[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: "KAMI AKAN BONGKAR SEMUANYA"



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------

Munir SH, Koordinator KONTRAS:
"KAMI AKAN BONGKAR SEMUANYA"

(DIALOG): Walaupun telah melakukan berbagai cara untuk mencari 14 korban
penculikan yang belum kembali, Komite untuk Orang Hilang dan korban Tindak
Kekerasan (KONTRAS) sampai saat ini belum juga bisa menemukan. Berbagai
poster wajah para korban dipajang disetiap sudut kota Jakarta oleh para
seniman, tetap saja kabar tentang keberadaan mereka masih gelap. Sementara
ABRI, walaupun katanya akan segera menggelar persidangan anggota Kopassus
yang diduga sebagai penculik, namun sampai saat ini mereka seolah mau
melepas tanggung jawab terhadap hilangnya 14 aktifis tersebut. Bagaimana
pendapat KONTRAS mengenai hal ini dan apa tindakan selanjutnya? Berikut
penuturan Ketua Badan Pekerja KONTRAS, Munir SH kepada Xpos.

T: Kenapa sampai hari ini kasus penculikan masih saja gelap?
J: Sebenarnya hal tersebut disebabkan beberapa hal. Pertama, ada pengambilan
posisi ABRI yang tampaknya untuk tidak mengakui resiko-resiko terberat dari
operasi penculikan. Yaitu tentang apa yang menimpa empat belas orang yang
sampai saat ini masih dinyatakan hilang itu. Yang kedua, ada upaya untuk
melokalisir kualitas kasusnya. Kalau mereka yang disekap, disiksa dan
sebagainya itu akan diarahkan menjadi hanya kasus penyekapan saja. Juga, ada
usaha memperkecil kualitas bentuk tindakan penculikannya. Ini hanya akan
diarahkan menjadi kasus penyekapan dan penahanan sewenang-wenang. 

T: Buktinya?
J: Itu ditunjukkan dengan misalnya, mereka tidak segera melakukan visum
terhadap para korban, yang ketika mereka dilepaskan masih ada bekas-bekas
luka. Jadi tidak ada usaha mengambil inisiatif. 

T: Jadi?
J: Kalau dilihat dari tiga hal itu, tampaknya memang buntunya terletak pada
sikap politik. Bukan persoalan fact. Kalau fakta, kan tahu-sama tahu lah,
sudah selesai. Tampaknya kasus ini, pihak POM ingin mempercepat ke
pengadilan. Diharapkan dengan proses peradilan itu maka akan dianggap orang
selesai. Dari posisi itu, kalau dalam pandangan Kontras, dengan menggunakan
standar kovensi penghilangan orang secara paksa, maka sebenarnya pemerintah
belum bertindak apapun dalam pencarian maupun mempertanggungjawabkan kasus
penculikan, penghilangan orang secara paksa. Karena yang sembilan orang yang
sudah kembali, itu merupakan kasus penangkapan dan penahanan orang secara
sewenang-wenang. Bukan penghilangan orang secara paksa. Yang penghilangan
orang secara paksa adalah yang 14 orang ini, yang tidak pulang lagi. Jadi
siapa yang harus bertanggung jawab? Ini yang tidak pernah jelas.

T: Artinya?
J: Artinya, Kontras akan tetap mengambil posisi itu, bahwa pemerintah belum
mengambil tindakan. Intinya itu. Baik itu langkah-langkah hukum maupun
tindakan politis. Yang kedua, karena posisinya tadi belum jelas, sebetulnya
ini masih terkait dengan kerangka advokasi di tingkat internasional, Kontras
masih tetap menggunakan mekanisme internasional untuk menuntut
pertanggungjawaban pemerintah dan meminta kepedulian dunia internasional
terhadap kasus ini.

T: Tentang pengakuan Prabowo bahwa ia hanya menculik 9 orang?
J: Itu kan pengakuan formil, ia mengaku hanya menculik 9 orang. Tapi saya
meragukan apakah memang cuma sembilan? Apakah sembilan itu pengambilan
posisi Prabowo yang mengaku sembilan, ataukah itu posisi sikap ABRI. Jadi
kami belum tahu. Ini yang menjadi soal. Jadi, transparansi itu belum ada,
titik-titik menuju transparan itu juga belum muncul.

T: Lalu apa yang akan dilakukan Kontras?
J: Sebenarnya kami mau membantu, kalau memang benar penculik itu hanya
mengaku sembilan orang, kami mau membantu bagaimana caranya mencari yang 14
orang itu. Langkahnya adalah mempertemukan antara korban dengan para
tersangka. Dan itu dalam hukum acara dimungkinkan. Tapi tampaknya Puspom
yang justru mempersulit keinginan Kontras. Mereka nggak mau, menolak tawaran
Kontras.

