[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

!qrA-->KEN SETIAWAN: MANIS DAN PAHIT: Puisi Tak Terkuburkan




"Hak Azasi Manusia"  di Layar Putih
Festival Film Amnesti Internasional


         Akhir Maret sampai awal April lalu telah berlangsung Festival
Film 
Amnesti Internasional selama sepekan. Diikuti oleh puluhan film pendek
dan 
panjang, walau konon hanya sekitar separoh dibanding tahun lalu,
festival 
ini merupakan yang keempat kali, yang diselenggarakan oleh Amnesti 
Internasional Amsterdam. Untuk membuat sebuah film dengan tema hak-hak

azasi manusia, memang tidak sekedar diperlukan syarat adanya kesadaran

politik dan keterbukaan politik saja. Tapi tidak kurang penting, kalau

bukannya yang paling penting malah, ialah syarat tersedianya dana. Di 
sinilah terletak ironinya. Mereka yang sadar politik, dan siap dengan 
keterbukaan politik, justru kalangan orang-orang yang miskin dengan
dana.
         Festival Film Amnesti Internasional Amsterdam kali ini
berlogo 
sebatang korek api menyala. Sesuai dengan penyelenggara dan jiwa 
penyelenggaraannya, tentu saja film-film yang diputar semuanya bertema

"duka cerita" kejuangan perjuangan hak-hak azasi. Tapi itu tidak harus

diartikan bahwa, di sana kita tidak akan mendengar gelak tawa 
manusia-manusia yang dengan HAM yang tertindas itu. Justru gelak tawa
di 
atas rintih penderitaan, menjadi gelak tawa yang paling murni dan
berarti. 
Karena itulah maka, barangkali semua penonton tak kuasa menahan 
airmata mereka. (Sayang jumlah penonton Indonesia jauh lebih sedikit
dari yang 
non-Indonesia!)
         Empat film Indonesia ikut serta dalam festival ini, salah
satu di 
antaranya film bikinan Garin Nugroho, Penyair. Sebuah film kesaksian 
Ibrahim, penyair tradisional Aceh, selama sepekan dalam bulan Oktober
1965 
menjadi tapol "G30S". Disaksikannya mulai saat dua sel tahanan penuh
dengan 
tapol perempuan, dan laki-laki, bahkan bayi yang masih menyusu, sampai

akhirnya sel itu menjadi kosong, habis penghuninya dieksekusi rombong
demi 
rombong. Ibrahim sendiri tersisa karena, terbukti, ia "salah tangkap".
         Film Penyair selain diputar di Amsterdam, juga di Leiden, 
menyertai presentasi Garin Nugroho dalam seminar yang diselenggarakan
oleh 
IIAS  (International Institute for Asian Studies). Selain empat film
dari 
Indonesia, ada dua dari Timor Timur (The diplomat dan Scenes from an 
occupation), dari Belgrado (A Dog's Life), Afghanistan (Jung - War in
the 
Land of the Mujaheddin), sebuah film panjang Botin de Guerra yang 
mengisahkan "oma-oma dari Plaza de Mayo" yang mencari cucu-cucu mereka
yang 
hilang.
         Di bawah ini catatan Ken Setiawan tentang Penyair.


				MANIS DAN PAHIT

		Garin Nugroho: Puisi Tak Terkuburkan

         Puisi Tak Terkuburkan, sebuah film Garin Nugroho terbaru,
tentang 
orang-orang tahanan yang mengharukan. Dikisahkan tentang kesaksian
Ibrahim, 
penyair Aceh yang, setelah perubahan besar akhir1965 terjadi,
ditangkap dan 
dimasukkan dalam tahanan. Persis seperti banyak orang Indonesia
lainnya 
ketika itu, ia pun ditahan karena dituduh sebagai komunis.
         Film itu sendiri "bermain" di sebuah sel tahanan di Aceh.
Tidak 
menampak langit di luar. Bersamaan dengan gambar-gambar yang
disuguhkan, 
yang dalam hitam-putih itu, film ini justru semakin menjadi berwarna.
Ia 
memberi suasana yang berat murung. Suasana yang sama sekali sesuai
dengan 
kehidupan di dalam sel. Laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh
dinding 
kayu tipis. Mereka saling tahu, bahwa mereka di sana. Tapi mereka tak
bisa 
saling bersapa.
         Puisi Tak Terkuburkan membawa ingatan saya pada film Steven 
Spielberg, Schlinder's List: gambar-gambar hitam-putih, musik yang
lembut 
dan menyentuh, saat-saat yang riang gembira dan muram murung.
Ketakutan 
pada teriakan menyeru nama-nama, karena seruan itu berarti maut! Tapi
juga 
di sana ada kisah-kisah bagaimana dahulu suami bertemu istri dan
begitu 
juga sebaliknya.
         Sel menjadi semakin kosong dan kosong, tetapi juga
suara-suara 
nyanyian lagu-lagu itu. Film ini memperlihatkan kehidupan seperti
adanya: 
manis dan pahit sekaligus.
         Puisi Tak Terkuburkan boleh disebut sebagai sebuah film yang
patut 
diperhatikan.
         Pertama, oleh karena film ini tidak terjadi di Jawa. Aceh,
tempat 
film ini berkisah. Ini memberitakan pada publik, bahwa kekejaman
sekitar 
peristiwa 1965 tidak hanya terjadi di Jawa dan Bali saja. Tetapi juga
di 
mana-mana, di seluruh Indonesia, jatuh korban-korban kekejaman itu.
         Kedua, film memperlihatkan bahwa sampai sekarang orang masih
terus 
dihantui oleh kejadian-kejadian masa lalu. Adegan-adegan di dalam sel 
diputus-putus oleh duka-cerita orang yang memunguti endapan-endapan 
kenangannya, yaitu Ibrahim si penyair.
         Ketiga, Puisi Tak Terkuburkan berkisah tentang tragedi 1965.
Kisah 
yang oleh banyak orang di Barat, tapi lebih penting lagi juga orang di

Indonesia sendiri, hampir tidak tahu apa-apa. Dengan segala 
kesederhanaannya Garin Nugroho memperlihatkan, bagaimana traumatis 
pengalaman para tahanan itu, dan bagaimana hal itu telah terjadi.
         Hampir tidak ada satu keluarga pun di Indonesia yang tidak
terkena 
oleh akibat peristiwa 1965/66. Dengan begitu Nugroho membuka satu
wacana 
yang relevan bagi banyak orang, tetapi juga di mana banyak orang
hampir 
tidak tahu apa pun tentang wacana itu. Suatu wacana yang dianggap sepi
belaka!
         Keberanian untuk membuat film semacam ini saja sudah patut 
diacungi jempol. Garin Nugroho telah membuat film Puisi Tak
Terkuburkan 
lebih dari indah. Sebuah film yang mengharukan dan memperlihatkan
bahwa, 
walaupun kekejaman tahun 1965/66 itu mungkin telah berlalu, namun luka
yang 
ditimbulkannya belum tersembuhkan.


Ken Setiawan


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org