[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: DICARI: HAKIM SKANDAL BB



Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 32/II/12-18 September 99
------------------------------

DICARI: HAKIM SKANDAL BB

(POLITIK): Skandal Bank Bali sudah terbuka. Sejumlah nama yang tersebut
dalam "catatan harian" Rudy Ramli memang benar-benar terlibat. Siapa hakimnya?

Kehadiran Rudy Ramli di DPR ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pasar
bursa. Bahkan disebut-sebut kesaksian Rudy Ramli menjadi faktor positif bagi
perdagangan saham di lantai bursa hari Kamis itu (9/9). Begitu Rudy memasuki
ruangan Komisi VIII DPR tepat ketika transaksi saham sesi kedua akan
dimulai, investor mendapat semangat baru untuk memburu saham. Rupiah pun
kembali menguat setelah terperosok ke Rp9.020 per dolar AS. 

Akibatnya harga-harga saham berebut naik dan indikator kekuatan harga
seluruh saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) terdongkrak 17,394 poin ke posisi
538,051 dan indeks LQ-45 juga menguat 4,554 poin ke level 117,135. Tidak itu
saja. Pengaruh positif pemanggilan mantan Dirut Bank Bali itu telah
meningkatkan minat transaksi dengan volume 584,6 juta saham dengan nilai
Rp913,692 miliar naik tajam dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran
Rp500 miliar. 

Sinyal positif dari ruangan Komisi VIII itu juga sampai ke pasar valuta.
Tekanan negatif dari Timtim mampu dieliminasi oleh dengar pendapat yang
lebih tepat disebut sebagai pengadilan atas Rudy Ramli itu.  Rupiah di pasar
valuta Jakarta Kamis siang itu, ditutup menguat stabil pada posisi Rp8.630
per dolar AS, sehari sebelumnya kurs rupiah pada level Rp8.630 per dolar AS.
Padahal pada perdagangan pagi, rupiah sempat menyentuh Rp9.020 per dolar. 

Menurut para dealer, faktor utama kenaikan rupiah adalah aksi profit taking
yang meluas sejak awal sesi siang didorong oleh pernyataan kesaksian Rudy
Ramli di DPR perihal skandal Bank Bali dan imbas menguat tajamnya yen. Aksi
beli rupiah yang marak setelah pembukaan sesi siang berhasil mematahkan
dominasi beli dolar yang berlangsung sejak awal pekan ini. Pelaku pasar
sedikit bosan karena level Rp9.000 per dolar ternyata sulit ditembus lagi.

Positipnya respon pasar terhadap kesaksian Rudy Ramli memang sudah
sewajarnya terjadi. Sebab peristiwa di komisi VIII DPR itu menjadi pintu
utama memasuki pengusutan lebih lanjut. Pengangkangan data oleh BI tampaknya
akan menjadi lain ceritanya setelah pembeberan fakta oleh Rudy Ramli ini.

Seperti diberitakan media massa sebelumnya, hasil audit Price waterhouse
Coopers (PwC) sangat mengecewakan karena tidak mampu mengendus data BI. PwC
dalam auditnya hanya membuka rekening Pande Lubis saja.  Kekecewaan itu
semakin menjadi setelah diketahui PwC juga ikut bermain dalam penjualan aset
BB. 

Ceritannya, tanggal 16 Juli 1999, auditor asing itu mengirim faksimile pada
manajemen lama BB yang menyebutkan, ada dua investor yang berminat membeli
beberapa aset BB yang macet. Lalu tanggal 20 Juli 1999, diadakan pertemuan
antara BB dengan auditor asing itu membahas penawaran dari dua investor itu.
Dalam pertemuan itu dibahas harga penawaran dari dua investor. BB hanya
dapat mempertimbangkan untuk menjual dua kredit yang macet tetapi dengan
harga yang lebih tinggi dari harga penawaran yang masuk. Outstanding pokok
kedua kredit macet itu sebesar Rp170 milyar atau US$6 juta.

Akan tetapi sampai BB dinyatakan diambil alih pemerintah (bank take
over/BTO), tidak ada transaksi penjualan kredit yang macet. Semula maksud
penjualan aset (kredit macet) BB untuk mengurangi biaya rekapitalisasi
karena upaya sebelumnya untuk menagih piutang BB sebesar Rp1,9 trilyun tidak
berhasil. 

Tertutupnya BI dalam melindungi para pelaku skandal Bank Bali juga
ditunjukkan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Para pemeriksa BPK ini
mengalami hambatan dan mentok oleh  tembok UU No10/1998 tentang Perbankan
dan UU No 23/1999 tentang BI. Tapi dari yang terbatas itu saja, BPK sudah
menemukan sejumlah ketidakwajaran dalam transaksi BB tersebut. Dan itu
membuat kelabakan orang-orang BI. Bahkan saking takutnya, sebelum BPK
menghadap DPR awal bulan ini, sejumlah pimpinan BI tergopoh-gopoh mendatangi
BPK untuk mengklarifikasi data perolehan lembaga pemeriksa keuangan itu.
Gubernur BI Syahril Sabirin yang didampingi sejumlah deputi gubernur BI
seperti Miranda Goeltom dan Aulia Pohan diketahui melakukan pertemuan dengan
Ketua BPK di Kantor BPK.

Dari sisi ekonomi kasus Bank Bali sebenarnya sudah mengindikasikan adanya
ketidakberesan transaksi. Ini merupakan kasus tersendiri. Sedangkan dari
sisi politik, sudah terungkap oleh pengakuan Rudy bahwa ada konspirasi
politik yang ada di belakang skandal ini. Mereka adalah Tim Habibie yang
ingin memperoleh keuntungan ekonomi untuk membiayai penyusksesan Habibie
menjadi presiden.

Kalau sudah jelas begini, masihkah perlu dicari hakim pemutus kasus Bank
Bali? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@hotmail.com


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html