[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->JAGATNTT: WAIKABUBAK BERDARAH
WAIKABUBAK BERDARAH
Berita Jaringan Gerakan Masyarakat Adat NTT (JAGAT-NTT)
Kerusuhan terjadi di Sumba Barat, tepatnya di Waikabubak. Dikabarkan 50
orang tewas, dan puluhan rumah serta toko dihujani batu, dibakar, dan
dijarah. Mayat-mayat korban yang tewas bergelimpangan di mana-mana dengan
luka-luka yang cukup parah bahkan ada yang dengan kepala terpenggal dan
anggota tubuh terpisah dari badan, tanpa bisa diambil oleh keluarga korban.
Korban yang tewas terdiri hampir atas semua umur, usia muda hingga orang tua
termasuk perempuan. Kebanyakan korban berasal dari suku Weejewa dan Loli.
Hingga hari Kamis, 5 November 1998 kemarin aparat keamanan belum berhasil
mengatasi keadaan. Warga menjadi ketakutan panik. Hampir 2400 orang
mengungsi ke luar kota. Penduduk juga mencari perlindungan ke asarama-asrama
tentara dan polisi, sementara rumah-rumah ibadah seperti Gereja tidak dapat
lagi dijadikan tempat berlindung karena tidak lagi cukup aman.
Insiden kerusuhan, yang lebih tepat disebut perang antarsuku antara Suku
Weejewa dan Suku Loli, dipicu oleh kecurangan dalam seleksi CPNS (calon
pegawai negeri sipil) Propinsi NTT. Disinyalir beberapa nama yang lolos
dalam seleksi tidak pernah ikut serta dalam seleksi. Menurut kabar yang
beredar orang-orang yang tanpa tes diterima menjadi CPNS tersebut berasal
dari suku Weejewa. Sementara, orang-orang dari suku Loli banyak yang tidak
lolos seleksi CPNS. Tanpa diduga, sehari setelah pengumuan penerimaan CPNS
pada tanggal 24 Oktober lalu, muncul unjuk rasa memprotes hasil tes yang
tidak adil tersebut. Puncaknya hingga 1 November, unjuk rasa memprotes hasil
tes perlahan berubah menjadi tuntutan agar Bupati Rudolf Mallo, yang entah
kebetulan atau tidak berasal dari Suku Weejewa dan Kabag Personalia Daud
Pakereng turun dari jabatannya.
Selain itu pertempuran antarsuku ini juga dipicu dengan adanya isu pemukulan
terhadap seorang penduduk asal Weejewa dan pembunuhan terhadap seorang
penduduk suku Loli di pasar inpres Waikabubak. Isu tersebut tersiar
sedemikian cepat sehingga penduduk dari kedua suku tumpah ke jalan-jalan
sambil membawa sennjata tajam. Dalam waktu singkat pecahlah pertempuran di
dalam kota Waikabubak yang mengakibatkan puluhan korban tewas.
Ketegangan antar dua suku ini sebenarnya sudah lama terjadi. Tahun 1992,
karena masalah perbatasan tanah suku, keduanya terlibat pertempuran yang
mengakibatkan jatuhnya korban di kedua belah pihak. Kecurangan dalam tes
CPNS yang sangat diwarnai KKN ini, kemudian memicu kembali perseteruan
antara kedua suku yang mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda bagi
kedua suku maupun warga lain yang tidak mengerti apa-apa.
Akhir-akhir ini fenomena perang antarsuku seperti ini makin sering terjadi
di NTT. Bulan lalu hal serupa juga terjadi pada suku Rendu dan Raja di Mbay,
kabupaten Ngada, Flores. Tersingkirnya komunita-komunitas adat di tengah
arus investasi yang menderas, dan diperburuk dengan tidak adanya partisipasi
politik masyarakat lokal telah menyebabkan meningkatnya secara tajam konflik
horisontal yang diwarnai kekerasan. Sangat ironis bahwa kejadian semcam ini
justru mudah terjadi bila masyarakat saling berhadapan, sementara negara dan
pemodal leluasa merampas kedaulatan mereka.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist