[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: KEMATIAN ITA BELUM SELESAI



Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------

KEMATIAN ITA BELUM SELESAI

(POLITIK): Tim Relawan terjebak permainan polisi. Tapi siapakah Otong? 

Marthadinata, 17 tahun, siswi SMU Paskalis Jakarta, telah dikremasi pekan
lalu. Namun, heboh tentangnya masih terjadi hingga kini. Ita, demikian nama
panggilan korban, ditemukan tewas dengan tubuh penuh luka di rumahnya yang
sederhana di Jl Berlian, Sumurbatu, Jakarta Pusat. Pembunuhan Ita,menjadi
perbincangan seru setelah diketahui bahwa, bersama-sama dengan ibunya, Wiwin
Suryadinata, adalah anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan. 

"Wiwin dan Ita sedianya akan berangkat ke Amerika Serikat untuk mendampingi
empat korban perkosaan yang akan bersaksi di sana," ujar Karlina Leksono,
salah satu anggota Tim Relawan.
Namun, belakangan Evi Suryadinata, 28 tahun, kakak perempuan Ita, di Markas
Polda Metro Jaya, di dampingi Kaditserse Polda Metro Jaya, Kolonel Gories
Mere, bersaksi di depan wartawan, bahwa Wiwin dan Ita sama sekali bukan
anggota Tim Relawan, sebagaimana yang diberitakan pers. Pengakuan Evi memang
mengagetkan banyak pihak, dan tentu saja mengagetkan Tim Relawan pimpinan
Romo Sandy. "Sebaiknya kita tidak hanya mendengar apa yang diucapkan Evi,
melainkan apa yang ingin diungkapkan Evi," ujar Romo Sandyawan menanggapi
pernyataan Evi. 

Memang sulit bagi Sandyawan untuk mengelak dari kenyataan bahwa keluarga Evi
kini terancam setelah masyarakat luas mengetahui bahwa dua orang anggota
keluarga mereka terlibat dalam Tim Relawan, yang tugas-tugasnya memang
menyerempet bahaya itu. Bahkan orang kini tahu, alamat dan telepon rumah
Ita. Ini yang memusingkan. "Kalau jalan yang ditempuh Evi adalah cara untuk
menyelamatkan diri, kami rela," ujar salah seorang anggota Tim Relawan.

Pada malam, di hari ketika Ita terbunuh, Leo Haryono, ayah Ita kepada Xpos
mengakui istrinya, adalah angota Tim Relawan. Wiwin pun kepada Xpos pada
hari terbunuhnya Ita mengakui keterlibatannya dalam Tim Relawan. Menurut
salah satu anggota Tim Relawan, Wiwin aktif mendampingi para korban di Posko
Tim Relawan Budhis. Wiwin dan suaminya memang pemeluk Budha. Tim Relawan
Posko Budhis memang berdiri sendiri, lepas dari Tim Relawan pimpinan Romo
Sandyawan. Posko-posko Budhis ini tersebar di vihara-vihara di Jakarta.
Perkembangan posko-posko ini begitu cepat cepat, terutama di wilayah Kota,
Harmoni, Jembatan Lima dan sekitarnya.Namun, hubungan Tim Relawan Posko
Budhis dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan cukup erat dan saling mendukung. 
Perkenalan Wiwin dan Ita F. Nadia dan Romo Sandyawan, aktifis Tim Relawan,
sudah terjalin sejak lama, bahkan sebelum kerusuhan yang disertai
pemerkosaan terhadap perempuan etnis Cina, meletus Mei lalu.

Karena itu, ketika Leo dan Wiwin menemukan mayat Ita, Wiwin segera menelpon
Ita F Nadia yang segera segera mengontak Romo Sandyawan. Romo Sandyawan pun
tiba di rumah korban, bersamaan dengan datangnya polisi yang juga dikontak
kemudian. "Kami ditelepon dan kami diperbolehkan memasuki rumah dan
menyaksikan mayat korban. Itu menunjukkan bahwa kami mengenal betul keluarga
itu," tambah Sandyawan.

Kalangan Tim Relawan menduga Gories Mere memainkan peranan penting dalam
peristiwa ini, terutama berperan dalam "memaksa" Evi membatah ibu dan
adiknya adalah anggota Tim Relawan sekaligus membatah berita bahwa adiknya
juga korban perkosaan Mei. Apalagi, Sabtu dini hari, Gories memang terlibat
pembicaraan intensif dengan Evi di rumah korban. Namun, keputusan untuk
membatah apa yang termuat di media massa, nampaknya baru diputuskan Senin.
"Keluarga Evi nampaknya ketakutan dengan eskalasi pemberitaan yang luar
biasa yang justru akan mengancam keselamatan keluarga mereka," ujar seorang
anggota Tim Relawan. Jadi, nampaknya, Gories Mere melihat gelagat itu dan
menawarkan jalan keluar yang amat mudah: membatah semua yang dimuat media
massa. Dan, Gories berhasil dalam hal ini. 

Semula, polisi memang nampak kaget menemuai kenyataan bahwa salah satu
anggota Tim Relawan terbunuh. Itulah sebabnya, perang opini disiapkan.
Kapolda Metro Jaya, Mayjen Noegroho Djajoesman membantah bahwa Ita korban
perkosaan Mei, begitu pun Gories Mere.

Sebelumnya, sari tempat kejadian berkembang cerita, lewat mulut petugas
kepolisian, Ita disodomi paksa sebelum dibunuh. Cerita ini bersumber dari
keterangan polisi yang memeriksa mayat korban di tempat kejadian. Namun,
setelah otopsi, ceritanya berkembang lebih seru: Ita ternyata telah
bertahun-tahun melakukan sodomi dan di air seninya ditemukan kandungan heroin.

Temuan tim dokter ahli forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
yang mengotopsi mayat Ita memang menguntungkan polisi. Kampanye kedua
disiapkan, polisi nampaknya akan menggunakan aib korban sebagai bahan untuk
mendiskreditkan korban.

Dengan meminjam mulut psikolog dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sarlito
Wirawan Sarwono, polisi berusaha mendiskreditkan korban. Menurut Sarlito,
dengan ditemukannya fakta bahwa Ita adalah pecandu obat bius dan biasa
melakukan seks anal, Sarlito menyimpulkan Ita adalah pekerja seks, atau
pelacur untuk membeli obat-obat bius. 

Pernyataan Sarlito yang dikutip media massa ini memang terkesan meloncat.
Pernyataan Sarlito, yang menurutnya baru asumsi itu, memang jadi pembicaraan
umum. Asumsi Sarlito dianggap meloncat dan tak pantas keluar dari seorang
psikolog andal itu.

Upaya mendiskreditkan korban berhenti setelah polisi menemukan tersangka
pembunuh Ita. Tersangka itu bernama Suryadi alias Otong, tetangga Ita yang
rumahnya bersebelahan. Pengakuan dan bukti-bukti lainnya memang meyakinkan
polisi, yang sejak semula mengarahkan penyelidikannya bahwa pembunuhan Ita
adalah kriminal murni. Otong, yang dua kali dihadapkan pada wartawan,
menjawab lancar. Ia mengaku membunuh Ita karena kepergok ketika hendak
mencuri barang di rumah keluarga Leo. Ia tak menyangka Ita ada di rumah
karena biasanya rumah itu sepi di siang hari. Hari itu, Ita memang tak masuk
sekolah karena sakit.

Bukti-bukti itu membuat polisi di atas angin. Nah, langkah selanjutnya
tinggal menggebuk Tim Relawan. Sejumlah bahannya sudah ada. Dan, itu sudah
terjadi. Tim Relawan terpojok, dan hanya bisa mengeluarkan pernyataan
implisit, yang di satu pihak ingin membatah pernyataan Evi, namun di lain
pihak ingin melindungi keselamatan keluarga Evi.

Namun, siapa sebenarnya Otong juga menimbulkan pertanyaan. Ada yang menduga,
Otong yang juga preman itu adalah salah satu preman yang "dibina" dan
diorganisir aparat keamanan untuk memperkosa dan membuat kerusuhan Mei lalu.
"Kalau Anda tahu siapa sebenarnya Otong, Anda akan kaget. Nanti, ada
saatnya, saya mengungkapkan hal ini," ujar Ruhut Sitompul, pengacara Otong. 
Penunjukkan Ruhut, pengacara yang sangat dekat dengan ABRI ini -Ruhut adalah
anggota FKPPI dan Pemuda Pancasila- mencurigakan. Jangan-jangan memang ada
apa-apanya sehingga dipilih pengacara yang bisa diajak kompromi. Otong  yang
ditanya wartawan, di mana ia berada ketika terjadi kerusuhan 13-14 Mei lalu,
mengaku berada di Kodam mengerjakan bangunan di mana ia bekerja serabutan
sebagai tukang batu. (*)

------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com



----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist