[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
Re: LAGU DANGDUT BERNADA ANTI-CINA BEREDAR DI MASYARAKAT
> From: "Saut Situmorang" <s.situmorang@auckland.ac.nz>
> Organization: The University of Auckland
> To: siarlist@minihub.org
> Date: Wed, 4 Nov 1998 18:36:45 GMT+1200
> LAGU DANGDUT BERNADA ANTI-CINA BEREDAR DI MASYARAKAT
>
> JAKARTA (SiaR, 27/10/98), Sebuah lagu dangdut bernada rasialis, atau
> anti-Cina, kini beredar di masyarakat. Lagu dangdut berjudul "Krisis Cinta"
> yang dinyanyikan Bustami dan diciptakan oleh Bagus itu bertema cinta, tapi
> syairnya dinilai berbagai kalangan sebagai bersifat rasis dan anti-Cina.
> Promo video-klip lagu itu sendiri kini selalu diputar setiap pagi di stasiun
> Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).
>
> Banyak pemirsa terkejut dengan syair lagu yang dianggap merendahkan
> etnis Cina, karena salah satu syairnya yang menyebutkan penyesalan seorang
> gadis keturunan Tionghoa yang terlahir sebagai etnis Cina dan bermata sipit.
> Apalagi karena kulit dan matanya yang sipit itu, seperti disebutkan di dalam
> syair lagu, si gadis keturunan di tinggalkan pacarnya yang bumiputera/asli
> Indonesia.
>
> Seorang pemirsa televisi etnis Cina kepada SiaR, menyatakan kekagetannya
> setelah mendengar syair lagu tersebut, apalagi diembel-embeli dengan
> pernyataan sang gadis etnis Cina -- seperti yang dilantunkan sang penyanyi,
> bahwa dirinya jika boleh memohon pada Tuhan agar tak dilahirkan sebagai
> orang Cina.
>
> "Dari syair lagu tersebut, seolah-olah menjadi keturunan Cina merupakan
> suatu aib. Dan Tuhan menciptakan umat manusia dibeda-bedakan, dengan etnis
> Cina sebagai etnis pembawa bencana atau sumber masalah," kata pemirsa warga
> keturunan Cina tersebut prihatin.
>
> Di bawah ini syair yang dikutip SiaR dari lagu "Krisis Cinta" > tersebut:
>
> "Mengapa hanya karena mata sipit
> Andai boleh memohon kepada Tuhan,
> agar aku tak dilahirkan jadi orang Cina.
> Kekasih memutus cinta,
>
> Hanya karena aku orang Cina
> Bukan salahku dilahirkan sebagai orang Cina,
> kalau Aku boleh memilih,
> Aku ingin dilahirkan sebagai pribumi saja=85"
************
SS:
Membaca syair lagu dangdut di atas, kalau memang benar begini
yang terdapat dalam lagu tsb, saya tidak bisa mengerti apa yang
dimaksudkan oleh Meliani Budianta.
Syair atau lirik lagu di atas jelas sekali bernada rasis atau
sarais! Ciri-ciri fisik yang digambarkan dalam syair dan arti yang
diwakilinya tidak mungkin tidak bermaksud lain daripada melecehkan orang
keturunan Cina. Kalau Meliani Budianta menuduh adanya sebuah sikap Political
Correctness yang melatari pemberitaan SIAR ini dan perlunya "kelapangan
dada" dalam kondisi kontemporer Indonesia, dia itu sebenarnya sudah
melakukan sebuah oksimoron sikap. Political Correctness, bukan cuma terjadi
di Amerika atau berasal dari sana!, adalah sebuah akibat dari makin
sensitifnya manusia sekarang, manusia posmo kata orang, atas berbagai
ragamnya ras, kelompok etnik, budaya, ide, dsb di bumi ini. Tidak ada lagi
ide dominasi satu ras, kelompok etnis, gender, budaya, atau ide, atas yang
lainnya, seperti di jaman kolonial dulu, misalnya.
Jadi, Political Correctness itu bukan sebuah hal yang negatif, kalau
memang Polical Correctness yang melatarbelakangi pemberitaan SIAR tsb.
Political Correctness memang selalu dicurigai oleh kelompok tertentu,
khususnya media massa, karena memang bagi media massa sebuah sensasionalisme
adalah obat mujarab menuju laku di pasar. Sikap mencurigai PC beginilah yang
mesti dicurigai kembali.
Lalu soal "kelapangan dada" tadi, apa maksudnya pernyataan fatalistik
begini? Melapangkan dada bahwa rasisme itu memang ada dan mesti diterima,
atau melapangkan dada sebagai sebuah sikap cuwek acuh tak acuh? Melapangkan
dada dalam menghadapi sebuah rasisme, misalnya, tak peduli terhadap siapa
rasisme itu ditujukan, adalah sebuah sikap yang tak pantas dilakukan,
apalagi oleh kaum intelektual, yang di negeri-negeri Dunia Ketiga
Pascakolonial kayak Indonesia bisa dikatakan sebagai "Penyambung Lidah
Rakyat", yang memang masih memerlukan bantuan para intelektualnya itu. Sikap
hidup "di atas angin" ala Melapangkan Dada begini adalah sikap dingin para
intektual modernis yang tidak bersedia "mengotorkan" tangan kakinya atas
persoalan sosial di sekitarnya. Rakyat kebanyakan masih dianggap sebagai
"Yang Lain", di luar "Diri Sendiri".
Saya harap SIAR tidak segan-segan memberitakan apa saja yang memang salah di
Indonesia, tanpa terpukau pada istilah kosong semacam "Political Correctness"
atau yang lainnya.
Saut Situmorang
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist