[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR---ANGKATAN DARAT TERLIBAT KERUSUHAN DAN PEMERKOSAAN MEI 98



ANGKATAN DARAT TERLIBAT KERUSUHAN DAN PEMERKOSAAN MEI 98

        JAKARTA (SiaR, 6/11/98), Angkatan Darat, terutama satuan Komando
Pasukan Khusus (Kopassus), diketahui terlibat dalam merekayasa kerusuhan 13
hingga 14 Mei di sejumlah kota, terutama di Jakarta dan Solo. Bukti-bukti
itu ditemukan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang akan diserahkan
kepada pemerintah. Bukti-bukti itu sendiri tak akan dipublikasikan.
Bukti-bukti keterlibatan Angkatan Darat nampak dari temuan-temuan berikut ini.

        DI SOLO: Pada 14 Mei 1998, pukul 10.30 enam truk militer mengangkut
sekitar lima SSK pasukan Kopassus dari Grup-2 Kandang Menjangan, Kartosuro,
mermasuki Pangkalan Udara Adi Sumarmo. Pukul 14.00 pasukan itu diterbangkan
ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Hercules dan Boeing. Grup-2 ini
memiliki 3 batalyon, jadi lima SSK yang diterbangkan ke Jakarta ini
kekuatannya separo dari jumlah yang ada. Pengangkutan pasukan ke Jakarta ini
menimbulkan tanda tanya, yakni mengapa pasukan itu tak diterjunkan di Solo
yang saat itu tengah dilanda kerusuhan dahsyat?

        Pukul 12.00 sejumlah sepeda motor berstiker Kopassus (baret dan
sangkur, simbol kesatuan) hilir mudik mendrop sejumlah orang di sekitar
lokasi aksi mahasiswa Universitas Muhamadiyah, Surakarta. Ciri-ciri
orang-orang itu, gesit, badan berisi. Mereka berbaur dengan massa di sekitar
kampus UMS.

        Pukul 14.30, dari belakang SMU Batik, banyak orang bersegaram SMU
turun dari bus dan menyusuri jalan di samping SMU itu dan melakukan
serangkain perusakan dan pembakaran bangunan. Orang-orang berseragam SMU itu
terlihat terlalu tua untuk ukuran anak SMU.

        Pukul 15.00 massa akan merusak Hotel Sheraton, namun dapat dihalau
oleh Pasukan Khas (Paskhas) Angkatan Udara. Beberapa waktu kemudian datang
satuan Kopassus yang bermaksud mengambilalih pengamanan hotel. Terjadi
ketegangan antara dua pasukan elit yang berbeda angkatan itu. Namun,
akhirnya Paskhas AU tetap bertahan.

        Sejumlah anggota polisi yang ingin memeriksa korban yang terpanggang
di toko Bata dilarang petugas Kostrad. Alasan para petugas Kostrad itu,
mereka diperintahkan komandan.

        Sekitar pukul 18.00, di Pangkalan Udara Adi Sumarmo, terjadi
ketegangan antara Komandan Lanud (Dan Lanud) dengan Komandan Kodim (Dandim)
Boyolali. Dandim Boyolali akan mengambilalih pengaman bandara namun Dan
Lanud menolak, karena sesuai prosedur, bandara itu berada di bawah kendali
Angkatan Udara. Di bandara yang juga digunakan untuk pangkalan militer itu,
terdapat gudang senjata dan alat-alat penting pertahanan udara. Pada petang
itu juga dua orang berpakaian ninja menyusup ke kompleks Lanud. Penyusup itu
kemudian diketahui sebagai anggota Kopassus, yang bermarkas di Kandang
Menjangan, Kartosuro.

 	Pukul 18.00. Seorang anggota Korem Surakarta, mengacungkan jempol kepada
para perusuh yang menjarah, merusak dan membakar sejumlah bank, toko dan
dealer mobil di sekitar Purwosari.

	Komandan Korem Surakarta yang juga mantan Dan Grup-2 Kopassus/Kandang
Menjangan, melarang polisi yang akan mencegah massa yang akan membakar Pasar
Kliwon. Dinas Pemadam Kebakaran Solo pun tidak bisa melaksanakan tugasnya
karena tidak memperoleh ijin dari Komandan Kodim Solo. Toyota Landcruiser
warna merah milik Kodim Solo juga terlibat mendrop ban-ban untuk dibakar dan
sejumlah barang untuk keperluan perusakan gedung-gedung.

        DI JAKARTA: TGPF menyimpulkan bahwa Mayjen Sjafrie
Sjamsuddin,sebagai Pangdam Jaya atau Pangkoops (Panglima Komando Operasi)
Ibukota saat itu tak melakukan tugasnya mengamankan Jakarta dari kerusuhan.
Temuan di lapangan membuktikan, tentara memang terlibat dalam rekayasa
kerusuhan. Selain mereka tak menindak para perusuh bahkan sejumlah pasukan
malah ditarik ke barak, para provokator yang kebanyakan berpakaian rapi dan
menggunakan seragam pelajar SMU, diduga kuat merupakan anggota militer.

        Temuan lapangan menyebutkan, sejumlah provokator berbaju seragam
SMU, dengan badge OSIS dan tak tertera nama sekolah yang biasanya ditempel
di lengan, namun bercelana jeans melakukan pelemparan-pelemparan. Cara
melempar batu dan bom molotov, menurut temuan lapangan itu, sama persis
dengan cara tentara melempar granat yang diayun bersama tubuh sehingga
jangkauannya menjadi lebih jauh.

        Para provokator itu itu rata-rata berbadan keras, walaupun ada yang
bertubuh sedang, bertenaga kuat, gesit dan terlatih. Ciri-ciri serupa juga
dikemukakan sejumlah korban perkosaan yang masih bisa diajak berkomunikasi.
Selain ciri-ciri tadi, para pemerkosa itu sebagian bertato dan tubuhnya
berbau alkohol.

	Ketika terjadi kerusuhan di Jatinegara, sekitar dua puluh anggota Kopassus
memberikan perintah pada para perusuh, yang terdiri atas para pemuda
tanggung. Di Matraman, sekelompok intel Kodam Jaya yang bermarkas di Kramat
V dan Kramat VII dibantu intel Kantor Sosial Politik DKI Jakarta terlibat
menggerakkan massa untuk merusak showroom Bimantara dan Toyota di Jalan
Kramat Raya.

	Seorang pelaku pembakaran di Jatinegara yang ditangkap polisi mengatakan ia
sudah dilatih bersama ribuan pemuda lainnya di beberapa tempat, termasuk di
daerah Cilangkap. Temuan lapangan juga membuktikan bahwa sejumlah organisasi
kepemudaan, seperti Pemuda Pancasila ikut terlibat, baik dalam kerusuhan
maupun dalam aksi pemerkosaan.

        DI MEDAN: Polisi menangkap seorang anggota Kopassus yang membawa
senapan M-16 dan FN-45 di dalam tas raket tennis. Anggota Kopassus ini
mengatakan memperoleh perintah dari Panglima Tertinggi (Presiden Soeharto)
untuk menyusup ke Medan.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist