[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: PONGAH
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 43/I/24 - 30 Oktober 98
------------------------------
PONGAH
(LUGAS): Kekuasaan membuat orang korup, lalu bersikap pongah. Itulah yang
tergambar menjelang penutupan rapat pimpinan Partai Golongan Karya, pekan lalu.
Tak satupun kata penyesalan keluar dari mulut Akbar Tanjung, Ketua Umum
Golkar, saat berpidato di depan anggota partainya. Padahal, sebagian peserta
yang datang dari daerah sudah menyarankan agar Golkar mengeluarkan
pernyataan resmi meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Karena, bagaimanapun,
partai beringin itu ikut andil dalam menjebloskan bangsa ini ke jurang
krisis ekonomi, politik, dan moral, seperti sekarang ini.
Atas dukungan Golkar lah, Soeharto sukses menjalankan kedidaktorannya selama
32 tahun. Lewat Golkar pula, ditumbuhkan budaya politik anti-demokrasi.
Berkat Golkar, perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme alias KKN merajalela
di tengah masyakarat.
Semua itu, secara faktual tak terbantahkan. Tapi, alih-alih mengakui dengan
rendah hati, para pimpinan Golkar justru bersikap pura-pura tak tahu. Abdul
Gafur, salah seorang pemimpin Golkar yang dikenal luas sebagai politisi
opurtunis, dengan arogan malah mengatakan, "Untuk apa minta maaf. Kami tak
merasa bersalah sama sekali."
Agaknya, kepongahan itu telah menutup mata hati dan akal sehat orang-orang
Golkar. Memang, sampai saat ini, mereka masih menduduki kursi kekuasaan.
Namun, kursi itu jelas tak senyaman dulu lagi. Kaki-kaki penyangganya tampak
jelas sudah rapuh dan keropos, dimakan rayap-rayap kekuasaan. Rakyat, yang
sudah lama muak, menunggu saat yang tepat untuk mendepak jatuh "kursi butut"
itu.
Tapi, itulah, rayap-rayap kekuasaan terlalu pongah untuk bisa mendengar
suara rakyat. Tanpa peduli, mereka malah sibuk mencari cara mempertahankan
kursi kekuasaannya. Pola-pola politik Orde Baru -menjegal lawan politik,
menjilat penguasa, atau menggunting kawan seiring- diteruskan. Berbagai
undang-undang pun dirancang untuk menghadang kekuatan reformasi. Dan politik
uang pun disiapkan untuk menarik simpati rakyat.
Toh, itu semua tak berarti apa-apa. Tak seperti rayap-rayap kekuasaan nan
pongah itu, nurani rakyat bisa melihat dengan terang batas kebenaran dan
kebathilan. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist