[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: "KALIAN MEMBUNUH, BUKAN BERPOLITIK"
Precedence: bulk
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 32/II/12-18 September 99
------------------------------
Xanana Gusmao, Presiden CNRT:
"KALIAN MEMBUNUH, BUKAN BERPOLITIK"
(DIALOG): Lantaran ulah TNI dengan dwifungsinya, kebanyakan anak-anak muda
Indonesia menyimpan kesan buruk terhadap militer. Namun, dua panglima besar
dunia ternyata menjadi catatan tersendiri. Panglima pertama merupakan
sahabat Fidel Castro dari Cuba yang tewas dalam peperangan di Bolivia. Dr
Ernesto "Che" Guevara. Seorang panglima lainnya adalah tokoh kemerdekaan
Lorosae yang gemar bermain sepakbola. Alexandro Xanana Gusmao. Para wartawan
asing kerap memanggilnya dengan Commander Xanana. Berikut percakapan Kay
Rala Xanana dengan Xpos pada dua kesempatan di rumah tahanan khusus Salemba
dan Kedutaan Besar Inggris, sebelum dan setelah pembebasannya:
T: Selamat atas kemenangan pro-kemerdekaan dan pembebasan Anda, Panglima.
J: Terima kasih. Ini hari pertama kebebasan saya, dan saya betul-betul
merasa bebas. Tetapi sejujurnya saya lebih suka berada di tengah-tengah
rakyat Timor Leste. Merasakan kedamaian yang selama ini tergolong asing
untuk mereka. Apalagi sekarang rakyat Timor sedang mengalami kesengsaraan
luar biasa. Lebih dari kesengsaraan 24 tahun terakhir.
T: Tapi kenapa Panglima lebih memilih berada di sini?
J: Tempat ini pilihan saya sendiri. Beberapa pihak, termasuk pengacara saya
menyarankan untuk tidak pulang dulu ke Dili sebelum situasinya memungkinkan.
Mereka menawarkan beberapa kemungkinan, tetapi saya putuskan kedutaan besar
Inggris.
T: Seandainya Panglima langsung ke Dili, apa yang akan langsung dilakukan?
J: Pertama-tama saya akan mencium tanah air saya. Selama bertahun-tahun di
penjara saya telah menyimpan aroma tanah Lorosae itu dalam-dalam.
T: Di awal Panglima mengatakan kesengsaraan rakyat Timor Leste saat ini
lebih dari 24 tahun terakhir, maksudnya?
J: Perjuangan panjang telah kami menangkan. Tetapi TNI, pemerintah Indonesia
sama sekali tidak menganggap hal itu. Sikap tersebut membangkitkan marah
rakyat. Marah saya. Bayangkan. Hanya dalam beberapa hari setelah jajak
pendapat, begitu banyak orang Timor Leste terbunuh. Banyak anak-anak
direnggut dari pelukan ibu-ibu mereka. Saya memang tidak memiliki hitungan
pasti, tidak memiliki angka-angkanya, tidak mengetahui jelas dengan apa
mereka terbunuh. Tetapi satu hal yang jelas, situasi itu menakutkan bagi
manusia manapun. Nyata sekali bahwa TNI tidak dapat mengendalikan situasi di
sana.
T: Atau memang tidak mau mengendalikan situasi?
J: Setuju. TNI memang tidak menginginkan rakyat kami menikmati kedamaian.
Tadi malam (pukul 00.00 tanggal 7/9-red) martial law telah ditetapkan
pemerintah Indonesia. Untuk apa? Bukankah TNI telah membunuh para penduduk,
menghancurkan tempat-tempat mereka? Untuk siapa hukum darurat perang itu?
Sama sekali tidak bisa dimengerti.
T: Panglima telah menentukan langkah-langkah apa yang akan dilakukan oleh
para pejuang kemerdekaan selanjutnya?
J: Pagi ini (7/9) saya sudah bicara dengan komandan Falintil. Kesimpulannya,
Falintil tetap akan meneruskan taktik gerilya. Menjelang dan setelah jajak
pendapat, mereka telah mendapati pembersihan penduduk terbesar oleh TNI.
Mereka menyaksikan itu, dan tentu tidak kuasa menanggung luka dan airmata
terus menerus.
T: Apa dengan demikian Panglima akan meninggalkan jalan perundingan?
J: Tidak. Tidak. Selama ini saya percaya konsekuensi dari
perundingan-perundingan bukan penghancuran. Meski TNI telah berbuat
demikian, saya tetap mempercayai dan menghormati perundingan. CNRT telah
membuktikan itu. Opsi 27 Januari adalah kesuksesan kami. Suatu kemenangan
rakyat Timor Leste. Menurut saya ini masa kritis bagi rakyat Timor Leste.
Saya kira juga kritis untuk Indonesia. Sesungguhnya saya siap bekerja sama
dengan pemerintah Indonesia. Saya siap bekerja sama dengan para politisi,
dengan anggota-anggota kabinet, dengan intelektual dan dengan anda semua di
sini untuk mengakhiri kesengsaraan yang menimpa rakyat kecil. Rakyat kecil
yang sebenarnya juga memiliki hak sama. Hak untuk menentukan nasib mereka
sendiri secara bebas.
T: Panglima mengisyaratkan penggunaan kekuatan dan kekerasan?
J: Anda harus percaya, tidak ada kekerasan yang dapat bekerja dengan sangat
baik, tidak ada aksi-aksi teror yang ampuh jika berhadapan dengan cita-cita
rakyat untuk mencapai kemenangan secara demokratis. Rakyat kami memiliki
yang terakhir ini. Cita-cita.
Maka, saya serukan kepada para politisi Indonesia. Berpikirlah realistis.
Cukupkan pembunuhan-pembunuhan itu. Juga kepada saudara-saudara saya
pro-otonomi saya katakan, kalian bukan berpolitik tetapi melakukan
pembunuhan-pembunuhan rakyat sipil. Itu genocide.
T: Apa harapan-harapan Panglima terhadap masyarakat internasional?
J: Saya kira masyarakat internasional telah mengetahui peristiwa drastis
yang terjadi di Timor Leste. Rakyat di seluruh dunia, pemerintah di seluruh
dunia telah melihat gambaran-gambaran menyedihkan. Lewat pembantaian Santa
Cruz dunia terbuka lebar menatap Timor Leste. Meski tragedi itu hanya
sebagian genocide yang dilakukan TNI.
Kini rakyat Maubere telah memilih apa yang mereka tuju. Hasil perjuangan
selama 24 tahun melawan pendudukan militer Indonesia. Tetapi mereka masih
tetap menderita. Mereka masih tetap mati. Karenanya saya menyerukan kepada
masyarakat internasional, kepada pemerintah-pemerintah yang perduli terhadap
kesengsaraan rakyat Timor Leste untuk membantu heroisme dan keberanian
rakyat. Stop pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dan menyelematkan kehidupan.
Rakyat Timor Leste menginginkan perdamaian. Dari sana kami akan menata
kesejahteraan. (*)
---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@hotmail.com
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html