[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->XPOS: ADA KOPASSUS DI ISU SANDERA




Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
Homepage: Under contruction
E-mail: ekspos@excite.com
Xpos, No 22-30 April 2001
============================================

ADA KOPASSUS DI ISU SANDERA

Kopassus diduga terlibat dalam aksi penyanderaan di Papua. Tapi
Wakasad Mayjen TNI Kiki Syahnakri membantahnya.

Di tengah ketidakpastian nasib para karyawan perushaan HPH PT Karindo
yang diisukan disandera OPM, tersebar isu di masyarakat Papua bahwa
penyanderaan yang terjadi di Asiki Merauke besar kemungkinan ada
rekayasa dari pihak Kopassus. Dugaan itu berkembang karena selama ini
baik pihak penyandera (Willem Onde) maupun pihak yang disandera (PT
Korindo) di Asiki dikenal dekat dengan Kopassus (Satgas Tribuana).
Bahkan ada kabar selama ini, Korindo memberi fasilitas kepada kelompok
Willem Onde sebagai imbalan dalam pengamanan PT Korindo, maksudnya
Willem Onde tidak mengganggu Korindo.

Sementara itu kabar yang diperoleh dari lapangan menunjukkan, bahwa 18
Karyawan PT Korindo yang diisukan disandera TPN/OPM Willem Onde sejak
selasa (16/1) pekan lalu, bernasib baik. Mereka tidak disakiti dan
dalam kondisi baik-baik saja. Bahkan masih menerima makanan layaknya
orang tinggal di kota. Mereka, seperti yang dikatakan kurir Marius
Mare yang dikirim Tim Negosiasi untuk mencari markas Willem Onde dan
sandera, diberi makan \daging dan ikan.

Tiga dari 18 sandera itu adalah warga negara Korea (salah satunya
Dirut PT. Korindo di Asiki). Nama-nama sandera yang sempat diperoleh
antara lain Mr Chun, Mr Lihong,Mr Li Likme, Sugianto, Masalapan,
Fransiskus Jae, Frnsiskus P, Alif Hatar, William Dumatubun, Andi
Sunarto, Samsul Arifin, Markus Rinfaan, Dominikus Haibo, Imanuel,Talib
Bemo, Lamillus Mayu, Meki Korwa dan Maksikunang. Adapun tuntutan
meraka adalah menarik seluruh anggota Brimob di Merauke, maklumat
Kapolda No 2/2000 tentang TPN/OPM dicabut, meminta agar Presiden Gus
Dur segera memberikan kedaulatan Papua Merdeka.

Marius Mare kurir yang diutus oleh Tim Negosiasi untuk menemui pihak
penyandera, Selasa lalu kembali tiba di posko Tim Negosiasi di Asiki,
setelah berhasil menemukan markas sementara pihak penyandera di Kamp
56. Marius Mare mengatakan, kondisi 18 sandera sampai saat ini dalam
kondisi baik dan tinggal di sebuah gubuk yang cukup besar dan tidak
ada yang sakit. Demikian pula suplay bahan makanan juga lancar. Bahkan
para sandera masih dapat menikmati makanan dengan lauk ikan dan
daging. "Saya belum berhasil menemui Onde, tapi saya berhasil tiba di
markas sementara yang di gunakan Onde untuk menyekap para sandera.
Kondisi sandera dalam keadaan baik dan semuanya sehat. Tidak ada yang
kekurangan makanan," ujar Marius.

Menurut pengakuan Marius, kegagalan dia bertemu dengan pimpinan
penyandera bukan karena Willem Onde engan menemuinya atau melarikan
diri, apalagi sembunyi, tapi konon karena Onde sedang dipanggil
mendadak oleh Panglima Tertinggi TPN/OPM Bernadus Mawen yang bermarkas
di PNG.  Menurutnya, sandera belum dilarikan keperbatasan dan hanya di
larikan melewati rawa-rawa ke Kamp 56. Menurut informasi, Onde
melarikan sandera dari Kamp 59 Ke Kamp 56, karena melihat sejumlah
personel anggota Brimob bersentaja lengkap mendekati Kamp 59.

Tim negosiasi ini antara lain Wakil Bupati Merauke dr Benyamin
Simatumpang MPh, Danrem 172/PWY SK Ginting munthe, Asintel Kodam
XVII/Trikora Kolonel Inf Armyn Toni, Damdim 1707/Merauke Letkol Inf
Youdi Suwastono dan Kapolres Merauke Ajun Komisaris Besar Polisi
(AKBP) YA Mulyono. Dari Tokoh Agama diwakili Pastor Kis De Roy, Tokoh
Adat Ketua Umum LMA Kecamatan Jair Philipus Yame dan anggotanya
Ponsian Rusbini.

Namun isu keterlibatan Kopassus dalam kasus penyanderaan ini dibantah
keras oleh Wakil KSAD Mayjen Kiky Syahnakri. Ia mengatakan tak mungkin
Kopassus bermain api dengan melakukan penyanderaan.

Satu tahun terakhir, Presidium Dewan Papua memang seakan-akan menjadi
satu-satunya simbol perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Padahal,
sesungguhnya, riwayat perjuangan kemerdekaan Papua tak pernah bisa
dipisahkan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kelompok paramiliter
yang pernah memiliki struktur komando lengkap, dan sempat menguasai
Jayapura serta sejumlah kota kabupaten di Irian lainnya. Hanya karena
gempuran terus-menerus dari TNI, yang membuat kelompok ini terpental
ke hutan-hutan di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Garangnya hutan
Papua membuat gerak mereka terbatas dan jalur koordinasi OPM menjadi
tidak terpusat. Anggota kelompok gerilyawan itu seperti berjuang
sendiri-sendiri. Akibatnya, hampir setiap komandan pasukan menyebut
dirinya sebagai Panglima OPM Papua Barat. Akibat lainnya, OPM seperti
hanya berdiri di pinggir saat tuntutan kemerdekaan bergaung keras di
seantero Papua belakangan ini. Mereka tidak dilibatkan di dalam
Presidium Dewan Papua.

Dan, bukan saja tak dilibatkan. Satu dua tahun terakhir ini sayap
militer separatisme Papua itu bahkan dituding sebagai binaan TNI dan
dihidupi oleh Markas Besar TNI di Jakarta. Salah satu tokoh OPM yang
ikut dituding sebagai binaan Jakarta adalah Kolonel Willem Onde, yang
kerap disebut sebagai Panglima OPM meski sebetulnya wilayah yang
dikuasinya hanya Merauke. Onde dituding sebagai piaraan TNI dan dibina
untuk mengacaukan perjuangan kemerdekaan rakyat Papua. "Itu omong
kosong dari elit Papua yang mau mengadu rakyat dengan pejuang. Saya
sudah berjuang di hutan sejak 1976," kata Willem Onde membantah isu
tersebut. ***


=============================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur:
Kirimkan alamat e-mail Anda
Kalau berminat berlangganan hardcopy XPOS,
kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@excite.com

- ---------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org