[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: KKN GINANDJAR DI FREEPORT
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------
KKN GINANDJAR DI FREEPORT
(PERISTIWA): Mega berpeluang kuat jadi presiden. Ia didukung berbagai basis
politik, baik massa, pemilik modal, dan ABRI. Apa kelebihan dan
kekurangannya sebagai kandidat pemimpin negeri?
Cerita tentang kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) di Indonesia, tidak
pernah ada habisnya. Bahkan, seorang menteri yang dianggap sebagai tokoh
yang ikut andil menjatuhkan Soeharto, Ginandjar Kartasasmita, kali ini
menjadi sasaran tuduhan. Yang menuduhnya pun bukan sembarang orang, Dr.
Jeffrey Winters, pengamat politik-ekonomi terkemuka dari Northwestern
University, Amerika Serikat.
Menurut Jeffrey, Ginandjar terlibat KKN dengan perusahaan pertambangan AS
yang beroperasi di Irian Jaya, Freeport-McMoRan. Ginandjar dianggap berada
di balik penjualan saham perusahaan yang bermarkas di New Orleans kepada
Grup Bakrie. Kepada para wartawan, Jeffrey mengatakan, selama Ginandjar
tidak diperiksa, akan sulit mengharapkannya berperan sebagai pelopor upaya
pemberantasan korupsi.
Tudingan Jeffrey kontan membuat telinga Ginandjar merah. Rabu lalu (14/10),
usai menghadap BJ Habibie, Ginandjar mengemukakan niatnya untuk menuntut
Jeffrey lewat jalur hukum. Ia rupanya, telah mendapat persetujuan dari
Habibie untuk melakukan hal itu. Hanya saja, Jeffrey sudah lebih dulu
meninggalkan Indonesia.
Apakah Jeffrey memiliki bukti-bukti yang menunjang tuduhannya, hal ini belum
dapat dikonfirmasikan. Namun, semestinya ia memiliki pertimbangan tertentu,
sehingga berani mengungkapkan hal itu di depan pers.
Sebetulnya, cerita tentang "eratnya" hubungan Ginandjar dengan Freeport
McMoRan sudah pernah dikupas secara cukup mendalam oleh Peter Waldman,
wartawan Asian Wall Street Journal. Dalam edisi 30 September lalu, laporan
investigatif itu sudah diturunkan, namun tidak seperti pada Jeffrey,
Ginandjar tidak menuntut apa-apa.
Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa, hubungan Ginandjar dengan James
"Jim Bob" Moffet, orang nomor satu di Freeport McMoRan, amat strategis dan
sudah berlangsung lama -serta masih berlanjut hingga kini. Awalnya, adalah
ketika pada pertengahan tahun 1980-an Freeport menyadari bahwa kontrak karya
mereka di Indonesia akan berakhir pada tahun 2003. Padahal, mereka baru saja
menemukan lokasi pertambangan tembaga, emas dan perak yang diperkirakan
bernilai 60 milyar dolar AS di Grasberg. Temuan itulah yang mengubah
Freeport dari sebuah perusahaan pertambangan berukuran sedang menjadi
raksasa. Tahun lalu misalnya, Freeport meraih 1,5 milyar dolar AS dari
Grasberg saja.
Untuk mendapatkan jaminan operasi yang lebih lama, mau tak mau Freeport
harus memiliki hubungan khusus dengan para pejabat yang saat itu berwenang.
Ketika Ginandjar terpilih sebagai menteri pertambangan dan energi yang baru
di tahun 1988, langsung saja Jim Bob melakukan pendekatan.
Selama bertahun-tahun kemudian, Jim Bob dan Ginandjar selalu saling
mengunjungi, bermain golf dan makan malam bersama. Tak jarang pula,
Ginandjar menggunakan fasilitas pesawat jet Freeport dalam berbagai
perjalanannya. Buah dari kedekatan hubungan itu pun mulai terlihat. Menantu
Ginandjar, diketahui kemudian bekerja untuk Freeport.
Peran Ginandjar menjadi sangat menonjol ketika Freeport merealisasikan
keharusan membagi sebagian sahamnya untuk "pihak Indonesia" sebagai tindak
lanjut kesepakatan di tahun 1973. Ginandjar merekomendasikan nama Aburizal
Bakrie sebagai pembeli 10% saham tambahan untuk pihak Indonesia (sebelumnya,
hanya ada 10% saham pihak Indonesia di Freeport yang dimiliki oleh
pemerintah). Dan untuk itu, ia meminta Dirjen Pertambangan pada saat itu,
Kosim Gandataruna untuk menandatangani surat yang menyatakan "pemerintah
Indonesia tidak akan membeli 10% saham tambahan dari Freeport, dan
merelakannya dibeli oleh pihak swasta."
Sebetulnya, Bakrie tidak benar-benar membeli saham Freeport. Ia memang
membayar 212,5 juta dolar AS untuk itu, namun 173 juta dolar AS dari jumlah
itu didanai oleh pinjaman bank yang dijamin oleh Freeport. Setahun
kemudian, Bakrie menjual hampir separuh dari sahamnya kembali ke Freeport
yang nilainya sama dengan yang dibayarkannya tahun sebelumnya. Keruan saja
ia memperoleh 500% keuntungan dari modal awalnya yang cuma 40 juta dolar AS.
Boleh dibilang, Bakrie kini mendapatkan 5,1% saham Freeport secara cuma-cuma.
Upaya Jim Bob untuk mendekati Ginandjar memang memakan biaya besar. Namun,
Freeport tidaklah merugi, sebab perpanjangan kontrak karyanya kemudian
ditandatangani di bulan Desember 1991. Ginandjar sendiri tak kurang
mendapatkan keuntungan -setidaknya melalui saudara kandung dan anaknya.
Saudara kandung Ginandjar, Agus Kartasasmita, melalui PT Catur Yasa
diketahui mendapatkan saham dalam usaha penerbangan milik Freeport.
Sementara anak Ginandjar yang juga bernama Agus Kartasasmita, disebut-sebut
juga meminta bagian dalam bisnis dengan Freeport langsung pada Jim Bob,
meskipun, akhirnya tidak jadi. Hal ini yang dijadikan alasan oleh Ginandjar
untuk membantah ia berkolusi dengan Jim Bob, "Seandainya saya mau
membantunya (Agus -red.), tentu saya akan melakukan yang terbaik, agar ia
mendapatkan proyek itu."
Jim Bob sendiri tidak menyangkal bahwa Freeport memiliki keterkaitan bisnis
dengan keluarga Ginandjar. Namun, skalanya sangat kecil dibandingkan kapital
yang dimiliki dan dikelola Freeport. "Tak mencapai skala Richter," ujar Jim Bob.
Hubungan erat Jim Bob dan Ginandjar, tampaknya masih akan terus berlanjut.
Mengingat, Ginandjar masih tercantum sebagai bagian dari kabinet Habibie.
Tentunya, Jim Bob akan memanfaatkan kedekatannya dengan Ginandjar supaya
Freeport dapat tetap beroperasi di Indonesia. Hanya saja, jika tuduhan KKN
terhadap Ginandjar semakin marak, hal ini justru bisa menjadi bumerang bagi
Freeport -dan tentu saja bagi keluarga Ginandjar. Barangkali itu sebabnya,
Ginandjar bereaksi cepat atas tuduhan Jeffrey Winters. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist