[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: UGM SEWA PREMAN GUSUR PETANI




Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@excite.com
Homepage: http: under construction
Xpos, No 25/III/20-26 Agustus 2000
================================================

UGM SEWA PREMAN GUSUR PETANI

(POLITIK): Kampus perjuangan rakyat ternyata menindas rakyat. Yayasan
Pembinaan Faperta UGM bekerjasama dengan polisi dan preman mengusir
petani dari tanahnya, hanya untuk mendapatkan kurang dari 5 hektar
lahan perkebunan.

Ketika masa perjuangan menghentikan pemerintahan otoriter Soeharto
beberapa waktu lalu, Universitas Gajah Mada dikenal sebagai kampus
yang sangat memberi peluang bagi mahasiswanya untuk ikut
berdemonstrasi. Karenanya, waktu itu banyak orang sering mengatakan
bahwa UGM merupakan salah satu kampus yang "tiada hari tanpa
demonstrasi". Dan setelah Soeharto tumbang, sejumlah pengajar UGM itu
dapat tempat di Jakarta. Termasuk Amien Rais jadi Ketua MPR dan
Bambang Sudibyo jadi Menkeu.

Namun ternyata selain melahirkan sejumlah demokrat dan tokoh
reformasi, UGM ternyata melahirkan sebuah lembaga yang anti demokrasi
dan anti rakyat. Lihat saja, di sebuah pelosok Kab. Batang, PT
Pagilaran (perusahaan teh milik Yayasan Pembinaan Fakultas Pertanian
UGM) bekerja sama dengan aparat kepolisian setempat serta birokrat dan
para premannya, menangkapi masyarakat yang sedang mengusahakan
tanahnya di lahan onderneming bekas milik Belanda di dusun Pagilaran.
Selain menangkapi, mereka juga menyiksa dan memblokir jalan
satu-satunya untuk mengakses pemukiman penduduk.

Penangkapan sekitar 21 orang petani ini berlangsung tanggal 11 Juli
yang lalu. Layaknya akan disengaja untuk terjadinya chaos, rombongan
itu pun membawa satu unit mobil ambulance beserta para medisnya. Dan
benar saja, para anggota kelompok Tani (Paguyuban Petani Korban PT
Pagilaran Batang/KP2KPP) yang sedang menyiangi tanamannya itu
ditangkap secara paksa bahkan dianiaya sebelum akhirnya dibawa ke
kantor polisi Batang. Bahkan tidak hanya itu, aparat juga melakukan
pengusiran masyarakat yang bermukim di wilayah sekitar lokasi.
Ibu-ibu, anak-anak dan orang renta saat ini mengungsi di Dusun Cepoko
yang jaraknya puluhan kilometer dari Pagilaran. Mereka tinggal di
sejumlah tenda darurat sambil menunggu bapak atau suaminya pulang dari
tahanan polisi.

Konflik rebutan lahan bekas perkebunan Belanda antara ratusan petani
dengan PT Pagilaran ini berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.
Namun kasus ini mulai menghangat beberapa bulan terakhir karena para
petani gerah dengan sikap PT Pagilaran yang tidak mau kompromi dengan
masyarakat. Karena itulah para petani akhirnya dengan terpaksa
melakukan reclaiming lahan seluas tiga hektar yang diaku dimiliki oleh
PT Pagilaran tersebut. Lahan tiga hektar itu sebenarnya bukan
apa-apanya bila dibandingkan HGU milik PT Pagilaran yang lebih dari
1.100 ha. Tanah tiga hektar hasil reclaiming itu oleh para petani
dijadikan lahan tanaman untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Namun usaha para petani itu membuat panas perusahaan. Dengan
menggunakan aparat keamanan, PT Pagilaran berusaha mendapat kembali
tanah yang di-reclaim para petani. 

Menurut beberapa sumber sejarah, tanah perkebunan teh Pagilaran
merupakan bekas lahan perkebunan milik Belanda. Ketika Belanda
hengkang dari Indonesia dan terjadi nasionalisasi semua perusahaan
asing, maka perkebunan tersebut menjadi milik negara. Waktu digarap
Londo itu, ada ratusan hektar lahan yang bukan milik perkebunan
dijadikan lahan pertanian oleh para buruh perkebunan. Bahkan sebagian
lain untuk bangunan bedeng-bedeng pemukiman para buruh. Karena itu,
sampai saat ini mereka merasa punya hak turun temurun untuk tinggal
dan menggarap di lahan tersebut. Anehnya, sejak nasionalisasi ke
penguasa pribumi, Londo Ireng itu justru mengklaim lahan pemukiman
para buruh dan petani itu sebagai lahan milik perkebunan. Sejak 1967
usaha pengusiran terus dilakukan oleh aparat pemerintah. Lebih-lebih
tahun 1983, saat lahan seluas 1.131,6121 ha itu sah menjadi HGU PT
Pagilaran yang dimiliki oleh Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM
Yogyakarta, para petani yang mukim dan menggarap lahan mendapat
intimidasi dan teror semakin keras.

Puncaknya, pada Juli lalu. Ya itu, peristiwa penangkapan dan
penganiayaan para petani, yang juga buruh PT Pagilaran oleh polisi dan
preman.

Dari informasi yang diperoleh, PT Pagilaran memiliki konsesi HGU
selama 25 tahun sampai 2008. Lahan HGU itu dipakai untuk perkebunan
teh dengan kapasitas produksi 36 ton/hari. Produk PT yang terletak di
lima desa di Kec. Blado Kab Batang, Jateng ini diekspor ke negara
Eropa, Amerika, Jepang dan Timur Tengah. Namun demikian, walau hasil
produksinya diekspor, PT Pagilaran tetap menggaji kecil para buruhnya.
Sekitar 3500 buruh yang dimiliki PT Pagilaran sebagian besarnya
berstatus tenaga harian dengan bayaran Rp 6250 per hari. "Jadi selain
untuk praktek pertanian, PT Pagilaran juga untuk bisnis. Aliran
dananya salah satunya masuk ke rektor UGM," kata Handoko Wibowo SH,
kuasa hukum para petani.

Saat ini, sekitar dua ratus petani tak lagi bisa meneruskan
kehidupannya. Mereka tidak punya rumah apalagi lahan yang bisa mereka
garap. Ratusan anak-anak terlantar sekolahnya. Dusun Pagilaran telah
diisolasi serta dikuasai oleh polisi dan premannya PT Pagilaran yang
milik UGM itu. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@excite.com

- -----------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org