[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR---SUTIYOSO DITUDING MENYUAP DPRD JAKARTA
SUTIYOSO DITUDING MENYUAP DPRD JAKARTA
JAKARTA, (SiaR, 6/6/2000). Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dituding
melakukan praktik money politics dengan cara menyuap sejumlah anggota
DPRD DKI agar menerima pidato pertanggungjawaban yang telah
dibacakannya pada Senin lalu (5/6) di Gedung DPRD DKI.
Hal ini dinyatakan Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP)
Santayana Kiemas seusai mendengar pidato pertanggungjawaban Sutiyoso.
Meskipun tidak menunjuk orangnya, tapi Santayana berkeyakinan beberapa
anggota fraksinya telah menerima suap dari Sutiyoso.
Menurut Santayana, hal ini juga tidak menutup kemungkinan dialami
anggota dewan dari fraksi lainnya. Salah satu nama yang menurut
Santayana disebut-sebut di kalangan anggota dewan lain adalah Tajus
Sobirin, Ketua Fraksi Partai Golkar.
Mengutip kalangan DPRD dan kantor gubernuran, maka beberapa waktu
menjelang Rapat Paripurna DPRD yang antara lain menyangkut pembacaan
pertanggungjawabannya, Sutiyoso ditengarai berperan besar dalam
mengucurkan sejumlah dana dari koceknya untuk membiayai rapat-rapat
kerja komisi-komisi DPRD di kawasan Puncak, Jawa Barat. Dalam
rapat-rapat komisi itu, setiap anggota dewan memperoleh uang Rp 15
juta per orang tiap kali rapat komisi.
Selain itu, meskipun dianggap waktunya tak tepat, Sutiyoso juga
dianggap "memanjakan" anggota DPRD dengan mengucurkan dana untuk
mendukung --apa yang disebut anggota DPRD sebagai-- studi banding
komisi-komisi DPRD ke luar negeri. Yang menghebohkan adalah saat para
anggota Komisi C DPRD DKI melakukan studi banding ke Eropa dan Israel
selama dua minggu yang ditengarai menghabiskan dana sekitar Rp 2
miliar. Studi banding ini sendiri sempat menimbulkan polemik di
media-massa, karena dinilai tak tepat pada saat negeri ini sedang
dilanda krisis ekonomi, sejumlah anggota DPRD malah
"menghambur-hamburkan uang".
Heboh soal rencana pemberian mobil Opel Blazer bagi Ketua dan Wakil
Ketua DPRD juga dikait-kaitkan dengan upaya Sutiyoso untuk
mempengaruhi penilaian anggota dewan terhadap pidato
pertanggung-jawabannya. Pemberian fasilitas Opel Blazer ini
berdasarkan SK Gubernur No 1700/1997 tanggal 2 Oktober 1999 yang
mengatur fasilitas pemberian kendaraan dinas untuk ketua dan para
wakil ketua dewan.
Edy Waluyo, Ketua DPRD DKI saat terpilih menjadi ketua tak lepas dari
peranan Sutiyoso. Saat itu, Sutiyoso memberi bantuan finansial untuk
menyuap anggota dewan --terutama dari fraksi terbesar F-PDIP-- agar
memberikan suaranya bagi Edy. Edy berasal dari Fraksi TNI/Polri, dan
merupakan orang dekatnya Sutiyoso.
Pidato pertanggungjawaban Sutiyoso sendiri diramaikan dengan
demonstrasi ribuan orang yang berasal dari tukang becak, mahasiswa,
perdagang kaki lima, Serikat Buruh Jakarta (SBJ), Kesatuan Masyarakat
Pinggir Jalan Indonesia (Kempijai), Urban Poor Consortium (UPC), Dewan
Penyelamat Revolusi (DPR) Jakarta, Komite Kedaulatan Rakyat (KKR), FKK
124 (korban Peristiwa 27 Juli 1996), Tim Relawan Kemanusiaan, dan
Gerakan Muda Nasionalis Indonesia (GMNI).
Dosa-dosa Sutiyoso yang dituding para demonstran antara lain indikasi
keterlibatannya pada Peristiwa 27 Juli 1996, kerusuhan Mei 1998,
pemberantasan judi dan Narkoba, hingga pemberantasan KKN di Pemda DKI.
Terhadap berbagai aksi demo penolakan tersebut, Sutiyoso kepada para
wartawan menyatakan, bahwa aksi itu dilakukan hanya dilakukan oleh
sedikit orang. "Lebih banyak warga DKI yang nggak ikut berdemo,"
ucapnya. ***
- ----------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org