T: Kenapa?
J: Ya itu, kami tidak tahu. Apa sebetulnya yang mereka sembunyikan? Padahal
kerangkanya sangat menolong kalau memang benar mereka hanya mengakui
sembilan sementara yang 14 yang lain tidak diketahuinya.

Karena yang jelas, antara keterangan saksi dengan keterangan tersangka ini
sangat berbeda. Bahkan bertentangan, hukum acara telah memberi ruang untuk
konfrontir kesaksian tersebut. Tapi kenapa mereka nggak mau? Itu tanda tanya
besar bagi kami.

T: Lalu, dimana yang empat belas itu?
J: Kita nggak tahu. Ada informasi, setelah operasi pengusutan dimulai dulu,
beberapa saksi mengaku saling bertemu di dalam penyekapan. Misalnya Soni dan
Yani Avri pernah bertemu dengan korban yang telah dilepaskan, Suyat juga
diculik oleh tim yang sama, dan hampir sebagian besar pernah ketemu. Kecuali
Noval dan Dedi Hamdun. Bahkan mengenai kedua orang ini, ada informasi dari
penculiknya sendiri, misalnya ketika si penculik bicara dengan Andi Arief,
"Daripada kamu di Dedi Hamdunkan, kau jawab saja dengan jujur". Maksud
pernyataan itu kan kita bisa duga. Sementara itu, beberapa nama yang hilang
pasca kerusuhan Mei 1998, ada saksi-saksi yang menunjukkan bahwa mereka
bukan korban kerusuhan, tapi memang dicomot.

T: Berarti...
J: Pengakuan para saksi yang saling bertemu dengan pengakuan Prabowo yang
hanya menculik sembilan, itu jelas bertolak belakang. Sehingga ini harus
dikonfrontir. Pengakuan hanya sembilan orang itu sebenarnya tidak masuk
akal. Karena Soni dan Yani Avri itu kan pernah ditahan di Kodim Jakarta
Utara dan dari sana dioper ke Kopassus. Itu sampai sekarang tidak pernah
diakui. Padahal Kodim Jakarta Utara sudah mengaku pernah menahan kedua orang
tersebut. Ini aneh. Tampaknya ada berbagai problem internal di tubuh ABRI
sendiri. Sehingga Puspom tidak cukup power untuk membongkar ini lebih luas. 

T: Jika dulu penculikan diduga bagian dari skenario Soeharto, tapi setelah
ia lengser kok masih belum juga dibeberkan secara gamblang?
J: Ini yang sampai hari ini kita tidak tahu, ada ketakutan-ketakutan apa.
Apa sih sulitnya mengakui 14 orang ini, paling nggak mengungkap beberapa
nama? Kalau sama sekali nggak tahu, saya pikir tidak mungkin.

Bagaimana dengan kesaksian eks korban penculikan yang melihat penculikanya
berkeliaran?
Ini begini, ada beberapa korban yang pernah diculik, itu sempat merasa
bertemu dengan orang yang pernah terlibat dalam penculikan. Nah, muncul
pertanyaan apakah para penculik itu tidak ditahan, atau ada pelaku lain yang
belum dimintai pertanggungjawaban. (Di luar yang katanya sudah ditahan).
Tapi yang jelas, teman-teman ini meyakini bahwa masih ada yang di jalanan.
Kontras sendiri pernah mengingatkan bahwa para pelaku penculikan ini tidak
hanya Kopassus saja, tapi ada macam-macam. Dan sejak awal kita minta itu
diusut. Misalnya keterlibatan Kodam Jaya, keterlibatan Mabes Polri, Polda
Metro Jaya. Itu semua. Tapi sekarang kan nggak jelas semua.

T: Apa langkah Kontras?
J: Kontras akan melakukan investigasi ulang. Bukan berarti mengkontruksi
persoalan. Tapi kita akan mencari benar, dimana yang 14 orang itu. Walaupun
sebenarnya, setelah TPF terbentuk dan Kopassus diakui sebagai pelakunya,
Kntras sudah selesai investigasinya dan tinggal pengungkapan. Tapi ini
karena dipatahkan dengan pengingkaran terhadap 14 orang, maka Kontras akan
membongkar lagi dari sudut yang paling dalam. Memang butuh waktu. Itu kalau
pihak ABRI tidak mau menyampaikannya secara lebih detail.

T: Pembongkaran yang bagaimana?
J: Kalau itu nanti saja kita ungkapkan. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com



----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist