[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR---MEGAWATI SOEKARNOPUTRI: "KANTOR DPP-PDI AKAN DISERBU"
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI: "KANTOR DPP-PDI AKAN DISERBU"
JAKARTA (SiaR, 6/10/98), Sejumlah kelompok Soehartois makin berani
menyebar intimidasi pada kekuatan pro-demokrasi dan pro-reformasi total.
Setelah basis Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai daerah disatroni "ninja",
kini giliran kubu PDI Perjuangan yang diancam. Ketua Umum PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri, awal pekan ini di kediamannya di Kebagusan, Jakarta
Selatan menegaskan, tentang kemungkinan diserbunya kantor DPP-PDI di Lenteng
Agung oleh orang-orang tak dikenal.
"Saya serukan pada semua posko, terutama mereka yang dekat dengan kantor
DPP-PDI untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan ancaman penyerbuan
kantor DPP oleh orang-orang tak dikenal," katanya di hadapan ratusan
simpatisannya yang menghadiri acara mingguan pengkaderan politik di tempat
tinggalnya tersebut.
Menurut Mega, kantor DPP-PDI di Lenteng Agung, maupun beberapa kantor
cabang di Jakarta, dan fungsionaris PDI Perjuangan menerima ancaman telepon,
maupun teror langsung oleh sekelompok preman, yang kemudian dikenal sebagai
berasal dari ormas kepemudaan onderbouw Golkar, Pemuda Pancasila (PP).
Belum lama ini, posko-posko gotong royong PDI Perjuangan di kawasan Jakarta
Selatan diserang dan diserbu puluhan pemuda yang dipimpin oleh seorang
pengacara yang juga tokoh PP, Ruhut Sitompul. Ruhut datang bersama puluhan
pemuda tersebut dan menantang berkelahi beberapa kader PDI Perjuangan yang
saat itu sedang bertugas piket jaga.
Ruhut yang sejak bergulirnya reformasi, Mei lalu, secara tiba-tiba tampil
sebagai sosok reformis itu, mengancam para kader PDI Perjuangan yang berada
di posko. Beberapa pemuda tak dikenal, menendangi dan membanting
perlengkapan yang ada di posko, serta merobek atribut-atribut yang ada.
"Kalau tidak puas, silahkan kerahkan massa kalian. Kami juga bisa
mengerahkan ribuan massa Pemuda Pancasila untuk menghadapi massa PDI,"
ucapnya menantang.
Seorang fungsionaris DPP-PDI menyebutkan, Ruhut menelponnya dan
memberitahukan alasan tindakannya, karena ia kecewa namanya tidak disebutkan
setelah menyumbang dalam malam acara pengumpulan dana Posko Gotong Royong di
salah satu hotel berbintang belum lama ini. Malam dana itu sendiri berhasil
mengumpulkan uang sebesar Rp750 juta hanya dalam tempo empat jam.
Tapi alasan Ruhut itu diragukan banyak pihak di DPP PDI. Para fungsionaris
DPP PDI menduga, tindakan Ruhut tersebut sebagai bentuk-bentuk provokasi
kaum Soehartois menjelang berlangsungnya Sidang Istimewa MPR, 10-13 Nobember
1998.
Kaum Soehartois melalui ormas-ormas dan tokoh-tokoh operator lapangannya,
menjelang Sidang Istimewa MPR, terus melakukan penggalangan kekuatan dan
tindakan teror lainnya. Sejumlah apel siaga/apel akbar dilangsungkan,
sedangkan teror fisiknya seperti dilakukan di Banyuwangi dan daerah lainnya,
serta terhadap YLBHI, dan pengusaha Arifin Panigoro. Para pejabat
pemerintahan Habibie yang pro-Soeharto juga akhir-akhir ini sering
memojokkan mahasiswa yang pro-reformasi total sebagai kekuatan-kekuatan
inkonstitusional yang akan menggagalkan SI MPR.
"Tujuan akhir manuver-manuver kekuatan Soehartois itu adalah status quo
rezim fasisme/militerisme Orde Soeharto-Habibie," ucap salah seorang Ketua
DPP-PDI, Soetardjo Soerjogoeritno.
Menurut pantauan SiaR, ormas-ormas yang menjadi operator lapangan untuk
mencapai status quo tadi adalah Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia
Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ikatan Cendikiawan
Muslim Indonesia (ICMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persaudaran Pekerja
Muslim Indonesia (PPMI), Pemuda Pancasila (PP), Peguruan Silat Satria Muda
Indonesia (SMI), dan lain-lain.
Sedangkan tokoh-tokohnya antara lain Ahmad Soemargono, Eggy Sudjana,
Muhammad Jumhur Hidayat, Abdul Qadir Djaelani, Fadli Zon, Lukman Harun, Toto
Tasmara, dan lain-lain.
"Setelah diancam kekuatan Islam Nasionalis Nahdlatul Ulama dengan memberi
batas deadline akhir November ini agar menyelesaikan tragedi Banyuwangi,
baru mereka membuat Kongres Umat Islam, 3-7 November ini, yang memberi kesan
umat Islam telah diadu domba, maka perlu kongres untuk menyamakan visi.
Padahal mereka lah pelaku dari berbagai peristiwa teror, kerusuhan, dan
pengerahan massa, serta premanisme politik dengan berlindung di balik kedok
agama Islam," ucap seorang tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang
mengaku merasa gemas dengan teror yang juga dialami kubu PDI Perjuangan.
"Apa karena Gus Dur (panggilan akrab Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PB NU
-Red.) dan Mbak Mega terkenal sabar, lalu NU dan PDI Perjuangan terus
diobok-obok seperti yang dinyanyikan Joshua. Ingat, kami juga punya batas
kesabaran," katanya lagi.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist