[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: TUKANG PALAK BERKARTU JURNALIS




Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@excite.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 19/III/5-11 Juni 2000
================================================

TUKANG PALAK BERKARTU JURNALIS

(POLITIK): Wartawan 'Bodrex' berulah di pertemuan Bupati se-Indonesia.
Bukannya cari berita malah memungut duit. 

Angpau-nya mana?" Seorang berpenampilan fotografer menjawil pinggang
seorang wartawan tulis. Suaranya yang tidak berbisik mengesankan bunyi
pertanyaan masuk kategori biasa-biasa saja. Padahal pertanyaan itu
berlangsung di tengah kerumunan orang. Yang dijawil sontak
tersinggung. "Angpau apaan? Memangnya ini hajatan," balas si wartawan
tulis. Tanpa menunggu semprotan lanjut, si penanya melengos pergi
sambil senyum-senyum. "Teman-teman"-nya yang menyambut ikutan
tersenyum. Oh, tidak sendirian toh.

Peristiwa di atas terjadi seusai berlangsung pertemuan Bupati
se-Indonesia, 30 Mei lalu di Hotel Indonesia, Jakarta. (Pertemuan mana
bertarget pembentukan Asosiasi Pemerintahan Kabupaten setelah
sebelumnya di Hotel Kartika Candra terbentuk Asosiasi Pemerintahan
Kota, 25/5). Nah, cerita berawal ketika Menteri Negara Urusan Otonomi
Daerah Ryaas Rasyid kelar menutup acara. Selayak kelaziman, para
wartawan sibuk mengejar narasumber masing-masing. Si wartawan tulis
yang berasal dari sebuah tabloid mengenai bisnis dan otonomi daerah
menghampiri salah seorang peserta. Wawancara kemudian berlangsung
sambil berjalan hingga muka pintu kamar inap sang bupati.

Selang beberapa menit, sang fotografer tadi nimbrung berbareng seorang
wartawan lain. Dari pengenalnya diketahui mereka bekerja untuk Tabloid
Ambisi. Tanpa basa-basi ia mengambil gambar bupati dari sisi kanan
beberapa jepretan. Sementara teman yang datang bersamanya membuat
coretan-coretan di buku saku. Merasa sudah cukup beroleh informasi,
wartawan pertama menyudahi wawancara. "Beres?" tanya fotografer
Ambisi. Yang ditanya mengangguk sambil berujar, "Siip". Lalu melangkah
pergi. Tapi "siip" wartawan pertama berbeda pengertian dengan "siip"
si fotografer. Bersama rekannya, ia mengejar wartawan pertama. Adegan
di muka lift seperti ditulis di atas pun berlangsung.

Bukan sekali itu saja sebetulnya perkara 'angpau' terjadi. Maria,
mantan reporter Harian Nusa Tenggara biro Jakarta mengaku pernah
kesulitan tatkala ditugasi mangkal di beberapa departemen urusan
ekonomi. Pasalnya, waktu itu sebagai "anak baru", Maria harus
beradaptasi dengan sesama wartawan lain. Tapi rupanya di lingkungan
wartawan departemen telah terbentuk semacam geng atau klub jurnalis.
Sialnya, mereka yang tidak masuk dalam geng dianggap "bukan orang
kita". Sampai-sampai lantaran predikat bukan orang kita itu, akses
data juga sulit diperolehnya. Sementara Maria tentu saja keberatan
jika harus melakukan adaptasi ala para anggota geng. Beruntung, tak
semua wartawan departemen berperilaku sama. Maria jadinya tak merasa
sendirian.

"Perilaku wartawan bodrex memang tidak fair. Mereka tega menutup
informasi, bukan saja bagi wartawan lain, bahkan kepada redaksinya.
Sampai humas departemen mempersilahkannya untuk diungkap," papar
Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Didik Supriyanto. Dihubungi
per telepon, Didik mengaku tidak terperanjat kalau wartawan semacam
hingga kini masih dijumpai. "Sebetulnya itu khan persekutuan lama yang
terbentuk jaman Orde Baru antara humas departemen (bersangkutan)
dengan wartawan amplopan," terang Didik.

Kenapa belum hapus? "Salah satunya karena pergeseran di departemen
hanya terjadi di tingkat eselon I dan eselon II," lanjutnya. Sedang
bagian kehumasan tetap dipegang oleh orang lama. Di kalangan peliput
Istana, kebiasaan 'bodrex' bisa hilang setelah terjadi pergantian
besar-besaran di bagian media relation-nya.

Menilik pola mainnya, terang yang diincar adalah ketebalan amplop.
Sedikit yang beralasan "sekedar di-entertaint humas". Lebih sering
malah dua-duanya. Jumlah nominal amplop sebetulnya boleh dibilang
"tidak seberapa". Paling minim Rp100 ribu per wartawan tiap kali
tandang alias setor muka. Biasanya sebulan satu kali kegiatan setor
muka dilakukan. Tapi jumlah itu di luar event-event yang
diselenggarakan departemen. Berapa? Nilai nominal bervariasi dan
pengaturan pembagian dilakukan oleh koordinator gang.

Koordinator? Lha iya. Di lingkungan Kementerian Penanaman
Modal/Pemberdayaan BUMN, Kantor BKPM dan Kadin, misalnya. Terdapat
Forum Wartawan Investasi (Forwin). Forum ini dikoordinir oleh seorang
wartawan Harian Waspada biro Jakarta berinisial Ag. Beberapa kali Ag
kedapatan menemui humas BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal),
Syaiful. Baik di lantai 4 BKPM (ruang kerjanya) atau di tempat
'rileks', seberang kantor BKPM. "Bukan dalam rangka wawancara lho,"
tutur seorang jurnalis media dot.com investigatif yang lama mengenal
siapa Ag.

Meski mengiyakan belum meratanya etika jurnalis, Didik Supriyanto
yakin perilaku amplopan bakal hilang. Gaya menutup akses informasi
hanya untuk 'kalangan sendiri' pun dipastikan tidak bertahan lama.
Penyebabnya tak lain karena tuntutan profesionalitas dan kompetisi di
antara media massa sendiri. AJI sejauh ini belum mengeluarkan
pernyataan resmi. Kecuali melakukan rangkaian kampanye anti amplop.
"Kami belum menerima laporan atau komplain langsung dari lapangan,"
ujar Didik.

Untuk urusan kompetisi, barangkali Didik lupa. Para 'anggota' geng
bodrex telah lama punya cara sendiri. Bukannya ketat dengan informasi
yang mereka peroleh, alih-alih terjadi koordinasi mengenai laporan apa
yang bakal mereka berikan ke redaksi. Bukan hal aneh kalau mendapati
ada reporter 'menitip' pertanyaan kepada reporter media lain.
Alasannya yang bersangkutan kepepet waktu. (*)


=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@excite.com

- --------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org