[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: "ACEH MERDEKA DI MASA DEPAN"



Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 06/II/18-24 Februari 99
------------------------------

Aguswandi, Sekjen Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat Aceh:
"ACEH MERDEKA DI MASA DEPAN"

(DIALOG): Mahasiswa dan pemuda Aceh 1 - 4 Februari lalu, berkumpul
mengadakan Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau. Tak dinyana, acara
ini mendapat sambutan luar biasa. Berbondong-bondong mahasiswa dan pemuda
yang merantau pada mudik. Dari Medan, Jakarta, Surabaya bahkan dari Malaysia
dan Kanada ikut menghadiri acara yang menurut mereka maha penting. Kongres
yang diadakan di Auditorium Teungku Nyak Arif ini dihadiri 308 orang yang
mewakili 118 lembaga. Mereka membahas format Aceh di masa depan. Hadir
sebagai pembicara yang bisa mengupas Aceh dari segi historis dan kultural,
Dr. Gade Ismail sejarahwan Universitas Syah Kuala Aceh, juga Prof. Hakim
Nyak Fa pengamat politik dari Universitas Syah Kuala Aceh dan Prof. Dr.
Abdullah Ali mantan rektor universitas yang sama. 

Dari kesimpulan Kongres, dari dulu Aceh merupakan daerah yang tidak pernah
mengalami kemerdekaan. Sejak keluar dari penjajahan Belanda, Jepang , masa
Soekarno dan masa Orde Baru, rakyat Aceh selalu mengalami penindasan dan
pembunuhan. Meski status Daerah Operasi Militer ABRI sudah dicabut sejak
Agustus tahun lalu, penindasan dan pembunuhan terhadap masyarakat rencong
ini tidak pernah berhenti. Dan solusi keluar dari penderitaan itu, menurut
kongres, adalah referendum! Itu adalah jalan keluar untuk mengetahui suara
rakyat Aceh. Dengan referendum, masa depan Aceh ditentukan langsung oleh
rakyat Aceh; mau jadi bagian dari federasi atau langsung jadi negara Aceh?  

Untuk mengorek lebih jauh tentang kongres dan bagaimana pelaksanaan
referendum ini, Xpos mewawancarai Aguswandi, Sekretaris Solidaritas
Mahasiswa untuk Rakyat (SMuR) Aceh, yang juga salah satu panitia
penyelenggara acara tersebut. Dalam mensosialisasikan hasil kongres
tersebut, SMuR mengadakan kemah demokrasi selama lima hari berturut-turut di
pinggir jalan kota utama Banda Aceh. Mereka juga menggelar kain putih
sepanjang 10 meter yang dipasang di Jalan raya Banda Aceh untuk
ditandatangani masyarakat Aceh sebagai ungkapan setuju atas referendum.
Berikut adalah wawancara tersebut: 

T: Apa tujuan kongres?
J: Menyamakan persepsi di antara peserta tentang bagaimana menyelesaikan
problem rakyat Aceh. Sangat komplek persoalannya dan kawan-kawan coba mau
cari solusi. 

T: Dari hasil kongres, apa yang terbaik bagi Aceh?
J: Kawan-kawan berpikir bahwa yang paling baik adalah mengembalikan
persoalan ini kepada rakyat. Kita tak bisa berharap dari pemerintahan pusat
Jakarta. Dan bahkan kami sepakat bahwa referendum merupakan jalan terbaik
untuk menyelesaikan problem rakyat Aceh. Referendum itu menanyakan kepada
rakyat Aceh apakah rakyat Aceh menghendaki kemerdekaan negerinya. Mahasiswa
sebagai penyambung aspirasi rakyat berniat untuk memperjuangkan
terlaksananya referendum tersebut.

T: Strategi apa yang digunakan mahasiswa untuk merealisasikan referendum itu?
J: Output kongres ini secara garis besar bukan output kerja tetapi output
pemikiran. Persoalan output kerja itu dikembalikan kepada organisasi
masing-masing. Ada santri yang aktif di pesantren, ada pemuda yang aktif di
ormasnya dan ada mahasiswa yang aktif di organisasi kampus maupun di luar
kampus. Tapi kongres juga menghasilkan output kerja jangka pendek,
diantaranya adalah upaya sosialisasi kepada masyarakat. Kita menjelaskan
kepada rakyat apa latar belakang hingga perlu suatu referendum yang tentunya
berbeda dengan otonomi daerah atau federasi.

T: Mampukah mahasiswa membuat lembaga pelaksanaan referendum ?
J: Bagi SMuR sendiri tentunya sangat realistis. Dalam jangka waktu dekat
jelas tidak mungkin untuk mengadakan referendum. Tapi upaya ke arah sana
sudah dilakukan yaitu dengan sosialisasi tadi. Dan kalau kita bicara tentang
referendum kepada rakyat tujuannya jelas, yaitu Aceh merdeka di masa depan.
Tak ada pilihan lain untuk keluar dari penindasan Eropa sampai Jawa. Kerja
yang kami lakukan selain melakukan aksi-aksi massa juga melakukan pembusukan
terhadap pemerintah pusat. Referendum dalam pelaksanaan yang kita bayangkan
nanti bukan dilakukan oleh pemerintahan Jakarta tetapi oleh lembaga yang
diawasi oleh PBB. Contoh dari pembusukan yang kami lakukan adalah kampanye
untuk boikot pemilu. Atau menolak adanya Kodam dan tentaranya. Rakyat sudah
sadar terhadap penindasan militer, tinggal kami harus mengadakan kerja-kerja
untuk mengoptimalkan dan mensolidkan elemen-elemen yang ada. Kalau kami
tidak bergabung dengan rakyat, mereka juga akan bergerak sendiri. Kehendak
rakyatlah yang memimpin gerakan kami. Jadi kalau kami tidak bisa mengambil
peran sebagai penyambung lidah rakyat, rakyat yang akan meninggalkan kami.
Itulah realitas objektif yang ada sekarang ini.

T: Rakyat menerima hasil kongres untuk referendum?
J: Kalau kami melihat realitas rakyat, rakyat sudah lebih maju daripada kita
mahasiswa. Mereka sudah minta merdeka, kita masih minta referendum. Nah,
referendum ini alat untuk mengakomodasi keinginan rakyat Aceh yang sudah
begitu menginginkan kemerdekaan dan sekaligus untuk mencegah konflik
kekerasan yang berkepanjangan antara ABRI dengan rakyat. Hasil referendum
adalah legitimasi yang sah dan mempunyai kekuatan hukum untuk menentukan
masa depan rakyat Aceh. Dan menciptakan suasana demokratis di daerah, tidak
ada lagi yang dituduh subversif.

T: Tanggapan gubernur atau pemerintah sendiri bagaimana?
J: Kami sudah bertemu gubernur. Dia belum menjawab secara tegas tapi mau
menerima hasil kongres kami. Dia bilang ya kalau itu memang keputusan rakyat
Aceh sosialisasikan saja, apakah rakyat terima, itu tanggapanya. Kita
sekarang coba melakukan pressure dengan pengumpulan tanda-tangan dan nanti
diserahkan kepada gubernur. Yang penting kami sekarang sedang memperkuat
barisan bersama-sama.

T: Tanggapan media dan LSM Aceh?
J: Mereka dukung dan sepakat dengan itu.

T: Tanggapan dari intelektual Aceh?
J: Baru-baru ini mereka adakan pertemuan. Delapan puluh lima di antaranya
menghendaki referendum. Lima puluh orang menghendaki Aceh merdeka dan
sebagian kecil berpendapat masih perlunya negara federasi.  

T: Target berapa tahun Aceh merdeka?
J: Kami tidak menentukan target, kita mulai saja dengan kerja politik untuk
menolak pemilu karena pemilu ini tidak memberi manfaat apapun bagi rakyat
Aceh dan yang jelas tidak menyelesaikan masalah rakyat Aceh yang sudah lama
menderita. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@hotmail.com


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html