[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: SOAL FREEPORT, SOEHARTO LOLOS
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 43/I/24 - 30 Oktober 98
------------------------------
SOAL FREEPORT, SOEHARTO LOLOS
(EKONOMI): Ribut-ribut soal Freeport melupakan cara busuk Soeharto
memperoleh saham di tambang terbesar di dunia itu.
Jeffrey Winters, pengamat ekonomi-politik dari Amerika Serikat itu menuding
Menko Ekuin, Ginadjar Kartasasmita melakukan kolusi di tambang emas Freport,
Irian Jaya. Lalu, orang ramai-ramai menuding Ginandjar. Belakangan,
ribut-ribut itu menyeret Aburizal Bakrie, yang memperoleh jatah sepuluh
persen saham Freeport tahun 1991. Konon, karena rekomendasi Ginandjar,
Bakrie memperoleh bagian saham itu tanpa lelang atau prosedur sejenisnya.
Ginadjar memang bermain mata dalam penjualan saham Freport kepada Bakrie
itu. Namun siapakah yang kini paling diuntungkan dan luput dari tudingan?
Jawabnya: Soeharto. Ini semua karena kepiawaian mantan presiden itu. Begini
ceritanya: pada 1991, ketika Freeport mengajukan kontrak karya kedua yang
akan habis tahun 2003, Soeharto meminta tambahan jatah saham dari sepuluh
persen jadi 20 persen. Sepuluh persen tambahan itu akan diberikan kepada
swasta nasional. Alasan resminya mengapa tak dibeli oleh pemerintah karena
Departemen Keuangan tak berminat menambah sahamnya.
Nah, dari alasan ini saja sudah menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin
pemerintah menolak memiliki saham perusahaan tambang emas terbesar di dunia
yang pasti akan menguntungkan itu?
Waktu itu, Freeport mengirim Henry Kisinger, mantan Menteri Luar Negeri
Amerika Serikat yang jago runding itu. Henry pun setuju menambah jatah
sepuluh persen saham pihak Indonesia. Soeharto nampaknya kepingin memperoleh
saham di Freeport dengan membuat keputusan sepuluh persennya dimiliki swasta
nasional. Nama Bakrie kemudian dipilih untuk memegang jatah saham itu.
Bakrie sendiri sebenarnya tak sanggup membeli saham-saham yang nilai
totalnya US$213 juta. Namun karena ditunjuk Pemerintah, Bakrie harus
meminjam US$173 juta dari Chemical Bank. Untuk membeli saham itu pun Bakrie
harus mendirikan PT Indocopper Investama Corporation (PT IIC). Seperti
diduga, Bakrie banyak memetik keuntungan dari kepemilikan saham itu. Namun,
beberapa tahun berselang, kepemilikan saham Bakrie di PT IIC dilepas kepada
PT Nusamba Mineral Industri (PT NMI), atas permintaan Soeharto. PT NMI, anak
perusahaan Grup Nusamba yang 80 persen sahamnya dimiliki Soeharto, membeli
51 persen saham senilai US$315 juta, milik Bakrie, sedang sisanya, 49
persen, sesuai atusan karena perusahaan ini sudah go public di lepas di
bursa saham.
Saham sebesar 49 persen yang dilepas Bakrie ini di bursa saham bisa saja
dibeli Freeport atau dibeli Soeharto melalui Bob Hasan. Dari penjualan saham
kepada Grup Nusamba itu, Bakrie diuntungkan hampir 500 persen, karena saham
Freeport kala itu tengah meroket. Namun, siapa kini yang mempersoalkan
kepemilikan Soeharto lebih dari enam persen di PT Freeport? Sama sekali tak
ada.
Padahal hingga kini, Soeharto masih menikmati hasil saham di PT Freeport itu
yang direbutnya dari Bakrie. Dulu, Soeharto nampaknya malu kalau tiba-tiba
menyerobot tambahan jatah sepuluh persen saham yang diberikan Henry Kisinger
untuk pihak Indonesia. Dengan triknya ia memberikan kepada Bakrie dan pada
saat yang tepat diambilnya kembali. Dan, itu jadi kenyataan.
Penambangan emas memang amat menguntungkan. Itulah sebabnya, ketika terbetik
kabar bahwa di Busang, Kalimantan ditemukan deposit emas terbesar di dunia,
Soeharto buru-buru merebutnya. Waktu itu, berkongsi dengan BreX ia akan
mengeksplorasi emas di sana. Sayangnya, Busang hanya isapan jempol dan
Soeharto yang sudah membayangkan akan jadi orang terkaya di dunia itu pun
kecewa.
Namun, sebagai obat kecewa, setidaknya Soeharto masih akan menikmati
keuntungan saham PT Freeport hingga tahun 2033, ketika kontrak karya kedua
berakhir. (*)
------------------------------
Berlanganan XPOS secara teratur
Kirimkan nama dan alamat Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist