[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: TOMMY TERLIBAT KARTEL MEDELLIN
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------
TOMMY TERLIBAT KARTEL MEDELLIN
(POLITIK): Keterlibatan Tommy Soeharto dalam perdagangan narkotika
terungkap. Ia mengutang US$ 2 juta kepada Kartel Medellin.
Badai hujatan tak pernah berhenti menerpa keluarga Soeharto. Setelah
proyek-proyek KKN mereka diungkap ke permukaan, kini satu per satu bisnis
kotor keluarga Cendana pun mulai dibongkar. Kabar yang paling dahsyat adalah
keterlibatan Tommy Soeharto dalam perdagangan narkotika di tanah air dan
manca negara.
Beberapa waktu lalu, misalnya, koran The Age menyiarkan hasil penyelidikan
Kepolisian Negara Bagian Victoria, Australia, tentang jaringan pengedar obat
bius yang melibatkan keluarga Soeharto. Selain Tommy, anggota keluarga
Soeharto lainnya yang diduga mengotaki jaringan pengedar itu tak lain Arie
Sigit, cucu kesayangan Soeharto.
The Age mengutip sebuah memorandum intern Australian Federal Police (AFP).
Dalam memo itu terungkap keluhan seorang pimpinan AFP yang anakbuahnya
dimutasikan dari bagian operasi gara-gara, ya itu tadi, menyidik kasus
keterlibatan Tommy dan Arie dalam perdagangan obat bius di negeri Kanguru itu.
Tapi, kabar lebih dahsyat justru datang dari Belanda. Kisahnya dimuat
tabloid Vrij Nederland, edisi 30 Mei lalu. Sumbernya adalah sebuah buku
berjudul "Buda Negro" karya Jose Pablo Bunster. Warga negara Chili ini
mengaku sebagai partner Tommy memasok narkotik ke Indonesia.
Ceritanya, di awal 1990-an, Bunster bertemu seorang cewek Indonesia, Nia
Garniati Anwar, di Amerika Serikat. Perkenalan lalu berkembang jadi pacaran,
hingga Bunster ikut ke Indonesia. Nah, lewat Nia, putri seorang jenderal
pensiunan, Bunster berkecimpung di kalangan jet set Jakarta.
Untuk menghidupi diri, pasangan ini pun berbisnis narkotik. Semula dalam
jumlah kecil, lalu bisnis itu makin membesar. Biasanya, kokain yang dipasok
Bunster berasal dari Kolombia. Cara memasoknya, rekan-rekan Bunster di
Kolombia akan menitipkan barangnya ke petugas-petugas Garuda Indonesian
Airways di kota-kota Eropa, lantas dibawa ke tanah air.
Lewat Nia pula, Bunster diperkenalkan kepada Aswin Nasution, salah satu
orang kepercayaan Tommy. Dari sinilah, Bunster masuk ke kalangan jet set
kelas atas Jakarta. Ia, misalnya, sering ikut dalam pesta-pesta yang
diselenggarakan Tommy dan anak-anak Soeharto lainnya.
Nah, setelah mendapat kenalan orang-orang kuat, Bunster merasa sudah saatnya
membuka bisnis narkotik besar-besaran. Ia lalu merencanakannya dengan Aswin,
dan sejumlah anak-buah Tommy lainnya. Rapat-rapat perencanaan selalu
diadakan di kantor Aswin, PT Sewu, di lantai 3 Gedung Hanurata, Jl. Kebon
Sirih, Jakarta Pusat.
Dalam rapat-rapat, hampir semua direksi PT Sewu setuju membuka bisnis
narkotik besar-besaran. Hanya seorang yang menentang, dengan pertimbangan
resikonya terlalu besar. "Aswin menjawab bahwa Tommy yang mengambil
keputusan dan segala resikonya," tulis Bunster dalam bukunya.
Secara rinci Bunster membeberkan bagaimana dan dengan siapa rencana
pembuatannya. Semua rencana dibuat dengan detil dan tepat, sampai contoh
pengiriman dalam bentuk 24 kilogram hasish dari Thailand melalui Singapore,
dibawah bendera PT Sewu, masuk ke Indonesia. Lalu dijual dalam bungkusan 30
sampai 100 gram.
Setelah bisnis itu berjalan sukses, ditugaskanlah Bunster menghubungi Kartel
Medellin -salah satu gembong mafia narkotik terbesar di Kolombia. Untuk itu,
Bunster dijanjikan upah US$2 juta, bila rencananya berjalan sukses. Maka,
jadilah Bunster penghubung Tommy dengan kartel Medellin.
Tapi, janji itu ternyata tak dipenuhi. Setelah bisnis narkotik berjalan,
Tommy Cs. mulai ditinggalkan. Bahkan Nia pun mulai menghindari dirinya. Toh,
meski sudah diperingatkan, Bunster tetap nekad menagih uangnya.
Akibatnya, Tommy Cs. terus mencari cara agar jaringan narkotik yang mereka
bangun tertutup rapat. Caranya, dengan menjebloskan Bunster ke penjara.
Benar saja, dalam sebuah liburan di Bali, Bunster terlibat dalam suatu
perkelahian dengan sejumlah preman setempat. Ujung-ujungnya, ia diseret ke
pengadilan dengan tuduhan tak membayar tagihan hotel. Bunster divonis 1,5
tahun penjara. Toh, ia tak gentar. "Saya dilindungi teman-teman Kolombia
saya. Karena itu, Tommy dan kawan-kawannya tak berani membunuh saya di penjara."
Selama mendekam di penjara, terus berkorespondensi dengan keluarga dan
kawan-kawannya di luar negeri. Salah satunya, kepada keponakannya yang
bekerja sebagai duta besar Chili di Tokyo. Sang keponakan sempat berusaha
membantu Bunster. Namun, itu semua tak bisa memperpendek masa hukumannya.
Karena itu, saat bebas akhir Juli 1992, Bunster memutuskan akan membalas
dendam. Peluang balas dendam Bunster itu akhirnya terbuka, saat Soeharto
lengser dari puncak kekuasaan. Ia lalu menghubungi seorang pengacara untuk
menangani kasusnya yang diperlakukan sewenang-wenang oleh pemerintah
Indonesia. Rencananya, Bunster akan menggugat pemerintah Indonesia Mahkamah
Internasional.
Selain itu, Bunster pun mengungkap aib Tommy Soeharto secara blak-blakan.
Wah, kalau cerita Bunster itu benar, bertambah satu lagi peluru untuk
"menembak" keluarga Soeharto. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist