[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
ISTIQLAL (6/11/98) SELAMAT JALAN PROF WF WERTHEIM
SELAMAT JALAN PROF WF WERTHEIM
Oleh: Wahana
Semalam, Dr Onghokham menjamu beberapa tamu - sahabat lama - dari
beberapa negeri yang kebetulan lagi di Jakarta, antara lain Sdr Joel
Rocamora. Dari Mas Goenawan Muhammad lah berita wafatnya Prof WF Wertheim
ini datang. Beberapa waktu sebelummnya tersiar berita beliau sakit dan harus
dirawat di rumah sakit.
Nama dan peran Prof Dr WF Wertheim cukup luas dikenal di Indonesia,
terutama dikalangan mereka yang mengenalnya di jaman Belanda, jaman
pendudukan Jepang dan tahun tahun awal dekade '50-60, tatkala beliau menjadi
gurubesar tamu di Fakultas Pertanian Bogor (sebelum menjadi Institut
Pertanian Bogor dan masih tergabung dalam Universitas Indonesia).
Nama dan peran Prof Dr Wertheim selain dikenal dari karya beliau "The
Indonesian Society in Transition" yang merupakan materi kuliahnya di Bogor
awal l950-an, juga banyak diketahui dari ceritera ceritera para Guru Besar
seperti almarhum Prof Dr Djokosutono, Prof Dr MM Djojodigoeno dan
tentunya dari Prof Sayogyo yang pernah menjadi asistennya di IPB.
Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada almarhum Prof MM
Djojodigoeno menilai tinggi "the Indonesian Society in Transition", jika
orang mau mengenal sosiologi masyarakat pedesaan di mana tinggal mayoritas
bangsa yang
"memberi makan" orang kota, termasuk yang memungkinkan para pejuang
kemerdekaan sanggup melangsungkan perjuangan bersenjata melawan tentara
kolonial Belanda. Sekalipun untuk ini, tak ada "bintang gerilya" bagi kaum
petani penggarap tanah. Pak Djojo, guru besar populis, menghubungkan apa
yang dilihat Prof Wertheim ini dengan penelitian almarhum Prof MA Jaspan
dari Inggris mengenai stratifikasi sosial masyarakat Indonesia pada medio
dekade '50-'60 an di Universitas Gadjah Mada dan di Universitas Pejajaran
Bandung. Jika Pak Djojo masih hidup sekarang, mungkin saja beliau akan
menarik analisis stratifikasi masyarakat Indonesia yang berkembang terus ini
sampai pada berbagai tulisan dari berbagai pakar, khususnya dari Prof Dr
Kuntowidjojo.
Nama dan peran almarhum Prof Dr Djokosutono banyak diangkat dalam
berbagai tulisan para mantan muridnya, terutama dalam buku "Satria
Pinandita". Namun jarang yang tahu bahwa Pak Djoko bisa menjadi Pak Djoko
Pakar Hukum Tatanegara Indonesia terkenal ini berkat "peranan khas" para
dosennya di Sekolah Tinggi Hukum Jakarta, terutama almarhum Prof Logeman
dan Prof Wertheim.
Djokosutono ini mahasiswa yang dikenal para dosennya sebagai mahasiswa yang
pandai dan perfeksionis sifatnya. Akibatnya, Djokosutono selalu ragu ragu
untuk "berani maju ujian". Konon, ceriteranya ini, digambarkan mahasiswa
Djoko lebih suka "sembunyi" di bawah kolong tempat tidur, manakala sang
dosen menengoknya.
Prof Logeman dan Prof Wertheim, konon mengambil inisiatif, masing
masing mendatangi tempat tinggal Djokosutono, mengajak menemaninya keliling kota
dengan mobil. Dalam perjalanan yang santai ini masing masing gurubesar ini
berwawancakap dengan sang mahasiswa yang pandai ini segala macam hal, dari
masalah kehidupan sehari hari sampai nyrempet nyrempet ke materi studi yang
harus diuji. Sang mahasiswa santai dan lancar menjawabnya. Begitu perjalanan
harus berakhir, sampai di tempat tinggal Djokosutono, betapa terkejutnya
sang mahasiswa harus menerima selembar kertas yang ditandatangani sang
profesor bahwa ia telah lulus tentamen dalam mata pelajaran yang ia "takuti"
itu.
Mungkin ceritera ini terkesan berlebihan. Tetapi paling tidak, di
masa ratio jumlah mahasiswa dan dosen cukup mamadai, para dosen berkewajiban
memperlakukan mahasiswa satu persatu sebagai anak didik yang harus berhasil.
Untuk itu "pendekatan pribadi" pun dilakukan dengan akrabnya. Maka, sulit
kita mengerti bila di "jaman kemajuan" sekarang sampai terjadi, mahasiswa
fakultas hukum dari semester pertama sampai akhir, tidak pernah berhadapan
muka dengan gurubesar yang mengujinya.
Masa pendudukan tentara Balatentara Dai Nippon, menempatkan Prof
Wertheim menjadi salah seorang penghuni kamp interniran, di mana semua
warganegara Belanda di Indonesia yang tak sempat lari ke Australia, mengalami
penderitaan dan siksaan fisik dan mental yang luarbiasa beratnya.
Pengalaman pahit Prof Wertheim ini tak menjadi trauma yang menawan
dirinya. Simpatinya pada Indonesia, menyebabkan beliau pada awal l950-an dengan
senang hati menjadi gurubesar Tamu di Fakultas Pertanian Bogor.
Konon Prof Wertheim yang handal memainkan piano dengan lagu lagu
klasik itu, senang sekali menerima kiriman kaset lagu lagu Sunda. Suasana
alam Pasundan yang melankolis kadang mengundang banyak inspirasi untuk
menulis tentang Rakyat Indonesia yang dicintainya yang masih tak habis
habisnya dirundung malang, aku Prof Wertheim pada ulang tahunnya ke 90, dua
tahun yang lalu.
Orang boleh saja setuju atau tidak setuju dengan sebagian karya tulis
Prof Wertheim, sesuatu yang wajar belaka di dunia ilmiah, namun barangkali
semua orang akan sependapat bahwa Prof Wertheim telah memberikan sebagian
masa hidupnya untuk Indonesia dan rakyat Indonesia yang ia cintainya.
Saat kepergiannya ini, tentu tak sedikit orang yang mengenalnya
langsung maupun tidak langsung di Indonesia akan merasa ikut kehilangan
seseorang seperti pribadi Prof Wertheim ini.
Dukacita kami untuk semua keluarga yang ditinggalkan, semoga Tuhan
memberikan ketabahan dan kekuatan. Selamat jalan Prof WF Wertheim,
beristirahat lah dalam kedamaian dan keabadian.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist