[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: PERANG BINTANG KASUS BULOG




Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@excite.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 19/III/5-11 Juni 2000
================================================

PERANG BINTANG KASUS BULOG

(PERISTIWA): Gunakan isu Bulog, pendukung dan penentang Gus Dur saling
serang. Apa peran "IPB connection"?

Perang sudah dimulai. Kendati terhitung "kecil" dibandingkan kasus
Bank Bali atau berbagai kasus penyalahgunaan dana BLBI, kasus Bulog
sanggup memicu perang besar di kalangan elit. Kasus ini, memang,
mendapatkan momentum yang pas ketika pertentangan antara kelompok yang
ingin menjatuhkan dengan yang ingin mempertahankan Gus Dur terus
melebar. Sehingga, banyak pihak kemudian menganggap, penyelesaian
kasus ini akan berdampak terhadap keberlangsungan pemerintahan Gus Dur
pasca sidang tahunan MPR, Agustus mendatang.

Korban-korban sudah berjatuhan --meskipun Soewondo si pelaku utama
masih belum terjerat. Korban terbesar adalah Bondan Gunawan, pejabat
sementara Sekretaris Negara yang mundur Senin malam (29/5) lalu.
Kemunduran Bondan yang diberitakan "kebagian" Rp5 milyar dana Bulog
itu, tak pelak lagi, menjadi pukulan telak bagi kelompok yang ingin
mempertahankan Gus Dur. Sumber Xpos menyebutkan, Gus Dur sendiri yang
menyarankan Bondan mundur. "Cara (pengunduran diri) itu akan lebih
baik, ketimbang di-non-aktifkan seperti Wiranto," ujar sumber tadi.

Meski mundur, Bondan masih sempat saja melempar peluru pada kelompok
lawannya. "Saya mundur karena karena saya yakin, saya hanyalah sasaran
'antara', sebelum Gus Dur," ujar Bondan. Jelas, Bondan ingin agar
masyarakat awam melihat adanya "perang" di balik kasus ini, sambil
mengopinikan bahwa ia berada di pihak yang "benar".

Korban sebelumnya adalah Sapuan, mantan Wakabulog yang menandatangani
pencairan dana Rp35 milyar itu. Bukan cuma terlempar dari Bulog,
Sapuan kini jadi tersangka utama kasus ini. Sapuan pun tak mau begitu
saja jadi korban tanpa menyerang sama sekali. Justru dari Sapuan-lah,
diperoleh informasi tentang keterlibatan nama-nama orang dekat Gus
Dur, seperti Bondan Gunawan serta Alwi Shihab. Malah, dari Sapuan pula
nama Gus Dur dibawa-bawa --karena pernah menanyakan dana Bulog untuk
penyelesaian masalah Aceh. Menurut sebuah sumber, Sapuan pertama kali
menceritakan panjang lebar hal itu pada kawan-kawan dekatnya yang
kebanyakan alumnus IPB, Bogor (itu sebabnya, sempat muncul istilah
"IPB connection" yang diduga menjadi bagian kelompok anti-Gus Dur).

Cerita Sapuan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para lawan politik
Gus Dur. Mengatasnamakan Gowa (Government Watch), Farid R. Faqih,
mantan Ketua Dewan Mahasiswa IPB tahun 1978, menggelar konferensi pers
dan mengumumkan "temuannya" tentang "keterlibatan istana" dalam kasus
Bulog. Untuk menciptakan efek dramatis, kasus ini pun disebut-sebut
sebagai "Bulogate" --terutama oleh Harian Republika yang gencar
mencecar Gus Dur ("Bulogate" sendiri diilhami dari "Watergate", sebuah
kasus penyadapan yang membuat Presiden AS, Richard Nixon terlempar
dari kursinya di awal tahun 70-an).

Dihantam bertubi-bertubi, Gus Dur dan kelompoknya gerah juga. Kepada
harian Kompas, Gus Dur langsung "mengunci" kemungkinan keterlibatan
dirinya di kasus ini. Ia mengakui pernah menanyakan kemungkinan
menggunakan dana Bulog untuk penyelesaian masalah Aceh. Tapi, tak jadi
karena harus lewat prosedur anggaran belanja dan parlemen yang
bertele-tele. Untuk masalah Aceh, akhirnya, "Saya dapat bantuan dari
Sultan Hassanal Bolkiah sebesar 2 juta dolar AS."

Sambil mengklarifikasi, Gus Dur melempar serangan ke lawan-lawannya.
Kasus Bank Bali yang hingga kini masih belum tuntas, kembali diangkat.
Seperti diketahui, kasus ini melibatkan nama Gubernur BI Syahril
Sabirin yang belum lama dikritik pedas pengamat pasar uang Theo F
Toemion karena dinilai lebih banyak memberikan komentar politik
ketimbang menyelamatkan rupiah yang terpuruk. Bukan itu saja, kepada
seorang sumber, Gus Dur menyatakan niatnya untuk menyeret Syahril ke
pengadilan dalam waktu dekat.

Terbongkarnya kasus mafia pemalsu uang yang melibatkan orang dekat
Wiranto, kabarnya juga jadi bagian dari strategi menutup rapat
sumber-sumber dana, lawan-lawan politik Gus Dur. Kendati hal itu belum
sepenuhnya bisa dilakukan --ledakan bom di Medan dan Surabaya serta
kerusuhan di Poso yang kembali memanas, menunjukkan hal itu.

Soal siapa "salah", siapa "benar" dalam perang ini, jadi tidak jelas.
Bondan bisa jadi telah menerima dana dari Bulog, meskipun ia mengaku
tak tahu menahu. Gus Dur mungkin saja tahu seluruh skenario dari awal,
kendati ia telah mengklarifikasi di depan pers. Namun, lawan-lawan
politik yang sekarang menyerang Gus Dur pun ternyata tak ada yang
moralnya lebih baik. Farid R. Faqih, misalnya, pernah dipecat secara
tak hormat oleh Sekjen KIPP Mulyana W. Kusumah, pada tahun 1997,
karena membuat raib dana sebesar 80.000 dolar AS ketika menjabat
sebagai direktur eksekutif LSM pemantau pemilu itu. Demikian pula
dengan para elit lainnya, yang sedang sibuk menggalang kekuatan
menjelang Agustus nanti.

Lantas, siapa yang posisinya lebih menguntungkan saat ini, juga belum
jelas. Pengamat politik Maswadi Rauf menilai, dengan mundurnya Bondan
dari kabinet, posisi Gus Dur justru melemah. Alasannya, kalau kabinet
terus dibongkar-pasang, itu berarti Gus Dur belum mampu me-manage para
pembantunya. Sebaliknya, menurut Sekjen Barisan Nasional Rachmat
Witoelar, posisi Gus Dur justru kokoh. Sebab, menurutnya, performa
buruk pemerintah Gus Dur selama ini bersumber dari para menteri yang
bermasalah. Bila masalah itu diangkat, Gus Dur akan diuntungkan.

Entah mana yang benar. Yang jelas, perang bintang masih berlanjut.
Kasak-kusuk dan lobi sana-sini sedang berlangsung panas. Seorang
sumber menyebutkan, "Sudah ada deal antara Eggy Sudjana (Partai Bulan
Bintang) dan Taufik Kiemas (PDI-P) untuk menyatukan kekuatan." Ia pun
membuka kemungkinan koalisi antara Gus Dur dengan para mantan
pendukung Habibie yang masih dendam pada Akbar Tanjung. Benarkah?
Lihat saja. (*)


=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@excite.com

- --------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org