[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR---100 SSK DAN PAGAR BERLISTRIK TAK BIKIN DEMO MAHASISWA SURUT



100 SSK  DAN PAGAR BERLISTRIK TAK BIKIN DEMO MAHASISWA SURUT
      
        JAKARTA (SiaR, 7/11/98), Penambahan pasukan hingga 100 SSK dan
unsur potensi masyarakat pengamanan SI di Senayan dan sekitar dengan
kawat duri beraliran listrik ternyata tak membuat aksi-aksi demo mahasiswa
menyurut. Bahkan arena aksi menjadi berbentuk diaspora dan menyebar di
banyak tempat.

        Mendekati  Sidang Istimewa 10-13 November mendatang penjagaan di
Gedung MPR/DPR-RI, Senayan bertambah 100 SSK (satuan setingkat kompi.#,
kira-kira 100 orang) ditambah 125 ribu unsur masyarakat yang terdiri atas PP,
Wargajaya, AMPI, Banser NU, satpam, pramuka dan pemadam kebakaran di sekitar
Senayan . Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa Banser NU ditarik dari
Senayan dengan alasan NU sendiri memerlukannya di lain tempat. Menurut
beberapa pihak di kalangan anggota dewan dari FPP hal ini dinilai berlebihan.

         Ternyata aksi protes mahasiswa justru tidak berkurang seperti.
Keluarga mahasiswa UI (KAMUI) Rabu (5/11) kemarin mendatangi DPR-MPR  RI.
Delegasi 20 orang ketua lembaga mahasiswa  tersebut menandaskan bahwa
legitimasi politik MPR/DPR sangat lemah. "Ini akan  menyebabkan timbulnya
keraguan rakyat, apa kah MPR/DPR punya komitmen pada perubahan kehidupan
bernegara yang lebih demokratis," ujar Ketua Senat Hukum UI, Dedi Setiarso.

         Dalam pernyataan sikapnya KAMUI juga menyatakan, SI MPR yang
akan dilaksanakan telah menimbulkan polemik di tengah masyarakat. "Jelas
ini preseden buruk," lanjut Dedy. "Masalah juga makin berkembang dengan
tidak aspiratifnya DPR-MPR. Hal itu terlihat dari bagaimana respon lembaga
itu menanggapi tuntutan penolakan ABRI di DPR," lanjutnya.

        Di tempat lain Forum Kota (Forkot) dengan dimotori mahasiswa
kampus Universitas Kristen Indonesia, ABA-ABI, YAI, Universitas Mpu Tantular
pada  pk 13.00 Rabu (5/11) lalu mengelilingi bundaran Hotel Indonesia dengan
membawa spanduk berisi anatara lain penolakan sidang istimewa dan seruan
agar segera dibentuk pemerintahan transisi. Dalam tuntutannya mereka juga
mendesak
agar segera dibentuk  Komite Rakyat Indonesia.

       Dalam  pernyataannanya, Jimmy Fajar, sang jurubicara, menandaskan
bahwa mereka tetap akan turun dengan strategi yang berbeda saat SI, walau
pun dihadang ribuan tentara. Aksi dengan sedikitnya diikuti 300 orang ini
diteruskan dengan longmarch menuju Kampus YAI, di jalan Diponegoro dibawah
guyuran hujan deras dan berakhir di depan kampus.

        Tugu Proklamasi dan lapangan proklamasi  pada hari yang sama juga
menjadi ajang Dialog Akbar yang diselenggarakan Front Aksi Mahasiswa untuk
Reformasi dan Demokrasi (Famred). Acara yang dilaksanakan dengan bentuk
mimbar bebas itu dipenuhi spanduk dan umbul-umbul  bertuliskan "Tolak
Dagelan Sidang Istimewa", "Yang Kami Butuhkan Sidang Rakyat", "Sidang Rakyat
Untuk Kekuasaan Transisi", "ABRI Main Politik Fungsi Hankam Terlantar",
"Awas Bahaya Laten
Soehartoisme".

        Dengan diikuti sedikitnya 500 orang mahasiswa, dialog hari itu juga
mengundang ketua sejumlah partai politik baru seperti KH Yahya Assegaf
(Partai Indonesia Makmur), Wimanjaya K Liotohe (Partai Rakyat Prima, penulis
buku Primadosa), Soenardi SH (Partai Rakyat Marhaen), Ny Supeni (Partai
Nasional Indonesia) dan Bambang Sulistomo (Partai Aliansi Demokrat
Indonesia). Partai- partai yang tergabung dalam forum partai pro-reformasi
total tersebut berorasi satu persatu menyampaikan pandangan meraka tentang
penggodokan RUU Politik dan Tap MPR soal jumlah anggota ABRI di DPR. Semua
ketua partai yang hadir pada acara tersebut menolak pelaksanaan Sidang
Istimewa yang mereka anggap tidak aspiratif ini .

        Pada tuntutannya FAMRED, dengan jurubicara  Syafiq  dari STF
Driyarkara mengatakan penolakan Sidang Istimewa yang menurut mereka tak
lebih dari Sidang Istana yang tak sesuai kehendak rakyat. Yang dibutuhkan
rakyat adalah Sidang Rakyat. "Sidang Rakyat memang sudah kami kampanyekan
sejak 28 Oktober lalu dan diulang pada Selasa (3/11) lalu dengan sebuah aksi
di 4 titik kampus-kampus yang ada di tingkat region kami dan kami akan
meneruskan aksi ini," ujar Syafig.

        Di ruas Jalan Gatot  Soebroto, tepat di depan Gedung MPR/DPR pada
Kamis (5/11) sekitar pk 14.30 digelar demonstrasi dari beberapa
kelompok secara bersamaan  dari FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa
seJakarta),  HMI Cabang Jakarta. Rombongan datang dengan kendaraan
pribadi maupun bus berdatangan secara bergelombang.

        Dandi, mahasiwa Universitas Perbanas selaku jurubicara pada pers
mengatakan, "FKSMJ akan memberi tengat waktu dan syarat. Ada pun syarat
itu di antaranya memasukkan agenda mengadili Soeharto, mencabut Tap MPR No
2, 3, 4 dan 6." FKSMJ mengancam jika tidak memasukkan agenda tersebut,
mereka akan melanjutkan aksinya. Pada kesempatan tersebut, sejumlah perwakilan
FKSMJ diterima  5 fraksi di MPR/DPR.

        Tampaknya aparat agak rikuh karena sorotan berbagai media tentang
keterlibatan unsur Potmas yang hari lalu masih berada di barisan depan
sekarang ditarik ke belakang spt Pemuda Pancasila, AMPI, Warga-Jaya dll.
Sekitar 400 an anggota HMI berjaket hijau dengan bendera dan spanduk tampak
berbaur dengan mahasiswa dari Gema-Unkris yang datang kemudian sehingga
membuat ruas jalan didepan gedung SPR-MPR RI tersebut ditutup hingga pukul
17.00 . Kedua kelompok tersebut juga membacakan tuntutan   menolak
pelaksanaan SI dan menuntut
penghapusan Dwi-fungsi ABRI.

        Bersamaan  saat terjadinya aksi gabungan FKSMJ-HMI dan bercampur dengan
Gema-Unkris tersebut ternyata dari arah Grogol tampak iring-iringan
mahasiswa dari Universitas Trisakti dengan 4 bus Mayasari Bakti dan beberapa
kendaraan pribadi . Dengan jaket biru  mahasiswa yang mengaku berangkat dari
kampus A , Grogol tersebut membelok ke arah gedung Manggala Wanabhakti , dan
melanjutkan aksi denga berjalan mendekati gedung DPR-MPR RI . Hal ini diluar
dugaan aparat keamanan yang sedang terfokus menjaga dari arah ruas jalan
Gatot Soebroto.
Rombongan sekitar 300 mahasiswa yang membawa bendera Pres-MUT (Presidium
Mahasiswa Universitas Trisakti ) ini selanjutnya mengirim delegasi kedalam
gedung DPR-MPR RI.

        Menurut juru bicaranya John, mahasiswa fakultas teknik Mesin, mereka
menuntut penghapusan Dwi fungsi ABRI, dan menginginkan pengadilan untuk
mantan presiden Seharto . Setelah menyerahkan pernyataan pada wakil rakyat
rombongan ini kembali kekampus.

        Tampaknya pagar beraliran listrik dan mobilisasi umat Islam yang
ditambah 100 SSK ( kurang lebih 10.000 prajurit) ini tidak menciutkan nyali
para mahasiswa yang Mei lalu berhasil menurunkan Soeharto. Bahkan membuat
mereka menjadi lebih militan.****

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist