, walau rekonsialisasi terjadi
dengan pihak SAI Tiara, namun tuntutan hukum berjalan terus. Karena terjadi
deadlock, maka kelompok SSA-AP, yang dimotori mahasiswa, pemuda dan unsur
FKW akhirnya mengambilalih kembali Kompleks Kantor Pusat HKBP Paeraja,
Tarutung.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist