[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

TNI Watch!---SOEHARTO PUN SEGAN PADA KOLONEL KAWILARANG




SOEHARTO PUN SEGAN PADA KOLONEL KAWILARANG
 
	JAKARTA, (TNI Watch! 9/6/2000). Ada dua perwira senior Angkatan Darat
yang selama ini paling dihormati, yaitu Jenderal Besar Abdul Haris
Nasution dan Kolonel Alexander Evert Kawilarang. Dengan wafatnya Kol
Kawilarang, Selasa malam lalu (6/6), kini tinggal AH Nasution saja,
sebagai sesepuh TNI yang paling dihormati. Pertimbangan dihormati
tidaknya itulah, yang menjadi alasan mengapa ketika Jenderal Maraden
Pangabean wafat tempo hari, kami tidak menurunkan tulisan "In
Memoriam" bagi beliau.

	Meski dari segi kepangkatan hanya sampai kolonel, namun Kol
Kawilarang lebih dihormati, ketimbang mereka yang berpangkat jenderal.
Kalau tangan jenderal tersebut berdarah, dan terlalu kasar dalam
bermain politik, apa yang bisa dihormati dari jenderal semacam itu.

	Pangkat Kawilarang memang hanya sampai kolonel, karena pada saat itu
(tahun 1950-an), ada kebijakan bahwa pangkat tertinggi dalam Angkatan
Darat adalah kolonel. Bahkan AH Nasution selaku KASAD, juga berpangkat
kolonel. Kalau dilihat dari posisi yang pernah diisi Kawilarang,
dengan memakai ukuran sekarang, tentu Kawilarang sudah setara
jenderal. Selama karir militernya, Kawilarang pernah tiga kali menjadi
Panglima Tentara dan Teritorium (TT), sebuah komando yang kini dikenal
sebagai Kodam, masing-masing sebagai Panglima TT I/Bukit Barisan,
Panglima TT II/Wirabuana, dan Panglima TT III/Siliwangi. Kawilarang
cukup lama memimpin TT III/Siliwangi (1951-1956).

	Karir militer Kawilarang terpaksa terhenti, karena ia dianggap
terlibat dalam gerakan separatis PRRI/Permesta. Pada tahun 1958, ia
meningalkan begitu saja tugasnya sebagai Atase Militer di Washington
DC, dan bergabung dengan Permesta di Sulawesi Utara, Ia harus mundur
dari dunia militer yang sangat dicintainya, dalam usia yang relatif
muda (40 tahun). Seusai pemberontakan ia meringkuk cukup lama di
penjara, ketika Bung Karno masih berkuasa. Hidup manusia memang
tragedi, Kawilarang adalah salah satu perwira kesayangan Bung Karno,
namun ia dipenjara oleh rezim Sukarno.

	Karir militer Kawilarang memang cemerlang. Kawilarang sempat menjadi
kadet pada Akademi Militer Kerajaan Belanda (KMA), yang membuka cabang
di Bandung. Beberapa kadet yang menjadi teman seangkatan Kawilarang,
antara lain adalah AH Nasution, TB Simatupang, R Kartakusumah, dan
Askari. Kawilarang tidak sempat menyelesaikan pendidikannya, karena
keburu bala tentara Jepang masuk (Maret 1942), yang membuat kegiatan
pendidikan KMA Bandung terhenti.

	Karena sejak kadet, kemudian selama perang kemerdekaan, Kawilarang
banyak bergerilya di daerah Jawa Barat, itu yang membuatnya ia
memiliki ikatan batin yang kuat dengan Bumi Priangan. Itu sebabnya
pula, ia minta dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. Kawilarang telah
identik dengan Divisi Siliwangi.

	Saat menjadi Panglima Divisi Siliwangi itu pula, ia melahirkan
gagasan cemerlang, yaitu membentuk pasukan berkualifikasi "Komando".
Embrio pasukan yang resmi berdiri tanggal 16 April 1952, kini telah
berkembang sebagai kesatuan Kopassus. Tanggal tersebut sampai kini
diperingati sebagai hari jadi Korps Baret Merah.

	Sebagai pendiri Korps Baret Merah, sesuatu yang ironis kembali
terjadi pada dirinya. Mungkin karena keterlibatannya dengan gerakan
Permesta di masa lalu, peran Kawilarang seperti dikecilkan. Bayangkan,
ia baru diakui sebagai warga kehormatan Korps Baret Merah tahun
kemarin, tepatnya saat peringatan Hari Jadi Kopassus ke-47. Untung
saja Danjen Kopassus Mayjen TNI Sjahrir tanggap atas masalah tersebut.
Seandainya Pak Alex Kawilarang tidak sempat dianugerahi sebagai warga
kehormatan Korps Baret Merah, hingga akhir hayatnya, bukankah hal itu
adalah "penyesalan" yang akan ditanggung Kopassus untuk
selama-lamanya.

	Secara genetis Kawilarang juga seorang militer. Ayahnya adalah
anggota KNIL, yang tinggal di Jatinegara (Jakarta Timur). Jatinegara
(Meester Cornelis) memang dikenal sebagai basis KNIL. Di Jatinegara
itu pula, ia dilahirkan pada 20 Februari 1920.

	Integritas pribadinya yang lurus itulah, yang membuat sosok Pak Alex
disegani oleh siapa pun, termasuk oleh mantan Presiden Soeharto. Saat
masih berpangkat Letkol, Soeharto pernah menjadi bawahan Pak Alex.
Ketika pecah pemberontakan Andi Aziz, Pak Alex selaku Panglima TT
VII/Wirabuana, memimpin langsung operasi penumpasan. Salah satu
pasukan yang membantu Pak Alex, adalah kesatuan yang dipimpin
Soeharto. Bila kini salah seorang putera Pak Alex, yaitu Edwin
Kawilarang, menjadi orang kepercayaan di perusahaan milik anak
Soeharto, yaitu Bambang Tri (PT Bimantara). Bisa jadi itu sebagai
cerminan rasa "hormat" Soeharto terhadap Pak Alex. ***

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku
TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia
yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya.
Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi
bersama-sama.

- ------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org