[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: ABILIO DITUNTUT MUNDUR
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/I/17 - 23 Oktober 98
------------------------------
ABILIO DITUNTUT MUNDUR
(POLITIK): Demonstrasi menuntut mundur Gubernur Abilio Jose Osario Soares
marak. Ia dianggap terlalu dekat dengan Jakarta.
Minggu, pekan lalu, kota Dili kembali dipenuhi para pengunjuk rasa.
Demonstrasi besar, yang diikuti ribuan demonstran itu, merupakan respon
terhadap pernyataan Gubernur Abilio Jose Soares seminggu sebelumnya. Saat
itu, Abilio mengancam akan memecat pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah
Daerah Timor Timur yang menentang otonomi daerah yang ditawarkan Pemerintah
Indonesia itu.
Massa yang memenuhi jalan-jalan besar di Dili. Dengan kendaraan roda dua
maupun empat, mereka melakukan pawai keliling kota Dili. Iring-iringan pawai
ini didukung oleh para PNS yang tergabung dalam Forum Sarjana Proreferendum
dan Pengembangan Timor Leste (Forsarepetil) dan Conselho Nacional
Resistencia Timorense(CNRT), dua organisasi proreferendum yang sebagian
besar anggotanya PNS.
Dua organisasi ini menilai pernyataan Abilio bertentangan dengan semangat
reformasi dan rekonsiliasi Dare, dasar-dasar kesepakatan rekonsiliasi yang
dihasilkan di Seminari Dare, beberapa waktu lalu. Forsarepetil dan CNRT yang
mengerakkan massa itu menunutut agar Gubernur Abilio mundur dari jabatannya.
Dalam demonstrasi keliling kota itu, massa membentangkan spanduk dan
teriakan-teriakan pro-Xanana Gusmao, Presiden CNRT, dan Kepala Staf Angkatan
Bersenjata Falintil, Taur Matan Ruak. Massa juga membawa sejumlah poster
bergambar Xanana dan Taur Matan Ruak. Massa juga mengibarkan bendera Timor
Leste dan menghujat Abilio yang dinilai tak mampu memimpin Timor Timur.
Massa yang berjalan kaki, sejak pagi sudah bergerak menuju kantor Gubernur.
Ratusan polisi berjaga-jaga di dekat Kantor Gubernur, namun tak terlihat
pasukan tentara baju hijau. Sementara itu massa berkendaraan bergerak
melalui jalan-jalan Stadion Municipal Dili, Mercado Lama, belok ke Caicoli,
Untim-Vila verde, Bairo Pite, Delta Comoro dari sana kembali melintas jalan
Ibu Tien Soeharto, belok ke kampung Alor-Pantai Farol, kediaman Abilio di
Pantai Kelapa.
Di depan rumah Abilio, massa berhenti dan meminta ia lengser dari
jabatannya, disaksikan wakil Gubernur, Johanes Suryo Prabowo yang rumahnya
bersebelahan. Dari rumah Abilio, melalui Jalan Tien Soeharto kembali ke
Kantor Gubernur. Di sana ribuan orang yang tidak mengikuti pawai keliling
menunggu di bibir Pantai Dili persis depan kantor Gubernur. Mereka tak bisa
mendekati Kantor Gubernur karena polisi memasang kawat-kawat berduri di
jalan-jalan sekitar Kantor Gubernur.
Menurut Leandro Isaac, Koordinator Front Penegak Komunike Dare-CPN-CNRT,
aksi massa yang melibatkan puluhan ribu warga Timor Timur merupakan bentuk
solidaritas warga Timor Timur terhadap para PNS yang mendukung referendum.
"Aksi ini juga untuk menunjukan kepada dunia dan masyarakat luas bahwa CNRT
memiliki kekuatan untuk memberikan solidaritas kepada sesama warga Timor
Leste," ujarnya.
Sehari sebelumnya, Sabtu (10/10) tepat di hari ulang tahun (HUT) kota Dili
ke-229, penduduk Dili secara serempak pula melakukan aksi mogok keluar
rumah. Aksi ini membuat Dili bak kota mati. Sebab selain mereka yang
benar-benar berniat mogok keluar rumah, ternyata warga pendatang juga ikut
memilih tidak keluar rumah karena ketakutan terjadi kerusuhan.
Sementara itu massa yang selama ini dekat dengan Abilio pun melakukan
penentangan. Tanpa diduga, sekitar 400 pemuda yang tergabung dalam
organisasi pemudaPenegak Integrasi (Gada Paksi) berdemonstrasi di Dili
menuntut gubernur Abilio mundur.
Massa yang dipimpin Eurico Gueterres, Selasa lalu (13/10) mulai sekitar
pukul 10.00 Wita, bergerak dari lapangan Pramuka menuju kantor gubernuran.
Namun karena kantor Abilio dijaga ketat oleh pasukan anti huru-hara,
akhirnya massa membelokkan aksinya ke arah kota. Pawai keliling kota tak
bisa dihindari. Mereka meneriakkan yel-yel anti Abilio dan menenteng spanduk
besar yang bertuliskan "Abilio penipu, gantung Abilio, turunkan Abilio".
Dalam pernyataannya, mereka meminta DPRD setempat untuk segera mengadakan
pemilihan gubernur, menggantikan Abilio. Mereka antara lain mengusulkan
nama-nama Tito Dos Santos Baptista (Ass I Setwilda Timtim), Ir Mario Vegas
Carrascalao (Gubernur Timtim), Domingos Maria Das Dores Soares (Bupati
Dili), Armindo Soares Mariano (Ketua DPRD I Timtim).
Menurut kelompok pemuda itu, selama masa jabatannya Abilio melakukan
korupsi, kolusi, pungli dan nepotisme. Abilio mengangkat dan memberi
peluang kepada keluarganya, orang-orang yang berasal dari kampungnya menjadi
pejabat Pemda Timor Timur, dan anggota DPRD Timor Timur. Mereka juga menuduh
Abilio membiarkan sejumlah perusahaannya dan berbagai perusahaan milik
saudara-saudaranya menghindari pajak. Lebih lanjut, Abilio diduga juga
berkolusi dengan keluarga Soeharto dengan merekayasa Soeharto jadi Bapak
Integrasi.
Selain itu Abilio diduga telah melepaskan tanah adat milik rakyat seluas
puluhan ribuh hektar di kawasan selatan Timor Timur untuk membuka usaha
perkebunan tebu kepada Tommy Soeharto, menggelapkan dana santunan untuk para
mantan partisan pendukung integrasi, para janda dan anak yatim piatu
prointegrasi. Dana itu konon di simpan di bank-bank yang di kelola Yayasan
Hati, yayasan milik keluarga Abilio. Ia juga dikabarkan telah merampas tanah
milik rakyat di Ai Mutin Hun dan di sepanjang jalan tol Comoro, Bidau, Hera.
Menurut beberapa sumber di Dili, aksi kali ini merupakan aksi paling memukul
Abilio. Sebab kelompok tersebut selama ini merupakan kelompok yang paling
dekat dengan Abilio. Posisi Abilio memang sedang dalam bahaya. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist