[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: AWAS, NKK BARU!



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------

AWAS, NKK BARU!

(EKONOMI): Pemerintah menemukan ratusan proyek NKK di Pertamina. Namun, para
pelaku NKK baru, mengintip.

Pertamina mungkin akan bersih dari proyek-proyek Nepotisme Kolusi dan
Korupsi (NKK). Pemerintah mengumumkan telah menemukan 159 proyek yang sarat
NKK di badan usaha milik negara (BUMN) paling gemuk itu. Namun, nanti dulu,
jangan terlalu girang dulu. Soalnya, 159 proyek itu kan NKK rezim Soeharto?
Artinya: yang bakal kena gusur itu pun proyek-proyek milik keluarga
Soeharto. Nah, masalahnya, proyek NKK lama itu kemungkinan akan digantikan
proyek NKK baru, keluarga dan kroni para pejabat yang kini tengah berkuasa.

Memang, selama belasan tahun, proyek-proyek di lingkungan Pertamina dikuasai
anak-anak Soeharto. Itu sudah jadi rahasia umum, dan dulu tak seorang pun
berani mempersoalkannya, bahkan juga pers. Pemerintah memang berjanji, temua
itu akan dilanjutkan dengan pemutusan kontrak misalnya, jasa pengangkutan
ekspor-impor minyak, pembelian katalis dan aditif, serta pengangkutan LNG,
di Pertamina oleh keluarga Soeharto. 

Tiga perusahaan besar milik Cendana di Pertamina adalah Pacific Petroleum
Trading, Permindo Oil Trading Co Ltd dan Perta Oil Marketing Ltd. PT
Permindo sahamnya berada di tangan Bambang Trihatmodjo (14,1 persen),
Sudwikatmono (20,6 persen), Indra Rukmana (14,1 persen), Nirwan Bakrie (22,8
persen), Syarief Cicip Sutardjo (7,6 persen), Mohammad Tachriel (7,1
persen), Rosano Barrack (7,1 persen) dan Aminusal Amien (6,6 persen).
Sisanya 35 persen dimiliki Pertamina. Sedang, Perta Oil Marketing keluarga
Soeharto menguasi 50 persen sahamnya, yakni, Nusamba (25 persen), Humpuss
(25 persen). 

Nah, dari "pemerasan" itu Pertamina dirugikan US$82,76 juta per tahunnya
atau Rp820 miliar dengan kurs sekarang. Jumlah itu tentu amat besar, karena
kalau bisa masuk ke kas negara uang sebanyak itu bisa dipakai untuk
mengentaskan kemiskinan rakyat Indonesia. Apalagi kerugian itu sudah
berlangsung belasan tahun.

Namun, kini repotnya, kalau proyek-proyek yang ditangani anak-anak Cendana,
yang berskala besar, seperti jasa pengangkutan minyak milik Tommy dan
Bambang, nampaknya tak ada perusahaan domenstik lain yang sanggup. Jasa
pengangkutan minyak itu, di mana armada tangker yang dimiliki Perta Oil dan
Permindo merupakan armada yang terbesar di dunia, tentu membuat pemerintah
kecut. Untuk menghapusnya segera juga tak bakal bisa dalam sekejab. Mungkin
saja Pertamina sendiri akan mengambilalih ladang Perta dan Permindo, namun
tentu dibutuhkan waktu. Nah, alhasil jasa keluarga Cendana mau tak mau masih
dibutuhkan. Inilah yang menghambat pemberantasan proyek-proyek NKK itu.

Memang, untuk menyingkirkan proyek-proyek NKK yang hanya sifatnya percaloan,
tak susah. Seperti misalnya proyek-proyek NKK di PT Garuda Indonesia. Garuda
bisa mengambilalihnya sendiri, dan itu gampang. Namun begitu, karena
percaloan anak-anak Soeharto dan kerabatnya, Garuda setiap tahun rugi US$42
juta setahun atau Rp420 miliar. Coba, bayangkan! Menurut sumber di
Pertamina, perusahaan-perusahaan itu menikmati keuntungan yang pasti dan
tidak perlu usaha keras karena pasarnya sudah jelas. Bayangkan saja fee yang
diperoleh Permindo untuk mengimpor BBM dan minyak mentah sebesar 35 sen
dolar AS per barel. Katakanlah Pertamina setiap bulannya mengimpor 10 juta
per barel, berarti memperoleh US$3,5 juta per bulan. 

PT Garuda, dirugikan US$18, 27 juta setahun karena kontrak-kontrak KKN. Di
maskapai penerbangan ini Bambang Trihatmodjo memakelari pengadaan sejumlah
pesawat MD-11,Air Bus A-330 dan Fokker-100. Bambang juga jadi perantara bagi
Garuda untuk menyewa pesawat carteran asing untuk mengangkut ratusan ribu
jemaah haji tiap tahun. 

Di PLN dan Jasa Marga, proyek-proyek NKK juga sudah diganyang. Namun begitu
kerugian negara tak bisa lagi diambil dari mereka. Seharusnya sih bisa kalau
mau. Namun, tentu saja Presiden Habibie tak sanggup, soalnya di asendiri
juga kaya karena NKK, begitupun pejabat-pejabat Soeharto seperti yang kini
lagi panas, kasus NKK Ginanjar Kartasasmita, Menko Ekuin di tambang emas
Freeport. Namun bagaimanapun, sumber penghasilan keluarga Cendana memang
merosot drastis selama hampir enam bulan ini. Yang perlu diwaspadai kini ya,
para pelaku NKK baru itu. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com



----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist