[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: MANDEK



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------

MANDEK

(LUGAS): Zaman mungkin sedang bergerak. Tapi, wacana politik negeri ini
hampir tak berubah, berjalan di tempat alias mandek. 

Lihatlah apa yang dilakukan Habibie dan anak buahnya yang menamakan diri
sebagai "Kabinet Reformasi Pembangunan". Semuanya persis sama dan sebangun
dengan Orde Soeharto. Beberapa contoh bisa kita deretkan disini: penguasaan
kekuasaan dan jalur-jalur ekonomi lewat pola kolusi, korupsi, dan nepotisme
(KKN); stigmatisasi lawan politik; rekayasa politik dengan kekerasan;
menyingkirkan (baca: recallling) kawan yang berbeda pendapat; dan sebagainya. 

Tapi, okelah. Itu semua terjadi di lingkaran elit penguasa, yang notabene
bekas antek-anteknya Soeharto. Artinya, bahkan sejak awal, kita tak bisa
berharap banyak orang-orang itu bisa mereformasi wacana politiknya. 

Namun yang menyedihkan, hal yang sama juga terjadi di kalangan "oposan".
Contoh paling mencolok bisa kita saksikan di acara deklarasi partai-partai
politik yang menjamur di era reformasi ini. Hampir semua partai, bahkan yang
mengklaim diri sebagai "partai modern" sekalipun, memenuhi acara
deklarasinya dengan kerumunan massa. 

Anehnya, massa itu lalu menjadi ukuran kesuksesan partai. Makin banyak
massa, maka dianggap makin berhasillah partai tersebut. Tak peduli apakah
massa yang berkumpul itu memang fans partai, atau hanya sekedar ingin
menyaksikan keramaian. Deklarasi menjadi ajang pamer kekuatan.  

Itu semua menunjukkan wacana politik massa masih terus berlangsung. Dalam
wacana ini, massa dijadikan ujung tombak dalam setiap "negosiasi" politik
yang terjadi di masyarakat. Massa, bukan ide dalam bentuk program, menjadi
alat gertak untuk menghadang gerakan lawan politik. 

Fenomena ini, misalnya, tampak dari sikap para aktor politik mengganjal ide
negara federalisme yang dilontarkan Partai Amanat Nasional (PAN). Bukannya
menggelar sebuah debat publik yang sistematis, ide itu justru dihujat dalam
arena rapat akbar, di hadapan puluhan ribu massa- yang mungkin belum tentu
mengerti tentang ide tersebut. Sebuah idea mestinya di-counter dengan idea
tandingan, bukan dengan hujatan di depan massa.

Jadi, zaman memang sudah bergerak. Sanggupkah kita mengikutinya? (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com



----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist