[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: BANGKIT DARI KRISIS GLOBAL



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------

BANGKIT DARI KRISIS GLOBAL

(EKONOMI): Kepercayaan masyarakat terhadap pasar uang dan pasar modal sudah
memudar. Tetapi krisis tetap melanda di berbagai negara.

Sudah tak terhitung diskusi tentang resesi ekonomi global dilangsungkan,
namun optimisme masih belum muncul. Sejak Rusia mendevaluasi rubel bulan
Agustus lalu, keadaan makin bertambah buruk. Semua kini percaya, tak ada
negara dan industri yang benar-benar aman dari ancaman. Harga-harga saham di
New York dan London turun sampai 30%. Bank ternama semacam Standard
Chartered kini bernilai hanya sepertiga dibandingkan dengan posisinya bulan
Juli lalu.

Ketika minggu lalu dollar AS jatuh nilainya hingga 9% atas yen Jepang,
kepanikan makin bertambah. Beberapa hari kemudian, para investor di berbagai
tempat ramai-ramai menjual surat-surat berharga yang dikeluarkan pemerintah.
Mereka memilih untuk memegang uang tunai. Kepercayaan pada pasar uang dan
pasar modal, kian memudar.

Efek domino yang makin panjang, itulah yang kini diawasi para ekonom dengan
was-was. Perhatian serius tercurah pada negara-negara Amerika latin dan Asia
timur. Brazil sedang mati-matian mempertahankan mata uangnya dari inflasi.
Hongkong dan Cina pun berjuang untuk tidak sampai melakukan devaluasi. "Jika
mereka gagal melindungi mata uangnya, seperti halnya negara-negara Asia
Tenggara dan Rusia, keterperosokan karena krisis global akan semakin parah,"
tulis Anthony Browne dalam Observer News Service. Menurutnya, kejatuhan
Rusia sudah dapat disebut buruk. Namun, bila sampai Brazil, negara yang
perekonomiannya nomor sembilan terbesar di dunia, ikut terpuruk, keadaan
akan lebih parah.

Upaya untuk keluar dari krisis bukan tidak dilakukan oleh pemerintah
masing-masing negara maupun lembaga-lembaga finansial internasional. Hanya
saja, krisis kali ini benar-benar kompleks. Resep kuno mengutak-atik
kebijakan moneter saja, sepertinya sudah tidak tokcer lagi. 

Harapan yang digantungkan pada pertemuan tahunan antar bank-bank sentral dan
para menteri keuangan yang diselenggarakan oleh IMF dan Bank Dunia di
Washington beberapa waktu lalu, ternyata juga terlalu berlebihan. Bahkan
tidak ada kesepakatan yang dicapai, tentang perlu -tidaknya melakukan
penurunan suku bunga. Satu pihak berpendapat, suku-bunga bank harus
dipangkas supaya para pelaku bisnis dapat kembali bangkit dan merangsang
pertumbuhan ekonomi. Pihak lain menganggap, kebijakan itu adalah ancaman
bagi makin melemahnya mata uang.

Yang kini muncul justru sikap skeptis terhadap lembaga-lembaga keuangan
internasional itu. IMF, misalnya, dianggap mulai kehilangan gigi lantaran
terancam kehabisan dana untuk membantu negara-negara yang sedang mengalami
krisis. Di samping itu, persyaratan untuk mendapatkan dana dari IMF,
dianggap tidak bisa menjamin negara-negara penerima bantuan untuk bangkit
dari krisis. Sementara Bank Dunia juga sedang tercemar kredibilitasnya
akibat adanya tuduhan kasus korupsi para pejabatnya.

Ratusan pelaku bisnis, pengambil keputusan dan pengamat ekonomi di Asia
Tenggara pun, tampaknya sudah mulai gerah dengan resep monoton ala IMF.
Tanggal 13 Oktober lalu, dalam pertemuan tahunan "East Asian Economic
Summit" yang diselenggarakan oleh lembaga yang berbasis di Jenewa, World
Economic Forum, mereka mendeklarasikan sikapnya.

Meskipun tidak secara tegas menolak IMF, dalam salah satu butir
pernyataannya mereka menyerukan pada negara-negara industri maju yang
tergabung dalam The Group of Seven (G-7) untuk membentuk sebuah lembaga
finansial global yang baru. Lembaga itu diharapkan "dapat merespon
kenyataan-kenyataan ekonomi global yang terbuka serta menyediakan
kebutuhan-kebutuhan tidak saja bagi negara-negara maju tapi juga negara
berkembang."

Butir lain yang juga bertentangan dengan pakem IMF adalah, seruan pada
negara-negara Asia untuk "mempertimbangkan pembatasan hati-hati terhadap
masuknya modal jangka pendek, termasuk pembatasan pada utang luar negeri
jangka pendek." Untuk itu, mereka juga menyerukan pada negara-negara G-7
untuk mengorganisir lembaga yang berwenang memonitor pergerakan modal jangka
pendek, yang dianggap sebagai penyebab utama terjadinya gejolak mata uang.
Kendati tidak seekstrem kebijakan kontrol devisa yang dilakukan Malaysia,
seruan ini jelas bertolak belakang dengan mekanisme pasar bebas yang selama
ini hampir mereka yakini.

Dari deklarasi ini muncul kesadaran bahwa upaya mengatasi krisis ekonomi
tidak lagi bisa dilakukan sendiri -juga tidak bisa dengan membiarkan begitu
saja mekanisme pasar bebas yang sebetulnya hanya menguntungkan negara-negara
maju. "Semua pihak harus mengambil bagian, untuk memerangi resesi yang
dikhawatirkan mirip dengan depresi yang pernah terjadi di tahun 1930-an."
Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara Eropa dituntut untuk memotong suku
bunga banknya. 
Sedangkan Jepang diminta untuk lebih banyak membelanjakan simpanannya.
Disebutkan dalam deklarasi itu, langkah-langkah yang diambil secara bersama
ini akan sangat menentukan untuk menuju pertumbuhan ekonomi baru, sebagai
syarat penting untuk "menstabilkan perekonomian negara-negara berkembang dan
pasar dunia."

Tuntutan dari deklarasi itu belum tentu dapat dipenuhi oleh negara-negara di
luar Asia. Namun, cara pandang bersama dalam melihat persoalan -kendati baru
di tingkat Asia tenggara- dianggap merupakan kemajuan penting yang telah
dicapai. Kenyataannya krisis berawal di Asia telah pula mengguncang
perekonomian Amerika dan Eropa, mengisyaratkan bahwa dunia telah saling
tergantung. 

"Bagai satu tubuh, bila salah satu anggotanya mengalami luka, seluruh badan
bisa demam," demikian para pengamat yang percaya pada interdependensi
ekonomi. Jadi, kalau hendak kuat tak boleh ada yang kuat yang berdiri di
atas yang lemah. Itu artinya, pengha-pusan kemiskinan dan ketidakadilan
adalah agenda bersama yang penting. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com



----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist