[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

REKAMAN HABIBIE-GHALIB



Precedence: bulk


REKAMAN HABIBIE-GHALIB

        JAKARTA (SiaR, 20/2/99), Sehubungan dengan adanya banyak permintaan 
pembaca untuk memuat rekaman "skandal" pembicaraan telepon antara Presiden 
BJ Habibie dan Jaksa Agung M Andi Ghalib, maka redaksi memutuskan untuk 
memuatnya.

        Pembaca akan lebih mengerti bahwa budaya penyadapan memang masalah 
penting, apalagi umum telah tahu bahwa rumah dan kantor aktivis sedari dulu 
sudah disadap. Tapi yang lebih penting adalah isi pembicaraan kedua pejabat 
negara yang sungguh memprihatinkan. Dari rekaman jelas sekali bagaimana 
presiden menggunakan kekuasaannya untuk membelokkan persoalan dan tuntutan 
masyarakat, dari upaya menyeret mantan Presiden Soeharto menjadi masalah 
sejumlah pengusaha. Di negara maju hal ini dikualifikasikan sebagai 
penyalahgunaan wewenang/jabatan.

        Agar lebih jelas, pembaca disilakan menyimaknya sendiri. Rekaman 
ini persis dengan yang disiarkan majalah Panji Masyarakat No. 45 Tahun II/24 
Februari 1999. Lewat uji-coba laboratorium sederhana, dengan menggunakan 
perbandingan suara dan metoda berulang --dengan bantuan sebuah recorder,
mikrofon dan osiloskop-- redaksi SiaR menyimpulkan bahwa karakter suara dalam
rekaman yang beredar di kalangan wartawan ini adalah suara asli Habibie dan
Andi 
Ghalib. Baik frekuensi, amplitudo maupun pergeseran phasanya. 

        Redaksi telah menurunkan berita soal spekulasi konflik elit di balik 
pembocoran  rekaman ini, yang salah satunya menyebabkan Jamintel Syamsu Djalal 
dicopot dari jabatannya.
-----------------------------------------------------------------------------

Transkrip Rekaman Itu…

Suara Habibie (H): Kabarnya baik?
Suara Ghalib (G): Baik, alhamdulillah, Pak.

H: Begini, saya mau tanya mengenai orang-orang itu, seperti  e…. apa 
namanya….. Panigoro dan Jusuf eh apa, Wanandi dan yang saya kasih 
bahan-bahannya itu, gimana?
G: Jalan terus Pak.

H: Jalan ya? Karena orang tanya-tanya itu.
G: Jalan terus, cuma kita kan harus mencari terus, karena kita khawatir 
kalau tindakan kita kontra produktif….

H: Soalnya dia gerak orang itu, dia gerak.
G: Ya, tapi kita pegang terus, ya. Pegang, tapi kita kan mau mengarahkan 
kepada suatu….

H: Coba deh begini, tolong saya diberikan laporannya deh. Bagaimana 
keadaannya, sampai sejauh mana  itu.
G: Ya, dan ini kan kebetulan itu bersamaan dengan kasus penanganan Pak Harto.

H: Ya, ya itu saya mengerti itu, ya. Tidak bisa cepat juga karena ada kasus 
Pak Harto. 
G: Dalam pemeriksaannya…. Udah puluhan (tertawa).

H: Nggak juga, bukan itu aja, orangnya terbatas toh. Tapi itu penting itu, 
orang aja juga tanya.
G: Tete….tetap, Pak tetap Pak. Insya Allah. Insya Allah Pak.

H: Tolong saya diberikan satu nota sedikit. Tapi dengan bapaknya baik ya?
G: Bagus sekali. Beliau, ee… beliau, apa namanya kelihatan ya merasakan ini 
tindakan yang harus memang dilakukan. Sebab kalau tidak, nanti pengadilan 
rakyat.

H: Dia juga udah siap dia itu.
G: Ya. Pengadilan rakyat, jadi itu orang itu udah waduh ndak sabar memang. 
Tapi begitu kita panggil beliau, sekarang kelihatan tensinya sudah menurun 
Pak, reaksi masyarakat malah kembali kasihan kan? Ini kan sudah mulai bagus. 
Jadi, mudah-mudahan ini bisa….

H: Ya, jadi yang akan datang kapan itu?
G: Kita belum anu Pak, kita belum umumkan. Kita cari dulu yang lain, supaya 
ada waktu Pak.

H: Jadi tolong itu yang sekarang diisi dengan tiga orang itu.
G: Ya Pak, ya, Insya Allah, Insya Allah.

H: Ya!?
G: Insya Allah, Pak.

H: Heeh, karena tadi saya dapat  feedback Pak anu, Pak Achmad Tirto.
G: Ya.. ya..

H: Pak Achmad Tirto tadi dia, aaa.. datang sama saya, en baru dari, kan 
ICMI. Ha dia dari ICMI terus baru juga dari Kahmi. En itu mereka udah-udah 
mulai bergerak. Jadi… ditanya kok kenapa nggak,…nggak ada yang Panigoro dan 
Cs itu.
G: Ya, tetap jalan Pak.

H: Padahal itu dia sekarang mulai bergerak dia finance-finance yang lain 
(suara dering telepon…)
G: Ya, Pak. Insya Allah.

H: He eh, Oke yang lain baik-baik ya?
G: Alhamdulillah.

H: Sudah naik bintang lima situ. ha…ha…
G: Aduh Pak, rasanya tidak bisa tidur kita ini, aduh. Itu saya pindahkan 
Pak, kalau nggak pindah, jebol itu seluruh Kebayoran itu.

H: Iya, he eh.
G: Jadi malam itu saya suruh kirim anu. Masalah keamanan saya urus sendiri 
langsung itu Pak. Saya urus helikopter.

H: Tapi kurang ajar yang bocorin itu.
G: Ya.

H: Yang bocorin itu kok pagi-pagi udah diumumkan TVRI lagi.
G: Jadi begini ceritanya, jadi malam itu, kan saya sengaja bikin kamuflase, 
cari anu cari SAR itu helikopter. Saya pasang di atas kan. Jadi sebetulnya 
memang mereka suda tahu di sana. Tapi begini, itu begini juga Pak. Kita juga 
tidak boleh terlalu anu, nanti kalau tidak kita umumkan, salah kita Pak.  
Secara hukum kita seolah-olah menipu. Begitu Pak. Jadi nggak  boleh kita 
diam-diam….

H: Tapi you umumkan…
G: Ndak Pak. Setelah beliau di situ, Pak. Setelah beliau berjalan baru kita 
beri tahu.

H: Oh, begitu.
G: Kalau tidak begitu…..

H: Sudah bilang sama Pangab dong? Sudah bilang?
G: Ya?

H: Sudah bilang sama Pangab?
G: Ya. Beliau begini, khawatir sekali. Saya bilang begini…

H: Sudah dijelaskan?
G:  Begini, beliau sangat khawatir. Saya bilang begini Pak, serahkan sama 
sayalah. Percayalah sajalah. Kayaknya, percaya sama saya, saya kan ini sudah 
dapat tugas dari Bapak. Saya kan juga sudah mengerti  apa tugas saya. Jadi 
anu lah… Jadi nggak usah terlalu worry.

H: He eh.
G: Akhirnya beliau mengerti. Jadi, akhirnya kita dapat mempercepat itu. Jadi 
tidak sampai sore. Kalau yang lain kan tujuh-delapan jam Pak, itu Bob Hasan 
delapan jam, tujuh jam.

H: Kalau Bapaknya berapa jam?
G: Tiga jam lebih.

H: Ya, udah cukup….
G: Iya, tapi kan kalau cuma dua jam juga nanti orang, wah, sandiwara apa 
lagi nih.

H: Nggak….
G: Begitu, Pak.

H: Oke, baik-baik ya.
G: Nggih, Pak.

H: Ya, Terima kasih.
G: Ya Pak, Assalamualaikum.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html