[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: KUDETA SETENGAH HATI
Precedence: bulk
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 32/II/12-18 September 99
------------------------------
KUDETA SETENGAH HATI
(POLITIK): Jendral Wiranto berupaya membujuk Habibie meletakkan jabatan.
Upaya TNI mengail di air keruh.
Sejumlah jendral di Markas Besar TNI naik pintam mengetahui jajak pendapat
di Timor Timur, wilayah yang selama 23 tahun ini dikuasai TNI, dimenangkan
warga pro kemerdekaan. Para jendral menyalahkan Habibie yang memungkinkan
diadakannya referendum untuk rakyat Timor Timur. "Habibie harus dikudeta dan
pemerintahan sipil harus diganti dengan junta," demikian niat para jendral
itu yang kemudian disampaikan kepada Wiranto sang Panglima.
Wiranto pun bergerak. Niat menjatuhkan Habibie memang sudah ada sejak dulu,
bahkan gangguan-gangguan untuk Habibie sudah dilancarkan sejak pembocoran
rekaman telepon Ghalib-Habibie., pembocoran rekening Ghali yang kawan dekat
Habibie itu, hingga pembocoran dokumen-dokumen pembobolan Bank Bali oleh
orang-orang dekat Habibie. Belakangan, intel Wiranto yang dijalankan Kepala
BAIS, Letjen Tyasno Sudarto, menemukan bukti bahwa Habibie memiliki
kewarganegaraan ganda, yakni selain warga negara Indonesia juga Jerman.
Bukti itu berupa: rekening dan kwitansi pembayaran pajak sebagai warga
negara Jerman, dan kedua adalah paspor Habibie yang dikeluarkan Pemerintah
Jerman. Bersamaan ditemukannya bukti-bukti itu, para jendral TNI memang
tengah naik pintam karena krisis Timor Timur. "Banyak di antara para jendral
yang marah pada Habibie dengan opsi-opsinya itu," ujar sebuah sumber.
Di tengah keruhnya suasana itu, Wiranto mendekatai Habibie dan menawarkan
tiga skenario. Menurut sumber Xpos yang mengikuti pertemuan
Wiranto-Habibie, Wiranto memberi tiga pilihan pada Habibie. Pertama,
pemerintahan berbentuk triumvirat, yakni alih kekuasaan dipegang Menteri
Pertahanan dan Keamanan (Wiranto), Menteri Dalam Negeri (Letjen Syarwan
Hamid) dan Menteri Luar Negeri (Ali Alatas). Kedua, Pemerintahan Junta
Militer, yang otomatis didominasi Angkatan Darat, untuk menjamin dan
memulihkan "law and order". Ketiga, kekuasaan diberikan ke Kelompok Giganjur
plus Golkar dan TNI. Namun, Habibie dilaporkan menolak ketiga tawaran
Wiranto itu.
Namun, sumber lainnya mengatakan, keinginan Habibie untuk mundur itu, yang
beritanya tersebar pada Rabu (8/9) di kantor-kantor kedutaan asing, karena
ia tak tahan lagi dengan serangan-serangan intelijennya Wiranto. "Wiranto
mengancam akan membeberkan bukti-bukti Habibie punya dokumen sebagai warga
negara Jerman. Itu membuat Habibie surut dan Tim Suksesnya menganjurkan agar
Habibie mundur sebagai politik bumi hangus, karena kalau Habibie mundur
kekuasaan akan jatuh ke tangan Wiranto dan rakyat pasti marah" ujar sumber
Xpos itu.
Akibat upaya kudeta Wiranto dan niat Habibie untuk mundur, lima partai besar
pemenang pemilu yakni: PDI-P, Golkar, PPP, PAN dan PKB bertemu, Rabu (8/09)
pukul 22.00 WIB di Jakarta. Pertemuan membicarakan langkah pembentukan
koalisi pemerintahan sipil, jika sewaktu-waktu Habibie mundur dan Wiranto
mengancam akan membentuk junta militer.
Panglima TNI, Jendral TNI Wiranto, gagal mengkudeta kekuasaan Presiden
Habibie yang memang sudah rapuh itu. Wiranto pertama kali mengkudeta Habibie
ketika mengumumkan keadaan darurat militer di Timor Timur. Sebelumnya,
Habibie tak setuju keadaan darurat militer diberlakukan di Timor Timur,
begitupun DPR-RI. Namun, TNI tiba-tiba mengumumkan keadaan darurat itu yang
mau tak mau harus diterima Habibie. (*)
---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html