[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: SANDYAWAN DIANCAM DIBUNUH



Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 32/II/12-18 September 99
------------------------------

SANDYAWAN DIANCAM DIBUNUH

(POLITIK): Dengan mengatasnamakan Islam, Faisal Assegaf mengancam akan
menyerang Romo Sandyawan secara fisik. Sebuah prasangka SARA yang tak sembuh.

Selembar fax meluncur ke ruang sekretariat Tim Relawan untuk Kemanusiaan
(6/9). Surat itu menyatakan asalnya dari Front Islam Maluku dengan
mencantumkan nama Arsi,SH sebagai koordinator aksi FIM dan Faisal Assegaf,
Ketua Kesatuan Masyarakat Muslim Maluku se-Jabotabek.

Isinya ada lima poin. Pertama, FIM melihat bahwa kerusuhan di Maluku adalah
satu skenario pembasmian terhadap umat Islam. Kedua, kerusuhan itu kemudian
dijadikan sebagai komoditi politik yang targetnya memojokkan umat Islam di
dunia internasional serta mengadu domba Polri & TNI dengan umat Islam di
Maluku. Ketiga, ada isu Ambon rusuh tanggal 9-9-1999 yang akan didalangi
oleh kaum separatis Kristen dan bila hal itu terjadi maka kerusuhan tersebut
merupakan bagian dari tanggung jawab Romo Sandyawan. Keempat, oleh karenanya
Romo harus memberikan solusi konkret mencegah kerusuhan dengan batas waktu
sebelum tanggal 9-9-1999. Dan terakhir, bila tidak ada solusi dan kerusuhan
meledak, maka FIM akan melakukan serangan fisik ke lokasi-lokasi aktivitas
Romo Sandyawan.

Para aktivis Tim Relawan sempat tercengang membaca fax tersebut, tapi Romo
Sandyawan sendiri tampak tak begitu menggubris ancaman tersebut. "Biarkan
saja," kata Sandyawan. Sedangkan sang pengirim fax Faisal Assegaf
naga-naganya tidak main-main. Mahasiswa Universitas Mercubuana ini bahkan
mengancam, "Kalau perlu kita bisa bunuh. Seperti kami tulis, kami cinta
damai tapi lebih cinta mati syahid". Faisal juga akan mengajak
rekan-rekannya di Front Pembela Islam untuk turut menyerang Romo dan
aktivitasnya.

Tapi tampaknya gayung Faisal ini tak bersambut dengan Front Pembela Islam.
Ketua FPI, Badaruddin yang kebetulan juga berasal dari Ternate Maluku,
menolak cara-cara bunuh seperti yang dilontarkan Faisal. "Ah Faisal itu
darahnya panas, masa akan kita ikuti cara bunuh-bunuh seperti itu. FPI
memang senafas idealismenya dengan FIM, soal Maluku adalah soal yang serius
bagi umat Islam tapi tidak dengan membunuh." ujar Badaruddin yang lebih
memilih aksi massa sebagai bentuk protes.

AM Fatwa dari Partai Amanat Nasional punya pendapat lain. "Saya jadi ingat
cara-cara Opsus (Operasi Khusus) yang dilakukan tentara waktu Soeharto
sedang kuat-kuatnya. Ini nanti selanjutnya yang dihantam adalah orang
Kristen dulu, atau orang Cina, toko-tokonya dibakar, gerejanya diserang.
Lalu tentara menangkapi para aktivis Islam yang radikal-radikal. Ini kan
rumus lama, masa nggak hapal-hapal sih?"

Terlepas benar-tidaknya dugaan AM Fatwa, surat ancaman semacam ini
menunjukkan prasangka antar SARA yang tak sembuh-sembuh. Dan sayangnya,
negara yang direpresentasikan oleh pemerintahan Habibie saat ini tak bisa
menyembuhkan atau paling sedikit menyambung silaturahmi antar SARA tersebut.
Justru kebencian antar SARA dikipas-kipas demi mempertahankan posisinya. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@hotmail.com


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html