[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: TURUNKAN HARGA!
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
Homepage: Under contruction
E-mail: ekspos@excite.com
Xpos, No 22-30 April 2001
============================================
TURUNKAN HARGA!
Harga barang kebutuhan harian melonjak tinggi. Tiada satupun elit
politisi atau gerakan mahasiswa yang peduli.
Seorang ibu mengeluh di depan kasir kios kebutuhan harian di bilangan
Pasar Minggu, Jakarta. "Waduh, mahal banget. Minggu kemarin saya beli
barang yang sama nggak keluar uang sebanyak ini," kesah sang ibu.
Kasirnya jadi salah tingkah tak enak. Majikannya yang kebetulan ada di
dekat kasir berkilah, "Iya Bu, ini gara-gara rupiah jatuh lagi,
barang-barang jadi naik harganya".
Dari wajah sang majikan, tampak juga ia gusar dengan situasi pasar
yang tak tentu harga. Si ibu pun berlalu dengan menyisakan komat-kamit
keluhan harga. Ibu di Pasar Minggu itu tak sendirian. Mak Amir yang
hidup di pedalaman tepi kota Sibolga, Sumatra Utara, dikabarkan malah
hendak menonjok pedagang beras keliling yang menjaja di kampung Mak
Amir. Bagaimana tidak, harga beras sudah jadi dua kali lipat
sekilonya. Sehari sebelumnya ia bawa uang seribu masih berharap bisa
pulang bawa beras untuk ditanak sehari tambah sedikit sayur dan
sejumput garam. Tapi di hari yang bikin marah itu, uang seribu Mak
Amir tak cukup hanya untuk membeli beras saja. Nah, mau makan apa dia
hari itu?
Balik lagi ke Jakarta, di Pasar Mayestik dekat Blok M, kenaikan harga
barang begitu terasa untuk produk mentega, keju, susu dan kecap.
Mentega merk Blue Band misalnya, naiknya cukup tinggi. Blue Band
sekilo kini harganya sudah Rp 14.500,- padahal minggu lalu Rp 12.000,-
Kecap cap Bango tak kalah meroket harganya, dari Rp 5.000 menjadi Rp
7.000,- per botol. Sementara produk lain seperti susu, bumbu, the
celup, deterjen, dan biskuit rata-rata harganya naik Rp 200,- sampai
Rp 1.000,-
Di berbagai supermaket, harga-harga juga melambung. Menurut salah
seorang pramuniaga Hero Supermarket, harga susu bayi sudah naik sejak
awal Februari lalu. Harga daging juga naik dari Rp 34.000 per kilo
jadi Rp 38.000,- Itu baru daging dalam negeri. Mau tahu harga daging
impor? Jangan kaget, per kilonya Rp 140.000,- kontan. Tak ayal bila
Saleh, salah seorang penjual daging di Pasar Jatinegara tampak mukanya
amat murung. Maklum, daya beli masyarakat turun tajam. Jangankan
belanja daging sapi impor, daging sapi lokal saja tak terbeli. "Kita
sekarang menikmati rasa sapi bukan langsung dari daging sapi, tapi
dari mie instant rasa daging sapi. Yah, rasanya saja, bukan
dagingnya," keluh Saleh.
Kenaikan harga juga menyodok produk-produk kosmetik. Lonjakannya
rata-rata berkisar 40 persen. Harga lipstik Sari Ayu misalnya, naik
dari Rp 12.500 pekan lalu menjadi Rp 17.000. Demikian pula bedak Sari
Ayu harganya naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 14.000,- "Untuk produk
shampoo dan pasta gigi keluaran Unilever sudah sebulan terakhir
harganya naik terus. Katanya sih bahannya ada yang diimpor dan karena
kursnya goyang lagi, harga terpaksa dinaikkan," tutur Yuni (24),
pramu-niaga sebuah grosir kosmetik di Pasar Mayestik.
Kenaikan harga-harga barang memang tak bisa lepas dari runtuhnya nilai
rupiah terhadap dolar. Untuk mengerem kecenderungan naiknya harga di
pasar, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)
Kustarjono Prodjolalito mengusulkan agar pemerintah menghilangkan
sejumlah kendala perdagangan. "Paling tidak, ada tiga faktor yang
menyebabkan cost tinggi, yaitu pemerintah harus memperbaiki sarana
infrastruktur, memangkas kendala birokrasi perizinan dagang serta
instrumen perpajakan," tuturnya. Kustarjono juga menyarankan agar
distribusi lebih banyak dilakukan dengan kereta api daripada truk.
Selain karena lebih efisien dari segi waktu, beban biaya pengirimannya
bisa dipangkas sampai setengahnya. Kendala birokrasi juga dirasakan
saat pelaku ekonomi mengurus izin usaha. Untuk mengurus bidang ritel
saja setidaknya harus melewati 40 meja yang masing-masing rentan KKN.
"Tentu biaya yang bisa mencapai puluhan juta bisa dibebankan pengusaha
kepada konsumen. Paling tidak, dengan banyaknya ritel, persaingan
harga menjadi lebih kompetitif, dan konsumen mempunyai banyak
pilihan," katanya.
Tapi bagaimanapun, menurut Kustarjono, perbaikan semaksimal apapun di
bidang perdagangan, semuanya bisa melempem kalau politik masih kacau.
Ini dibenarkan oleh Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo)
Anton J Supit. Menurutnya keadaan baru bisa diatasi jika para birokrat
dan elit politik bersedia menghentikan pertikaian di antara mereka.
Kata Supit, pertikaian itu cenderung tidak beradab lagi. "Pemerintah
dan elit politik itu hanya mementingkan kepentingan kelompoknya saja.
Itu menunjukkan mereka tidak punya kepekaan terhadap nasib rakyat
banyak," tuturnya. "Yang biasanya punya kepedulian pada rakyat seperti
gerakan mahasiswa pun, tampaknya tak peduli dengan harga yang
melambung ini," tambah Supit.
Supit benar. Isu turunkan harga tidak menjadi prioritas di jalanan dan
di media. Hampir semua politisi mulai dari elit partai hingga aktivis
mahasiswa kurang mengangkat problem riil yang dihadapi masyarakat
sekarang ini. Mestinya memang tuntutan pertama diperjelas, yakni
turunkan harga.***
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org