[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

PasaR---BERAS MURAH TAPI PETANI MAKIN TERPURUK



BERAS MURAH TAPI  PETANI MAKIN TERPURUK

        SEMARANG (PasaR, 4/11/98), Operasi pasar yang dilakukan pemerintah
dengan menjual beras impor atau beras Dolog dengan harga murah hanya akan
memperburuk mimpi para petani. Walau pun di masyarakat umum, turunnya harga
beras tersebut sangat disyukurinya. Apa pasal kerugian para petani tersebut?
Ternyata, tinggi rendahnya harga beras di pasaran tidak mampu mengubah
petani menjadi lebih sejahtera. 

        Setiap kali harga beras melambung tinggi, di saat gabah kering
sampai mencapai 1.800-2.000/kg, petani tetap saja tidak mampu menikmati
keuntungan. Begitu pula sekarang, ketika harga gabah kering turun  sejak
minggu ketiga bulan Nopember lalu, sampai mencapai harga Rp 1.250/kg, mereka
justru  bertambah terpuruk saja. Sebab, harga jual gabah masih tetap lebih
rendah dibandingkan dengan biaya yang ia keluarkan untuk menanam hingga
memanen padinya. 
Suryati (48) misalnya. Petani asal Karanganyar Demak Jawa Tengah ini
menceritakan bahwa sekarang ia lebih suka menggudangkan gabahnya dari pada
dijual di pasaran. Karena selain tidak mampu menutup biaya yang ia keluarkan
untuk menggarap sawahnya, ia hitung-hitung dengan harga jual gabah kering
Rp. 1250-1300/kg ia mengalami kerugian besar. "Biar lah beras itu tetap
tertimbun di gudang, untuk menunggu harga yang lebih pantas," kata Suryati.

        Penimbunan gabah seperti yang dilakukan Suryati ini juga dilakukan
oleh sejumlah petani di beberapa wilayah di Jawa Tengah, terutama di
sentra-sentra produksi padi seperti Grobogan, Klaten, Sragen, Kebumen,
Purworejo, Rembang dan sebagainya. Mereka memilih menimbun gabahnya dari
pada harus terus-terusan menelan kerugian. 

        Petani seperti Suryati dan teman-temannya di beberapa kota tersebut
bisa saja  melakukan penimbunan gabahnya di gudang lantaran masih banyak
cadangan penghasilannya untuk mengidupi keluarganya sehari-hari-hari.
Sementara Warjio (52), petani Semarang Timur ini terpaksa melepas saja
gabah-gabahnya walaupun tetap harus merugi. "Habis bagaimana lagi, di rumah
kami banyak mulut yang harus disuapi," katanya disela-sela menunggu padinya
selesai diselep. 
Beberapa petani yang ditemui menuturkan, keterpurukan nasib petani padi
belakangan ini sedikitnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, oleh adanya
penurunan harga jual beras yang makin murah. Dan ke dua, akibat dari semakin
mahalnya bibit, pupuk serta obat-obatan untuk perawatannya.

        Menurunnya harga beras di pasaran di Jawa Tengah dan Indonesia pada
umumnya  merupakan sebuah keberhasilan dari operasi pasar yang dilakukan
oleh pemerintah  melalui dolog. Dan menurut informasi, masyarakat sekarang
mulai lebih menyukai beras hasil operasi pasar (OP) Dolog. Karena katanya,
beras-beras tersebut  telah dioplos dengan beras lokal. 

        "Selain murah, rasanya tidak begitu buruk," kata Marni, pemilik
warung dipinggir jalan raya Demak-Semarang ini. 

        Menurut cerita Marni, beras Dolog hasil impor dari Thailand yang
harga OPnya Rp 1.950/kg tersebut setelah dioplos dengan beras lokal, dijual
di pasaran Rp 2.150/kg. "Kalau yang 15% lebih mahal dibanding yang 25%. Tapi
kualitas 15%lebih baik," katanya. Maksud persen-persen tersebut adalah
jumlah beras patahannya.

        Karena alasan murah dan tidak begitu buruknya rasa beras OP tersebut
maka konsumen lebih banyak membeli beras OP dibanding beras yang dari petani
lokal dengan harga rata-ratanya antara Rp 2.400 - 2.800/kg. Awal pekan ini,
di Pasar Jatingaleh Semarang, harga beras C4 super dijual Rp 2.800/kg, beras
C4 biasa Rp 2.500/kg. Umbuk Menthik dan Cisadane rata-rata dijual Rp
2.800/kg. Dan ternyata harga di Jatingaleh tersebut merupakan harga
rata-rata di beberapa wilayah di Jawa Tengah, termasuk Demak dan Purwodadi.
Di pasar eceran di Demak, harga beras C4 super mencapai Rp 2.750 per kg.
Sedangkan Umbuk Menthik Rp 2.850/kg, jenis IR 64  yang tiga minggu
sebelumnya mencapai Rp 2.900/kg, sekarang telah dijual dipasaran dengan
harga Rp 2.350/kg.

	Keterpurukan nasib para petani tersebut selain semakin murahnya harga beras
juga karena masalah pupuk dan obat-obatan perawatan tanaman padi.
Obat-obatan yang masih saja tidak mau beranjak turun tersebut semakin
membebani biaya produksi petani. Bayangkan saja, pekan lalu harga urea priil
berkisar antara Rp 500-550/kg, bahkan sampai di desa-desa urea dijual dengan
harga Rp 600/kg. Konon, harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh
pemerintah sebesar Rp 450/kg. Begitu juga pupuk SP-36 yang di pasaran
mencapai Rp 850/kg, walaupun harga patokannya hanya sekitar Rp 725/kg.

	Tingginya harga pupuk eceran tersebut, menurut beberapa sumber diakibatkan
karena ketidakberesan distribusi pupuk yang selama ini ditangani
koperasi-koperasi. Konon, justru bisnis jual beli delivery order juga marak
dalam distribusi pupuk tersebut. Barangkali itulah, proses reformasi sama
sekali belum menyentuh rakyat kecil. ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist